Menu

Mode Gelap
Apresiasi Perekrutan Pemuda Dayak Sebagai TNI, DPRD Nunukan Berharap Kodim 0911 Programkan TNI Mengajar Narasi Larangan Buka Lahan dengan Membakar, ‘Arogansi Intelektual’ yang Mendiskreditkan Masyarakat Adat Dayak HUT TNI AL 81, LANAL Nunukan Perkuat Sinergy Bersama Masyarakat Pesisir Kodim 0911 Nunukan Lakukan Perekrutan Khusus Suku Dayak Untuk Calon Anggota TNI Lansia 63 Tahun Tinggal di Rumah Kayu Lapuk Tapi Terdata Sebagai Desil 6-10, Anggota DPRD Nunukan Meradang Tergoda Khasiat Minyak Lintah, Pelajar SMP di Nunukan Malah Jadi korban Cabul Oknum PPPK

Advertorial

Anggaran Bagi Cabor Berprestasi Selalu Minus, DPRD Nunukan Minta KONI Tak Jadikan Atlet Sebagai Pengemis

badge-check


					Atlet Kempo Nunukan saat berlaga di Piala Bupati Malinau Cup 2026. Dok. Mansur. Perbesar

Atlet Kempo Nunukan saat berlaga di Piala Bupati Malinau Cup 2026. Dok. Mansur.

NUNUKAN, infoSTI – Anggota DPRD Nunukan, Kalimantan Utara, Muhammad Mansur, meminta KONI Kabupaten Nunukan agar memiliki managemen anggaran yang baik dan manusiawi agar tak setiap tahunnya menjadikan proposal permohonan anggaran sebagai budaya dan tradisi yang dipupuk subur.

Hal ini dikatakan Mansur, pasca membacakan Rancangan KUA PPAS Perubahan 2026 dan Kesepakatan KUA PPAS 2027, dalam rapat paripurna yang digelar Senin (10/8/2026).

‘’KONI menganggarkan atlet Kempo kita Rp 20 juta. Atlet kita berangkat dengan biaya orang tua dan donatur. Sebuah keadaan tak pantas dan mengecewakan, sementara mereka berjuang membawa nama Kabupaten Nunukan,’’ ujar Mansur, di hadapan peserta Rapat Paripurna.

Kekecewaan Mansur membuncah dan menjadi amarah ketika mendapat kabar bahkan honor Sensei, seluruhnya diikhlaskan untuk para atlet.

Bagaimana tidak, anggaran Rp 20 juta yang diberikan KONI, untuk atlet Kempo Nunukan yang bertanding di Kejuaraan Bupati Malinau Cup 2026, bahkan tidak cukup untuk transportasi bagi 17 atlet dan 5 official.

Belum lagi jika menghitung biaya penginapan, carter mobil dari penginapan ke lokasi turnamen yang mencapai Rp 1.350.000 per unit.

‘’Kita belum bicara konsumsi, vitamin atlet. Jangankan bicara reward bagi atlet, anggaran saja tidak manusiawi begitu. Mereka dipaksa sebar proposal, minta minta anggaran. Miris saya lihat ini. Atlet kita dibiarkan minta minta macam pengemis. Padahal yang mereka perjuangkan nama Kabupaten Nunukan,’’ kata Mansur lagi.

Seharusnya KONI sebagai organisasi inti olahraga, sudah berhitung dan memiliki kalkulasi yang tepat dan terdokumentasi.

Namun yang terjadi, kekurangan anggaran atlet yang berjuang mengharumkan Nunukan justru menjadi tanggung jawab KONI malah menjadi beban orang tua.

‘’Seharusnya KONI punya urat malu. Atlet itu salah satu investasi SDM. Kita mau atlet yang berprestasi mulai SD, SMP dan SMA bisa kuliah gratis sebagai apresiasi. Ini malah memotong jalan mereka, membunuh semangat mereka,’’ kata Mansur.

