Menu

Mode Gelap
Ironi Perbatasan Negeri, Orang Sakit Ditandu Ramai Ramai Naik Turun Bukit, Dibawa ke Pustu Butuh Waktu 8 Jam Pemandangan Awal Masuk Sekolah di Pulau Sebatik, Sekolah Kebanjiran, Sejumlah Murid SD Dipanggul Masuk Sekolah Ini Hasil 10 Hari yang Diminta Pemda Nunukan Saat Masyarakat Sebatik Mengancam Membuka Paksa Pintu Embung Lapri Awal Juli 2026 Prajurit Kodim 0911/Nunukan Padamkan Kebakaran di Rumah Seorang Security RSUD Nunukan Puluhan Tahun Jalanan Krayan Berkubang Lumpur, Janji Pembangunan Dari Pelosok Hanya Sebatas PHP Tertabrak Mobil Saat Belok ke Toko Sembako, Seorang Lansia Pengendara Motor di Pulau Sebatik Terpental Hingga Tewas

Kaltara

Ironi Perbatasan Negeri, Orang Sakit Ditandu Ramai Ramai Naik Turun Bukit, Dibawa ke Pustu Butuh Waktu 8 Jam

badge-check


					Masyarkat Krayan menandu orang sakit menembus hutan naik turun bukit. Tradisi ini berlangsung lama akibat nihilnya akses jalan yang layak. Perbesar

Masyarkat Krayan menandu orang sakit menembus hutan naik turun bukit. Tradisi ini berlangsung lama akibat nihilnya akses jalan yang layak.

NUNUKAN, infoSTI – Pemandangan orang sakit yang ditandu beramai ramai akibat nihilnya akses jalan layak, kembali terjadi di Desa Wa’ Yagung, dataran tinggi Krayan, salah satu wilayah pelosok pedalaman Nunukan, Kalimantan Utara.

Peristiwa tersebut, diunggah di medsos oleh salah satu warga Krayan, dengan caption yang menegaskan bahwa masyarakat perbatasan RI – Malaysia ini anti mengeluh, namun menagih janji keadilan, sebagaimana yang tercantum dalam sila kelima Pancasila.

Camat Krayan Timur, Marjuni mengatakan, kejadian masyarakat Krayan yang gotong royong, beramai ramai menandu orang sakit, menembus jalanan hutan dan naik turun bukit tersebut, terjadi di Desa Wa’ Yagung, Krayan Timur, Jumat (10/7/2026).

‘’Unggahan tersebut, adalah salah satu cara masyarakat kita yang mulai faham fungsi medsos. Mereka ingin menunjukkan fakta sebenarnya dari kondisi Krayan. Salah satunya betapa ironinya nasib mereka ketika ada warga yang sakit dan butuh pertolongan medis,’’ ujar Marjuni, dihubungi Senin (13/7/2026).

Marjuni menuturkan, sejak dulu, masyarakat Desa Wa’ Yagung dan Bungayan di Krayan Timur, hanya mengandalkan tandu untuk membawanya berobat ke Pustu yang ada di Long Umung.

Jalanan di daerah tersebut, tak layak disebut jalanan, karena setiap kali musim penghujan, jalanan menjelma lumpur dalam yang bahkan menenggelamkan setengah body mobil gardan ganda.

Kendati demikian, tradisi gotong royong masih demikian lestari, sehingga, setiap ada warga Wa’ Yagung atau Bungayan yang harus dibawa ke Pustu untuk berobat, masyarakat kompak meninggalkan semua pekerjaannya, dan bergantian mengusung tandu mendaki dan menuruni bukit, menembus hutan belantara demi membawa keluarganya ke fasilitas kesehatan memadai.

‘’Kalau kemarin, yang ditandu itu Ibu Dayang, istri Bapak Harison Warga Wa’ Yagung. Ibu Dayang jatuh di sawah, beliau ada sakitnya yang kambuh sehingga harus ditandu untuk dibawa pulang. Jarak sawah ke rumah, itu sekitar satu jam jalan kaki,’’ tutur Marjuni.

Adapun Pustu atau Puskesmas Pembantu yang ada di Long Umung, berjarak belasan kilometer dan biasanya ditempuh sekitar 8 jam perjalanan.

Jangan bayangkan jalanan yang mudah dilewati kendaraan. Jalan di Wa’ Yagung, merupakan perbukitan yang penuh ngarai dengan kontur tanah lembek yang sulit dilewati kendaraan.

‘’Hasil kebun dan hasil pertanian sulit terjual. Dengan akses yang demikian sulit, berapa banyak masyarakat bisa bawa ke kota. Biaya perjalanan jauh lebih mahal dari pada hasil buminya,’’ sesalnya.

Keterisoliran Krayan, masih menjadi ironi dimana warga perbatasan negara seakan diabaikan dan dibiarkan dalam kondisi mengenaskan.

Sampai hari ini, masyarakat yang sakit masih harus ditandu beramai ramai dengan perjalanan hampir sehari.

Tentu saja si sakit berpotensi meninggal dunia di jalan karena terlambat mendapat penanganan medis, dimana kondisi tersebut sudah sering terjadi di wilayah ini.

Marjuni menegaskan, dari komunikasnya dengan masyarakat Wa’ Yagung, unggahan medsos tersebut, menjadi harapan masyarakat Krayan akan kehadiran pemerintah, sekaligus mempertanyakan kandungan sila kelima Pancasila.

Masyarakat perbatasan RI – Malaysia ini mengingatkan bahwa negara wajib menjamin setiap warga negaranya untuk mendapatkan pendidikan, pekerjaan, dan penghidupan yang layak, bermartabat, dan berkeadilan.

Sejak di bangku sekolah dasar, seluruh WNI diajarkan cinta tanah air. Dan bagi negara, segala pengambilan keputusan senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan persatuan.

Perwujudannya harus dalam semangat hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan untuk mewujudkan keadilan.

‘’Dan keadilan inlah yang terus diminta masyarakat kita di perbatasan. Masyarakat Krayan butuh perhatian dan solusi dari pemangku kebijakan negeri ini,’’ kata Marjuni menyampaikan harapan warganya.

Facebook Comments Box

Trending di Kaltara