NUNUKAN, infoSTI – Demam Piala Dunia 2026, menjadi ajang pelampiasan cemburu dan curhat bagi sejumlah wilayah di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara.
Sebagian wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini, belum teraliri listrik PLN, meski jaraknya tak jauh dari Pusat Kabupaten Kota Nunukan.
Saat di tempat lain terdengar sorak sorai warga yang mengelu elukan jagoannya di even akbar Piala Dunia 2026, sebagian warga di Sebatik, hanya bisa menonton siaran ulang melalui telfon genggam dalam diam.
Menurut Kepala Desa Setabu, Muksin, terdapat beberapa daerah yang belum pernah merasakan listrik PLN di Pulau Sebatik. Masing masing, Kampung Tebol dan Kampung Telang di Kecamatan Sebatik Tengah.
Kampung Mantikas, Bebatu, Tembaring dan Kebakil, di Kecamatan Sebatik Barat.
‘’Belum ada tiang listrik PLN, jadi masyarakat di lokasi yang belum ada listrik menggunakan genset, sebagian lampu carger,’’ ujar Muksin, dihubungi Jumat (19/6/2026).
Ia merincikan, ada sekitar 10 KK di wilayah Mantikas, sebanyak 1 KK dan sekolah madrasah di bawah YIPS (Yayasan Islam Indonesia Pulau Sebatik). Sebanyak 60 KK di wilayah Kebakil dan sebanyak 45 KK di wilayah Bebatu yang belum pernah merasakan listrik PLN.
‘’Masyarakat selalu memasukkan usulan ini (sambungan listrik PLN) setiap Musrenbang. Hanya janji janji saja sampai sekarang,’’ keluhnya.
Ketua RT 10 wilayah Bebatu, Bonifasius, mengaku sudah 40 tahun lebih menanti aliran listrik PLN, namun hingga hari ini, ia terus saja mengeluarkan uang untuk bensin demi menghidupkan genset mulai pukul 18.00 – 06.00 wita.
Dengan harga bensin murni Rp 15.000/liter atau bensin campur mencapai Rp 20.000/liter, Boni harus mengeluarkan uang lebih Rp 50.000 sehari demi menikmati cahaya lampu di malam hari.
‘’Saya tantang PLN, kami mau bayar dua kali lipat tagihan PLN perbulannya kalau memang itu saratnya,’’katanya lantang.
Nihilnya listrik di Kampung Bebatu, membuat warga kesulitan beraktifitas di malam hari. Pengeluaran untuk beli bahan bakar diesel kian membengkak di tengah kenaikan harga BBM serta melejitnya harga pangan.
Nominal tersebut belum dihitung untuk BBM motor yang digunakan mengantar anak sekolah, atau pergi ke perkebunan kelapa sawit yang menjadi rutinitas mayoritas warga Bebatu.
‘’Bahkan warga saya, warga RT 10 Bebatu itu banyak yang sewa rumah di bawah. Mereka juga rela sewa tanah,bayar Rp 400.000 sampai 500.000 sebulan buat pondokan asal ada listrik demi anak anak bisa belajar,’’ tutur Boni.
Demikian pula di saat musim Nonton Bareng (Nobar) Piala Dunia 2026, banyak warga Bebatu menempuh jarak 5 km, bergabung dengan banyak warga lain di warkop atau rumah warga yang menggelar Nobar.
Boni menegaskan, masyarakat di wilayahnya, minim hiburan. Sebagian waktu mereka dihabiskan bekerja di tengah perkebunan kelapa sawit atau melaut dan mengurusi rumput laut.
‘’Kita butuh juga namanya hiburan. Tapi kalau belum ada listrik, biar badan capek asal hati senang, jarak jauh tetap terpaksa kita lewati ikut nonton ramai ramai,’’ tuturnya.
‘’Resikonya paling besok kesiangan berangkat kebun. Kami terus berharap bisa menikmati listrik. Itulah kenapa saya katakan, kalau memang kami harus bayar lebih mahal dua kali lipat atau bahkan tiga kali lipat, kami akan bayar itu PLN,’’ kata Boni melampiaskan kekecewaan akibat belum tersalurnya listrik ke wilayahnya.
Sementara itu, Kepala PLN Rayon Nunukan, Rendra Alfian, meski tak menjelaskan kapan listrik PLN bisa dinikmati di sejumlah wilayah Pulau Sebatik yang belum pernah merasakan listrik PLN, ia mengatakan, sudah ada progress untuk pemasangan jaringan listrik pada 2027 untuk Kampung Tebol.
‘’Untuk Kampung Tebol, tim kami sudah lakukan survey lokasi dan kajian di Bulan Februari kemarin dan sudah masuk roadmap desa berlistrik. Rencana dilistriki sesuai roadmap tahun 2027,’’ jawabnya.











