NUNUKAN, infoSTI – Hujan lebat dengan kilatan petir disertai angin kencang yang terjadi di dataran tinggi Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara, Kamis (16/7/2026) sore, menimbulkan banyak kerusakan dan kerugian.
Peristiwa tersebut, terekam oleh sejumlah kamera Hp warga. Terdengar teriakan ngeri sejumlah ibu ibu yang menyaksikan langsung betapa angin kencang menerbangkan atap atap bangunan di wilayah Long Bawan, Krayan.
Camat Krayan, Rony Firdaus menuturkan, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 16.30 wita.
‘’Angin kencang yang menimbulkan kerusakan terjadi sekitar tiga puluh menit kemarin sore. Tiga wilayah terdampak, masing masing, Long Bawan, Long Katung, Long Butan,’’ ujarnya, dihubungi Jumat (17/7/2026).
Laporan yang sudah masuk ke kantor kecamatan, kerusakan terjadi di Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Long Bawan, Puskesmas, salah satu unit bangunan Satgas Pamtas TNI AD, dan banyak rumah warga.
Ia menuturkan, mayoritas kerusakan terjadi pada bagian atap dan kayu reng.
Saat hujan deras dengan kilatan petir terjadi, hembusan angin kencang membuat banyak warga Krayan panic dan histeris.
Mereka menyaksikan banyak atap bangunan tercabut bersama kayunya, dan diterbangkan cukup jauh oleh hempasan angin.
‘’Pagi tadi kira gotong royong membersihkan puing puing kerusakan bekas terpaan angin. Total kerugian material masih dalam proses pendataan sehingga belum dapat diperkirakan,’’ jelasnya.
Pihak Kecamatan juga sudah melaporkan peristiwa tersebut ke BPBD Nunukan, berharap ada bantuan pemerintah, terlebih ada fasilitas ibadah yang rusak.
Lebih separuh atap seng terbongkar, kayu reng patah dan butuh renovasi segera.
Rony menambahkan, musim penghujan, menjadikan Krayan seakan akan wilayah terisolasi. Kondisi jalanan menjelma lumpur tebal yang sulit dilewati bahkan oleh mobil gardan ganda sekalipun.
Pemandangan masyarakat menggali jalan untuk mengeluarkan mobil dari jebakan lumpur, menjadi pemandangan lumrah dan rutin saat hujan terjadi.
Jalanan yang biasanya hanya ditempuh hitungan jam, harus dilewati berhari hari. Supir, kenek dan penumpang, bahkan seringkali bermalam di tengah hutan akibat akses jalan yang buruk.
Imbasnya, harga BBM naik, ongkos transportasi menjadi dua kali lipat, dan pasokan Sembako terhambat.
‘’Dukungan anggaran, material bangunan dan bantuan lain sangat diperlukan untuk mempercepat proses pemulihan pasca bencana di wilayah terdampak,’’ kata Rony lagi.