‘’Maka tak heran kenapa banyak atlet Nunukan memilih pindah ke luar Nunukan. Perbaiki kinerja KONI, jangan menghamburkan anggaran untuk satu Cabor Olahraga, sementara Cabor lain terpaksa mengemis anggaran,’’ tegasnya.

DPRD segera panggil KONI

Mansur menegaskan, kasus seperti ini nyaris menjadi kasus tahunan tanpa solusi.

KONI seakan tak pernah berbenah dan tak memiliki pendataan akurat untuk setiap kebutuhan Cabor, sehingga merasa anggaran Rp 20 juta itu sudah sangat besar.

‘’Faktanya, untuk tiket saja kurang. Bagaimana menghadapi Porprov Kaltara nanti. Komisi 2 DPRD Nunukan akan segera memanggil KONI untuk masalah transparansi anggaran hibah lebih Rp 2 miliar itu. Kalau tak bisa menjelaskan, bagus dibekukan saja KONI,’’ kata Mansur lagi.

Sekilas tentang Kempo Nunukan

Sensei Kempo Nunukan, Ismail mengatakan, masalah anggaran minim menjadi persoalan berkepanjangan yang seakan tak pernah ada solusi.

Di Kabupaten Nunukan, hampir semua Cabor menyebarkan proposal permohonan bantuan dana menjelang berangkat untuk pertandingan.

Padahal, kata Ismail, seharusnya Cabor berprestasi menjadi prioritas sehingga semangat dan mental atlet lebih terasah dan kian tangguh.

‘’Tapi memang begitu yang terjadi. Anggaran ini kurang kurang. Orang tua atlet lagi kita kumpulkan, donatur lagi kita andalkan. Entah kapan masalah ini selesai,’’ sesalnya.

Ismail menegaskan, olahraga yang ia bina, bisa dikatakan salah satu olahraga tertua di Nunukan. Kempo di Nunukan berdiri sejak 1973 yang saat itu dilatih oleh Suprayitno.

Tahun 1974, Ismail mulai andil melatih atlet, dan berhasil menyabet berbagai kejuaraan, hingga meraih medali emas di PON Samarinda 2008 melalui atlet Kempo putri, Isna Suryani.

Selanjutnya, tahun 2011 di Sea Games Jakarta – Palembang, atlet Kempo Nunukan membawa pulang medali perak.

Tahun 2012, masih melalui aksi Isna Suryani, Nunukan kembali meraih perak di PON Riau.

Pada Sea Games di Myanmar 2013, Isna Suryani menyabet medali perak karena kalah dengan tuan rumah.

Lalu tahun 2015, Isna lagi lagi meraih perak pada kejuaraan Taikai di Todatsu, Jepang.

Sejak itu, sudah jarang ada event turnamen, sehingga kiprah Kempo, seakan terhenti begitu saja. Hanya ada pertandingan skala lokal yang kerap diikuti.

Terakhir, pada 6 – 8 Agustus 2026, pada kejuaraan lokal di Malinau, atlet Kempo Nunukan membawa pulang 4 medali emas, 3 perak dan 5 Perunggu.

‘’Saya masih ingat dulu ketua KONI Nunukan, Haji Mansur, rela menggadaikan hartanya untuk Cabor. Saat itu tidak ada keluhan atlet masalah anggaran. Semoga masa seperti itu bisa kembali, dan atlet Nunukan terus Berjaya mengharumkan nama Kabupaten Nunukan,’’ harapnya.

Ismail berpesan pada Pemda Nunukan, khususnya bagi KONI, sudah sepantasnya atlet menjadi prioritas, terutama atlet yang selalu mengibarkan bendera merah putih diatas podium.

‘’Bagi negeri ini, yang pantas mengibarkan sang merah putih hanya tentara dan atlet. Jadi tidak ada alasan atlet disia siakan tanpa penghargaan,’’ tegas Ismail.

Facebook Comments Box

Trending di Advertorial