NUNUKAN, infoSTI – Ketersediaan Minyak Goreng di perbatasan RI – Malaysia, sudah menipis di tengah gejolak kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah yang berkepanjangan.
Bahkan Minyakita yang biasanya menjadi pilihan akhir bagi warga Kabupaten Nunukan, kini sulit dijumpai di pasaran.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perdagangan dan Perindustrian (DKUKMPP) Nunukan, Dior Frames mengatakan, saat ini, terjadi kenaikan harga minyak goreng sekitar 10 persen dari biasanya.
“Selain faktor gejolak global, stok di agen dan toko yang ada di Nunukan juga kosong. Yang dijual saat ini adalah stok lama,” ujarnya, ditemui Kamis (23/4/2026).
Kondisi saat ini, lanjut Dior, dipastikan memiliki efek domino yang segera merambat ke banyak sektor.
Seluruh produk makanan yang menggunakan minyak goreng akan ikut naik. Apalagi, harga plastik dan Sembako juga perlahan mengalami kenaikan.
Jika biasanya masyarakat perbatasan RI – Malaysia masih bisa mengandalkan produk Malaysia ketika harga barang lokal naik, kini mereka hanya bisa mengeluh dan mengelus dada.
Bagaimana tidak, kurs Ringgit Malaysia juga mengalami kenaikan dari 2025 yang masih Rp 3600/RM 1, menjadi Rp 4300/RM 1 di 2026.
“Mau mengandalkan minyak Malaysia, justru lebih mahal. Kita berusaha menghubungi agen minyak curah di Jawa Timur, tapi belum mendapat respon sampai sekarang,” keluhnya.
Dior menambahkan, pemesanan minyak goreng medium maupun premium kemasan ke Surabaya atau daerah lain, mengalami kendala yang tak ringan.
Para produsen dan suplier, kini berfokus pada pemenuhan kuota ekspor yang lebih menjamin perputaran uang lebih cepat.
“Dan kita sangat kesulitan mendapat kuota minyak goreng. Dari Sulawesi, dari Surabaya, semua jawabnya sama. Mengutamakan eksportir dulu,” kata Dior lagi.
Dari pemantauan harga pasar yang dilakukan DKUKMPP Nunukan, harga minyak goreng Minyakita kemasan 1 liter yang biasa dijual Rp 15,700 naik menjadi Rp17.000 – Rp 18.000. Namun saat ini, stok MinyaKita, sudah sulit ditemukan.
Sedangkan minyak goreng Malaysia, yang biasanya dijual Rp 20.000 per liter, kini dibanderol Rp 23.000.
“Semua naik, termasuk biaya pengiriman laut atau udara yang dibebankan ke harga barang. Di sisi lain, produksi minyak dalam negeri juga turun sekitar 30 persen,” jelasnya.
“Saat ini, bahkan pengiriman barang via udara dari Bandara Nunukan ke Bandara Krayan juga naik Rp 100.000. Tarif normal Rp 1,5 juta, jadi Rp 1,6 juta,” kata Dior.











