Menu

Mode Gelap
Prihatin Nasib Anak Sekolah di Tapal Batas, Pemda Nunukan dan TNI Gotong Royong Bangun Jembatan Darurat Harga Sembako di Perbatasan RI – Malaysia Alami Kenaikan Imbas Melemahnya Nilai Tukar Rupiah Inflasi Tahunan Nunukan Sebesar 2,03 Persen, Kelompok Perawatan Pribadi Mencatatkan Kenaikan Tertinggi Cerita Murid Sekolah Tapal Batas, Nekat Seberangi Sungai Banjir Demi Ujian Semester, Nikmati MBG di Pinggir Kali Karena Jembatan Ambruk Tiga Peristiwa Kebakaran Terjadi Mengawali Juni 2026 di Nunukan Sebanyak 123 Desa di Kaltara Belum Teraliri Listrik, Terkendala Wilayah Terisolasi dan Geografis Ekstrem

Kaltara

Prihatin Nasib Anak Sekolah di Tapal Batas, Pemda Nunukan dan TNI Gotong Royong Bangun Jembatan Darurat

badge-check


					Jembatan darurat menuju MI Darul Furqon selesai dibangun secara gotong royong. Dok.Adnan Lolo. Perbesar

Jembatan darurat menuju MI Darul Furqon selesai dibangun secara gotong royong. Dok.Adnan Lolo.

NUNUKAN, infoSTI – Perjuangan anak anak Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Furqon, Desa Sei Limau, Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, yang nekat menyeberangi sungai banjir demi ikut ujian semester, menggerakkan banyak pihak untuk membuat jembatan darurat.

Kalangan pengusaha, menyediakan eskavator, menyumbangkan sejumlah kayu dan papan. Masyarakat setempat urunan BBM, pegawai kecamatan dan Kantor Desa bersama Satgas Pamtas RI – Malaysia Yonkav 13/SL bergotong royong agar pembangunan jembatan lekas rampung.

Hanya dalam hitungan jam, jembatan kayu darurat yang bahkan bisa dilewati kendaraan, akhirnya terbangun.

‘’Jadi keberadaan jembatan di jalan menuju MI Darul Furqon memang sangat urgen. Tak hanya bagi anak anak sekolah, karena di kawasan tersebut, terdapat perkebunan kelapa sawit masyarakat yang bersambung hingga wilayah Malaysia,’’ ujar Camat Sebatik Tengah, Aris Nur, dihubungi Rabu (3/6/2026).

Untuk menuju MI Darul Furqon, terdapat sungai yang berkelok dan ada sejumlah jembatan yang saat ini menjadi fokus perhatian.

Kejadian jembatan ambruk pada awal Juni 2026, merupakan kejadian kesekian kalinya. Sehingga butuh mitigasi dan antisipasi kejadian serupa agar tak terulang.

‘’Pada dasarnya, Pemda Nunukan sudah menyiapkan anggaran untuk pembangunan jembatan saat jembatan pertama ambruk akibat banjir tahun lalu,’’ kata Aris.

‘’Besok, kami bersama BPBD dan Dinas PU segera melakukan survey berapa banyak jembatan dan apakah memungkinkan untuk dibangun jembatan baru. Kita pastikan dulu,’’ imbuhnya.

Aris melanjutkan, lokasi MI Darul Furqon, hanya berjarak sekitar 600 meter dari Malaysia. Mayoritas murid madrasah, memang anak anak TKI dan tinggal di dalam kamp kamp perkebunan kelapa sawit yang berjarak cukup jauh dari sekolah.

Musim hujan, menjadi kendala utama bagi anak anak sekolah dimaksud.

Selain jarak, akses jalan yang licin dan terjal, kerap menjadi alasan anak anak absen dan memilih membantu orang tuanya bekerja memanen kelapa sawit.

‘’MI Darul Furqon sebenarnya memiliki asrama bagi murid. Tapi hanya sebagian mau tinggal di asrama, sisanya pulang balik Indonesia – Malaysia,’’ jelasnya.

Guru dan murid MI Darul Furqon menyeberangi sungai pasca jembatan menuju sekolah ambruk akibat banjir. Dok.Adnan Lolo.

Terpisah, Kepala Sekolah MI Darul Furqon, Adnan Lolo mengatakan, pagi ini, murid murid sekolah masih berangkat dengan menyeberangi sungai dengan kondisi arus lebih deras ketimbang kemarin.

Masih banyak anak anak yang digendong orang tuanya untuk diseberangkan, yang kadang membuat orang tua kehilangan semangat membiarkan anaknya tetap sekolah.

‘’Kalau anak anak tetap semangat bersekolah. Orang tuanya yang mengeluh. Kita tahu bagaimana kondisi sekolah di perbatasan. Serba kekurangan, jaraknya jauh, dan saya pribadi juga selalu berjuang untuk merekrut murid setiap tahun,’’ kata Adnan.

Kondisi ini, kata Adnan, tentu membutuhkan kebijakan berbeda dari sekolah kebanyakan. Pihak sekolah harus memiliki toleransi tinggi terhadap keterlambatan anak, atau bagi anak anak yang absen dan belum ikut ujian semester.

‘’Kita usahakan ujian susulan bagi sejumlah murid kami yang tak masuk karena ambruknya jembatan. Yang penting menjaga semangat mereka untuk sekolah dulu. Masalah lainnya, jangan disamakan dengan aturan baku sekolah negeri,’’ katanya lagi.

Adnan menegaskan, murid murid MI Darul Furqon, memiliki semangat pantang menyerah yang kerap menjadi spirit bagi para guru.

Dalam keadaan sulit dan kekurangan sekalipun, tawa canda mereka tak pernah lepas dari bibir.

‘’Saya sudah katakan, ujian guru di perbatasan memang tidak ringan. Kami berangkat sering belepotan tanah, motor selip, tapi kami tetap berusaha memberikan anak anak kami pelajaran,’’ tuturnya.

Terbangunnya jembatan darurat, dikatakan Adnan, menjadi bantuan besar yang pastinya akan kembali memunculkan senyum bagi murid muridnya.

‘’Jangan sampai mereka sudah berangkat pagi buta dari Malaysia, lantas kecewa karena tidak belajar. Jadi kami guru dan murid, sama sama berjuang. Insyaalloh ilmu yang diperoleh juga berkah,’’ tutupnya.

Facebook Comments Box

Trending di Kaltara