Menu ✖

Mode Gelap
Seluas Tiga Hektar Lahan Sawit di Desa Butas Bagu Pedalaman Nunukan Terbakar di Tengah Malam Nyaris Hangus Terbakar, Kebakaran Gedung LVRI Nunukan Berhasil Dipadamkan   Siapkan Atlet Unggulan, PBFI Nunukan Yakin Mendulang Emas di Porprov Kaltara 2026 Sawah Seluas 3 Hektar Milik Warga Pedalaman Lumbis Terbakar, BPBD Nunukan Imbau Masyarakat Tak Buka Lahan dengan Membakar Tukang Urut di Nunukan Membungkus Rapat Jasad Ibunya Dengan Lapisan Kain, Ditemukan Setelah Sepekan Dalam Kondisi Membusuk Perkuat Sinergitas dan Kebersamaan, Bupati Nunukan Hadiri Acara Kenal Pamit Kapolda Kaltara

Nunukan

Harga Rumput Laut Nunukan Mencapai Rp 31.000/Kg, Upah Pengikat Bibit Naik, Jumlah Produksi Ikut Terdongkrak

badge-check


					Ibu ibu sedang mengikat bibit rumput laut untuk budi daya. Perbesar

Ibu ibu sedang mengikat bibit rumput laut untuk budi daya.

NUNUKAN, infoSTI – Harga komodity rumput laut jenis cottony di Nunukan, Kalimantan Utara, menunjukkan gairah signifikan dengan kenaikan harga yang mencapai Rp 31.000/Kg.

Kenaikan harga, disambut antusias para pembudi daya yang sempat gantung tali. Mereka berlomba turun ke laut dan ramai melakukan penanaman.

Ketua Koperasi Rumput Laut ‘Mamolok Sejahtera’, Nunukan Selatan, Kamaruddin menuturkan, kenaikan harga terjadi sejak awal 2026.

‘’Januari 2026 itu harga masih Rp 13.000/Kg, terus merangkak naik perlahan, dan Agustus 2026, harga di kisaran Rp 29.000 sampai Rp 31.000/Kg di wilayah Mamolok,’’ ujarnya, Kamis (20/8/2026).

Kenaikan harga rumput laut, tentu mendongkrak upah para pengikat benih. Mereka yang tadinya dibayar Rp 8.000/Kg menjadi Rp 12.000/tali.

Biasanya, tukang ikat bibit mampu menyelesaikan 10 sampai 15 tali dalam sehari, dengan penghasilan sekitar Rp 120.000.

‘’Produksi kita ikut naik juga, kalau biasanya sebulan Rp 2500 ton saat ini bisa lebih 5000an ton yang dikirim ke Surabaya dan Sulawesi Selatan,’’ kata Kamaruddin.

Ia menjelaskan, kenaikan harga rumput laut, dipengaruhi oleh sejumlah faktor.

Yang pertama hukum pasar, karena saat ini, daerah lain kurang produksi, sementara permintaan membeludak, baik dari dalam maupun luar negeri.

Kondisi ini menguntungkan pembudidaya rumput laut Nunukan dengan wilayah yang dikategorikan tanpa musim/non zom.

Yang kedua, kemungkinan ada pengaruh kenaikan kurs dolar.

‘’Tugas kita menaikkan grade kekeringan rumput laut. Masalahnya, masyarakat butuh uang cepat, jadi mereka tetap jual meski agak basah. Biar kadarnya 40, tetap mereka jual. Padahal kalau keringnya 36, 35, harganya jauh lebih mahal,’’ katanya.

Kamaruddin menambahkan, kenaikan harga rumput laut memiliki pengaruh signifikan dalam perputaran ekonomi di perbatasan RI – Malaysia.

Kendalanya, masyarakat pesisir kekurangan lantai jemur, dimana masalah ini berimbas pada kualitas dan kadar kekeringan rumput laut yang bisa menambah nilai rupiah.

Padahal, imbuh Kamaruddin, keberadaan lantai jemur cukup memiliki potensi ekonomi.

‘’Masyarakat kalau menyewa lantai jemur, itu bayar Rp 1000/kg. lumayan kalau ada yang menyewakan,’’ kata dia.

‘’Kalau seandainya Pemda mau beri bantuan, lantai jemur menjadi atensi dari para pembudidaya rumput laut,’’ tuturnya.

Facebook Comments Box

Trending di Nunukan