Menu

Mode Gelap
Cerita Perjuangan Anak Nunukan Menjelang Porprov Kaltara 2026, Adama : Mimpi Diraih dengan Usaha Gigih Tanpa Mengeluh Listrik Byarpet di Nunukan, Masyarakat Beramai Ramai Mengeluh di Medsos, Ratusan Ayam Ternak Mati Rapat Anggaran Hibah, DPRD Nunukan Minta Laporan Harus Rigid dan Detail Penghematan Anggaran, DPRD Usulkan Even Akbar Olahraga yang Mampu Menghidupkan UMKM Jelang Peringatan 81 Tahun Indonesia Merdeka, Masyarakat Perbatasan RI – Malaysia Hanya Ingin Jalanan yang Layak Anggaran Bagi Cabor Berprestasi Selalu Minus, DPRD Nunukan Minta KONI Tak Jadikan Atlet Sebagai Pengemis

Advertorial

Cerita Perjuangan Anak Nunukan Menjelang Porprov Kaltara 2026, Adama : Mimpi Diraih dengan Usaha Gigih Tanpa Mengeluh

badge-check


					Tim Bola Sepak Nunukan yang akan bertanding untuk Porprov Kaltara 2026. Dok.Adama. Perbesar

Tim Bola Sepak Nunukan yang akan bertanding untuk Porprov Kaltara 2026. Dok.Adama.

NUNUKAN, infoSTI – Even Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) Kaltara, menyimpan banyak kisah perjuangan anak anak muda Nunukan, terutama mereka yang ikut seleksi tim sepak bola.

Mereka yang berasal dari pedalaman, rela menguras kantong mereka demi ikut seleksi dan meraih mimpi untuk mencatatkan nama mereka sebagai salah satu anak daerah yang mampu mengharumkan nama Nunukan yang merupakan salah satu wilayah perbatasan negara.

Anak anak muda dari pedalaman Sembakung, dari Pulau Sebatik, Seimanggaris hingga Lumbis, dengan semangat membara tak perduli berapa uang yang harus mereka keluarkan agar bisa masuk seleksi tim Persatuan Sepakbola Nunukan/PSN.

Mereka tak mengeluh ketika harus menyusuri jalur darat, melanjutkan perjalanan menyeberang sungai dan mengarungi laut. Di benak mereka, mimpi harus dikejar, tanpa harus mengeluh.

‘’Kalau mau meraih mimpi memang harus berpijak pada peribahasa ‘berakit rakit ke hulu, berenang renang ke tepian. Bersakit sakit dahulu, bersenang senang kemudian’. Itu yang kita tanamkan, dan tentunya jangan pernah mengeluh,’’ ujar Anggota DPRD Nunukan, Adama, yang juga menjabat sebagai salah satu Pembina Tim Sepakbola Nunukan.

Anak anak pedalaman, memiliki tekad dan karakter yang keras, lugas serta pantang menyerah, tiga modal utama untuk unjuk diri dalam pertandingan skill di sepak bola.

Kita semua di Nunukan bisa membayangkan, berapa biaya yang mereka habiskan untuk naik angkutan ke pelabuhan, membayar ongkos kapal menyeberang ke Nunukan. Itu belum untuk membeli makan dan sewa penginapan.

Pernah ada anak muda Krayan yang ikut seleksi, namun karena kendala dalam transportasi dan geografis saat ini, anak tersebut terpaksa mundur dari seleksi.

‘’Kami hanya bisa membantu sebisa kami. Masalah konsumsi atau tempat menginap, Insyaalloh bisa kita usahakan, kita tak boleh memadamkan cita cita dan semangat mereka, apalagi mereka datang ke kota dengan mandiri,’’ tutur Adama.

Saat ini, ada 22 pemuda Nunukan yang sudah terpilih dalam seleksi. Untuk mengakali dan menekan biaya sekecil mungkin, Tim seleksi dan pelatih, hanya sesekali memanggil mereka datang ke Nunukan Kota untuk mematangkan strategi dan membekali mereka tentang kekompakan dan arti persaudaraan.

Di balik perjuangan dan tekad mereka, lanjut Adama, ada sebuah jalinan persaudaraan yang tercipta, anak anak dari berbagai suku dan agama, menjadi padu dan semakin menghargai perbedaan.

‘’Baik anak anak yang dari pedalaman atau tinggal di kota saling berkunjung untuk latih tanding. Tak ada jarak karena persaudaraan tercipta di lapangan. Mental mereka kita matangkan sehingga semaksimal mungkin bermain ciamik di lapangan,’’ kata Adama.

Kisah ini, ia angkat untuk memberi gambaran betapa tak mudahnya meraih mimpi. Perjuangan anak anak perbatasan memang terkendala biaya dan geografis, namun itu adalah batu kerikil untuk mencapai tujuan.

‘’Jadi memang tak mudah menggapai mimpi. Buktikan diri, bawa pulang medali, dan yang paling penting, jangan mudah mengeluh,’’ pesannya.

Facebook Comments Box

Trending di Advertorial