NUNUKAN, infoSTI – Belasan anak TKI yang bekerja sebagai buruh perkebunan kelapa sawit Malaysia, harus mempersiapkan diri sejak Subuh, agar tak terlambat menuju sekolahnya di SDN 005 Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara.
Mereka berombongan berangkat menuju sekolah dengan jarak lebih 10 Km dari mess perusahaan Teck Guan yang selama ini menjadi tempat tinggal mereka sekeluarga.
Jauhnya jarak menuju sekolah, bukan menjadi kendala dalam menimba ilmu. Dengan riang gembira, mereka berjalan beriringan, naik turun bukit dengan penuh canda, bertutur pengalaman lucu di setiap hari yang mereka lalui.
Tawa mereka, menutupi keluh kesah tentang sulitnya medan yang mereka lalui, tentang bekal nasi bungkus yang biasanya mereka makan ramai ramai saat berhenti sejenak melepas lelah.
Bagi mereka yang sudah kelas 5 atau 6 SD, mungkin jarak tempuh 10 km tak berarti karena sudah terbiasa. Tapi tentu berbeda dengan anak anak yang masih kelas 1, 2 dan 3. Rasa penat mereka tentu lebih terasa menyiksa.
Kondisi ini pula yang menjadi alasan bagi sebagian anak anak TKI Malaysia, putus sekolah dan memilih bekerja membantu orang tuanya.
Menyikapi fenomena ini, Kapolres Nunukan, AKBP Ruslaeni meminta personelnya untuk melakukan penjemputan dengan mobil Sabhara.
‘’Selagi bisa kita bantu, kita lakukan sebisanya. Mobil Sabhara kita siapkan di patok perbatasan, menjemput serta mengangkut mereka menuju sekolah. Setidaknya itu membantu memangkas jarak bagi mereka,’’ ujarnya, Sabtu (29/8/2026).
Ruslaeni menegaskan, setiap anak bangsa, memiliki hak pendidikan yang sama. Meski kondisi mereka berbeda, dan memiliki tantangan juga hambatan yang berbeda beda, namun menjaga semangat belajar mereka, adalah sebuah keharusan.
Terkadang, banyak TKI yang tak mementingkan sekolah. Paham tersebut menular ke anaknya, sehingga pola fikir demikian, butuh diubah.
Anak anak TKI juga seringkali memilih berhenti sekolah ketika sudah merasakan menerima gaji dari memungut kernel sawit, menyiangi rumput di sekitar pohon kelapa sawit, dan mengangkut TBS sawit ke jalan utama untuk diangkut truk.
Terlepas dari itu semua, Ruslaeni melihat langsung betapa dari wajah anak anak TKI Malaysia ini, terpancar semangat dan tekat untuk belajar. Setiap tapak kaki kecil mereka membuktikan itu semua.
‘’Beberapa anak anak TKI putus sekolah, mungkin faktor jarak dan ajakan orang tua untuk bekerja saja. Ini tentu butuh perhatian serius dari para stake holder,’’ imbuhnya.
Ia melanjutkan, Polres Nunukan akan terus mencoba yang terbaik dalam memastikan belasan anak anak TKI tersebut menamatkan sekolahnya.
Para personel polisi juga diminta untuk terus menyuntikkan semangat belajar dan nasionalisme bagi anak anak.
Polisi diminta menceritakan kisah kisah heroik yang edukatif, dengan tujuan menyalakan semangat dalam menuntut ilmu.
‘’Dan tentunya butuh kolaborasi dengan Pemda, khususnya Dinas Pendidikan. Kondisi di perbatasan negeri merupakan masalah kita semua,’’ tegasnya.
Polres Nunukan, telah menghadap Bupati Nunukan, Irwan Sabri, untuk melaporkan hasil patroli dan upaya polisi di patok batas Sebatik.
Hasilnya, Pemkab Nunukan bersedia menambahkan mobil gardan ganda sebagai tambahan transportasi anak anak TKI tersebut menuju sekolah.
‘’Tambahan mobil dari Pemda Nunukan tentu sangat membantu. Mereka tak berdesakan dan semoga tambah semangat pergi ke sekolah ditemani bapak bapak polisi,’’ kata dia.
‘’Jadi anak anak itu ada yang diantar juga sampai patok batas negara. Dari sana, polisi ambil alih. Kita naikkan ke mobil dan kita antar menuju sekolah,’’ tutur Ruslaeni.











