Menu

Mode Gelap
Respon Pernyataan Warga Perbatasan Tak Mau Rayakan Kemerdekaan, Bupati Nunukan Rayakan HUT RI 81 di Krayan Cerita Edy Santri, Warga Nunukan yang Setiap Tahun Sisihkan Uang Untuk Beli Bendera Merah Putih dan Dibagikan ke Masyarakat Kabur Setelah Menipu Tiga Petani Rumput Laut Lebih Rp 180 juta, Sansan Diamankan di Bandara Soetta Tangerang Curi Komponen Mobil yang Akan Direparasi, Dua Residivis di Nunukan Kembali Dicokok Polisi Korsleting Mesin Pompa BBM di Sebatik, Api Membakar Teras Rumah dan Mobil Jelang HUT RI 81, LAPAS Nunukan Usulkan Pengurangan Masa Pidana Bagi 5 Tahanan Anak dan Remisi Bagi 982 WBP

Nunukan

Cerita Edy Santri, Warga Nunukan yang Setiap Tahun Sisihkan Uang Untuk Beli Bendera Merah Putih dan Dibagikan ke Masyarakat

badge-check


					Edy Santri, warga yang selalu menyisihkan uang untuk membeli bendera merah putih dan dibagikan ke warga setiap Agustus. Dok.Edy. Perbesar

Edy Santri, warga yang selalu menyisihkan uang untuk membeli bendera merah putih dan dibagikan ke warga setiap Agustus. Dok.Edy.

NUNUKAN, infoSTI – Tudingan masyarakat perbatasan RI – Malaysia kurang nasionalis, merupakan tuduhan yang keluar dari mulut orang tak mengenal sulitnya bertahan hidup dari segala sesuatu yang serba terbatas.

Ucapan tersebut, diucapkan oleh Edy Santri, salah satu warga Nunukan, Kalimantan Utara, saat membagikan bendera merah putih kepada warga di wilayah wilayah pelosok terpencil agar tetap mengibarkan sang merah putih di momen HUT RI 17 Agustus.

‘’Kadang aku miris saat momen Agustusan. Masa aku saja yang hidup pas pasan mampu membelikan bendera dengan kumpul dana mandiri, tapi mereka ygng notabene abdi negara, malah cenderung abai dengan momentum peringatan HUT Kemerdekaan negara sendiri,’’ ujarnya, ditemui Minggu (16/8/2026).

Edy memiliki rutinitas tahunan menyisihkan uangnya khusus untuk membeli bendera merah putih dan diniatkan berbagi untuk masyarakat yang tinggal di daerah kurang terpantau dan tinggal jauh dari tetangga lainnya.

Ia menuturkan, masyarakat di perbatasan RI – Malaysia sampai hari ini masih memiliki keluhan mengenai tak meratanya pembangunan, kurangnya guru, tenaga kesehatan, bahan pangan yang masih bergantung dengan Malaysia, dan seabrek permasalahan yang butuh perhatian negara.

Di dataran tinggi Krayan misalnya, masyarakat meneriakkan protes dengan menyatakan tak mau ikut merayakan HUT RI karena akses jalan yang terputus akibat cuaca buruk, mengakibatkan hidup semakin sulit dan harga kebutuhan kian melangit.

‘’Kondisi yang terjadi bertahun tahun, sejak Indonesia merdeka. Wajar mereka protes dan itu hak mereka. Kalau ada yang mengatakan mereka kurang nasionalis, cobalah hidup disana, rasakan sendiri, jangan hanya bicara,’’ kata Edy.

‘’Saya seribu persen yakin, saudara kita di Krayan, jauh lebih nasionalis ketimbang mereka yang hidup di kota dan nyinyir menakar nasionalisme mereka,’’ tegasnya.

Kabupaten Nunukan, memiliki sejumlah wilayah dengan geografis unik, ada yang hanya bisa dijangkau dengan pesawat terbang perintis seperti Krayan, ada yang hanya bisa menggunakan kapal kayu melewati arus sungai deras dengan tantangan jiram yang membahayakan nyawa seperti halnya wilayah Lumbis.

Edy menegaskan hidup dengan kondisi tersebut sangatlah tak mudah. Sampai hari ini masih banyak warga perbatasan yang belum menikmati listrik juga jaringan internet.

‘’Di Krayan, orang sakit masih ditandu belasan kilometer naik turun gunung menuju fasilitas kesehatan. Mereka belum merasakan Keadilan Social Bagi seluruh Rakyat Indonesia,’’ sesalnya.

Membandingkan permasalahan beranda negeri dengan bahasa ‘warga perbatasan kurang nasionalis’, hati Edy terbakar emosi, dan melampiaskannya dengan cara elegan, yaitu menyisihkan uang untuk membeli bendera dan dibagikan ke warga untuk dikibarkan.

‘’Setidaknya itu bisa meringankan sakit hati akibat tudingan tak nasionalis,’’ katanya.

Upayanya ini, dimulai sejak 2021, sampai hari ini. Tahun ini, Edy membeli 81 bendera, jumlah yang sama dengan usia NKRI.

Dalam seminggu, Edy mengaku menyisihkan Rp 20.000 khusus untuk beli bendera. Tapi tahun ini, karena banyak pengeluaran, uang yang terkumpul hanya Rp 960.000.

‘’Saya beli bendera antara Rp 20.000 sampai Rp 25.000 per lembar. Kekurangannya lebih Rp 700.000 saya ambil jatah belanja istri. Itu masalahnya, pasti istri manyun karena jatah belanjanya kurang,’’ kelakarnya.

Ia kembali menegaskan, baginya yang berpenghasilan pas pasan, melihat bendera yang ia bagikan terpasang di tiang rumah warga dan berkibar gagah, adalah sebuah kepuasan batin tersediri.

Ia tak menampik saat ini, banyak suara masyarakat tak puas dengan kebijakan yang tak pro rakyat. Kendati demikian, ia berharap masalah tersebut tak mengurangi kecintaan terhadap negeri.

‘’Saya memaklumi kalau ada yang kecewa dengan beberapa kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat. Tapi jangan sampai kekecewaan kepada pemerintah mengurangi rasa cita kepada negara,’’ kata Edy.

‘’Yang kita peringati adalah negeri yang diperjuangkan Pahlawan, bukan menghormati pejabat yang memperkaya diri. Semoga pada 81 tahun kemerdekaan ini, Indonesia bangkit, menjadi negeri Baldatun Toyyibatun Warobbun Ghofur,’’ tutup Edy.

Facebook Comments Box

Trending di Nunukan