Menu

Mode Gelap
Belasan Tahun Menanti Uang Ganti Rugi, Warga Berharap Pemda Nunukan Tak Abaikan Potensi Konflik Sosial Panen Durian di Pulau Sebatik, Dibeli dengan Harga Murah Tapi Dijual Mahal di Malaysia Polisi Amankan Pencuri dan Penadah Ban Truk Milik PT KHL 43 Warga Pemilik Lahan Kembali Ancam Buka Paksa Pintu Embung Lapri, Pemkab Nunukan Minta Waktu Sampai 10 Juli 2026 Update Perkara Korupsi Koperasi PNS ‘Sejahtera’ Nunukan, Polisi : Bakal Ada Tersangka Baru Naikkan Kasus Dugaan Investasi Bodong ke Penyidikan, Polres Nunukan Periksa 18 Pelapor

Nunukan

Panen Durian di Pulau Sebatik, Dibeli dengan Harga Murah Tapi Dijual Mahal di Malaysia

badge-check


					Puluhan plastik buah durian yang akan dikirim ke Tawau Malaysia melalui Pulau Sebatik. Dok.Asdar. Perbesar

Puluhan plastik buah durian yang akan dikirim ke Tawau Malaysia melalui Pulau Sebatik. Dok.Asdar.

NUNUKAN, infoSTI – Panen buah durian di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, menjadi destinasi wisata tahunan yang selalu menarik minat masyarakat di perbatasan RI – Malaysia untuk menikmati durian langsung di areal kebun.

Terlebih di musim liburan anak sekolah saat ini, Pulau Sebatik menjadi tujuan wisata masyarakat.

Mereka menyeberang menggunakan speed boat ataupun perahu ketinting, dengan tujuan berpesta durian bersama keluarga.

Tak jarang para petani durian mempersilahkan pengunjung menikmati durian sampai kenyang secara gratis, namun untuk buah yang dibawa pulang, diharuskan membayar.

Hampir setiap tahun, buah durian di Pulau Sebatik melimpah. Banyak pengepul durian ikut berburu, khususnya varian mentega dan susu, untuk dikirim dan dijual di Malaysia.

‘’Sekarang durian Sebatik dibeli Rp 8.600 atau dua ringgit sekilo, tapi sampai Malaysia dijual sepuluh ringgit,’’ tutur salah satu petani durian di Desa Bukit Harapan, Resa, Selasa (7/7/2026).

Biasanya, para pengepul durian akan membawa mobil pikap maupun truk untuk berburu durian ke rumah rumah para petani.

Mereka akan membayar berapapun jumlah durian yang siap jual. Selanjutnya, membawanya ke Malaysia menggunakan speed boat maupun kapal kayu, karena perdagangan tradisional masih berlaku di wilayah perbatasan ini.

‘’Harga jual di Malaysia jauh lebih mahal karena biaya kapal, bbm dan ongkos kirim. Itu kenapa disini murah, disana (Malaysia) mahal,’’ jelas Resa.

Resa mengaku hanya memiliki puluhan pohon durian dan mengaku cukup bagi keluarganya untuk memenuhi kebutuhan harian dari hasil penjualan buah durian.

Dengan jumlah pohon yang tak terlalu banyak seperti tetangganya yang memiliki ratusan pohon dan meraup rupiah lebih banyak, Resa masih mampu berbagi dengan sanak keluarganya yang tinggal di luar Pulau Sebatik.

Durian sebanyak puluhan kilo ia gratiskan untuk keluarga, dengan niat berbagi dan mempererat silaturahmi.

‘’Jangan juga semua dijual, dijadikan uang. Ada juga sebagian untuk kita dan keluarga kita nikmati. Kalau bisa menjaga hubungan dengan keluarga, tidak kurang juga kita dibagi rejeki sama Tuhan,’’ kata dia.

Musim durian di Pulau Sebatik, biasanya berlangsung hingga dua bulan lamanya.

Buah durian yang melimpah ini akan berbeda harga ketika dikirim ke luar pulau. Jika di Pulau Sebatik, kita masih bisa menikmati durian dengan harga Rp 20.000/Kg, di Nunukan Kota, harganya sudah Rp 25.000 – Rp 30.000/Kg.

‘’Kendalanya kita ini menanam pohon durian bersamaan dengan kelapa sawit. Dua duanya butuh air banyak dan harus mengalah salah satu. Kebanyakan masyarakat, menebang duriannya karena kalah dengan sawit,’’ kata Resa.

Facebook Comments Box

Trending di Nunukan