NUNUKAN, infoSTI – Anggota DPRD Nunukan, Muhammad Mansur, mempertanyakan alasan dibalik hilangnya anggaran Program Sister School oleh TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah) di tahun 2026.
‘’Harusnya anak anak pelajar kita sudah berangkat untuk sistem pertukaran pelajar. Usut punya usut, anggarannya dicoret oleh TAPD,’’ ujarnya, Senin (22/6/2026).
Mansur menyesalkan kebijakan yang menurutnya tidak melihat betapa penting program ini bagi anak anak perbatasan negara.
Sebagai anggota DPRD Nunukan, Mansur mengaku sudah memperjuangkan program ini sejak 2024.
Iapun bernafas lega ketika 2025, program dengan nilai anggaran sekitar Rp 300 juta ini mulai berjalan dan memberikan wawasan dan pengetahuan lebih luas bagi anak anak sekolah perbatasan yang selama ini terkungkung lingkungan serba terbatas dan kurang memahami realitas daerah dan dinamika kehidupan di kota besar.
‘’Apa salahnya kita memberikan mereka sebuah dunia baru. Mereka di perbatasan ini, berangkat sekolah banyak yang kesulitan. Ada yang mengayuh ketinting, lepas sepatu karena jeleknya jalanan,’’ urainya.
‘’Dengan sister school, anak anak kita berkesempatan melihat kehidupan anak anak sekolah perkotaan. Merasakan sistem pendidikan yang diterapkan sekolah degan fasilitas yang mumpuni,’’ imbuhnya.
Begitu pulang ke kampung, mereka dengan antusias menceritakan pengalaman mereka. Menyampaikan bagaimana pendidikan di sekolah yang mereka kunjungi.
Bahkan tidak sedikit mereka membuat rangkuman pengalamannya, membacakan di depan teman temannya, serta berharap sekolahnya bisa menerapkan metode ajar dan sarana prasarana yang belum ada di sekolahnya.
‘’Pendidikan juga butuh referensi dengan melihat dunia lain melalui sekolah unggulan di kota besar. Kalau program ini dicoret, apakah TAPD menganggap pembangunan SDM tak penting. Hanya berkutat pembangunan infrastruktur yang muaranya proyek dan proyek,’’ sesalnya.
Mansur mewakili Fraksi Nasdem menegaskan, program sister school memiliki banyak sekali keuntungan. Diantaranya, membangun kemitraan antarsekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Hal ini memberikan manfaat nyata, seperti memberikan pengalaman nyata bagi murid sehingga menambah luas pengetahuan mereka, membuka peluang pertukaran pelajar, serta memperkenalkan wawasan global dan budaya baru kepada siswa.
Di bidang pembangunan SDM, kita perlu memperkaya metode pembelajaran melalui kolaborasi antar sekolah. Anak anak kita bertumbuh dengan toleransi dan pemahaman lintas budaya.
‘’Inilah yang kami dari Fraksi Nasdem pertanyakan. Lebih penting mana pembangunan infrastruktur dan pembangunan SDM. Mereka (anak anak SD dan SMP) kita jatah Rp 300 juta saja setahun, itupun sudah hilang sekarang,’’ kata dia.











