NUNUKAN, infoSTI – Even perlombaan olahraga yang digelar masing masing Cabang Olahraga (Cabor), kurang menarik minat massa dan tak memberi dampak signifikan bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Nunukan, Kalimantan Utara.
Seyogyanya, sebuah even kejuaraan bisa menarik penonton yang berimbas pada perputaran ekonomi, kepuasan masyarakat dan menambah semangat atlet dalam hal prestasi.
Perlu adanya sebuah inovasi dan solusi, mengatasi persoalan yang sebenarnya simple, terlebih, saat kondisi fiscal di hampir semua wilayah dituntut prihatian dengan efisiensi anggaran.
‘’Kalau boleh saya sarankan, alangkah baiknya mengadakan even akbar yang bisa menggerakkan ekonomi masyarakat, khususnya pelaku UMKM. Jadi ada kolaborasi antara dunia olahraga Nunukan dan dunia usaha,’’ ujar Anggota DPRD Nunukan, Adama, Rabu (12/8/2026).
Ia mencontohkan, even akbar tersebut seperti mengadakan kejuaraan semua Cabor dalam satu waktu. Lokasi ditentukan dengan memilih yang strategis, menampung banyak space jualan, mencukupi untuk tempat berkumpul massa, dan dibuat skema yang sekiranya mampu menarik minat masyarakat.
Dalam hal ini, KONI maupun KORMI selaku induk olahraga di Nunukan berpeluang menambah kas perbendaharaan dengan memberlakukan tiket masuk, dan menjalin kemitraan dengan banyak instansi yang bermuara pada pemasukan kas daerah (PAD).
‘’Ini dilakukan Pemerintah Kabupaten Malinau. Mereka menggelar perlombaan olahraga di satu waktu dan di tempat yang strategis. Jadi sangat ramai sekali, disana penjual UMKM hidup, dan perputaran ekonomi terjadi,’’ urainya.
Ini belum lagi bagi Pramuka, untuk Organisasi Kepemudaan seperti KNPI dan lainnya.
‘’Jadi tinggal dibagi saja waktunya. Kalau seperti itu konsepnya, terjadilah sebuah penghematan anggaran, terjadi sebuah arus kas daerah.
Selain manfaat ekonomi, masyarakat juga menjadi semakin kompak dan toleran dengan perbedaan. Seringnya pertemuan menjadikan silaturahmi semakin erat, dan rasa persaudaraan kian rekat.
‘’Selama ini kita menggelar even masing masing. Tidak akan ramai dan kurang menarik minat masyarakat. Ditentukan saja, contoh, kalau KONI bulan September, KORMI Oktober, Pramuka November, KNPI Desember. Jadi berkelanjutan, dan masyarakat Nunukan bisa menikmati hiburan sembari wisata kuliner,’’ kata Adama.











