Menu

Mode Gelap
Orang Kota Ribut Kenaikan Harga Barang, Kami di Perbatasan RI – Malaysia Memilih Diam Menelan Kekecewaan Pemkab Nunukan Pastikan Pasokan BBM Aman, Meski Banyak Pembelian Gunakan Jerigen Hadiri RPJMD dan Deklarasi Kolaborasi CSR di Jakarta, Hermanus : Harapan Percepatan Pembangunan di Kaltara SPPG Baru di Nunukan Selatan Dibuka, Masyarakat Boleh Kritik, Tapi Bukan Lewat Medsos Api Berkobar Selama 3 Jam di Perkebunan Warga di Mansapa, Nunukan Selatan, Lebih 2 hektar Lahan Hangus Terbakar Bimtek Kurikulum Berbasis Cinta, Dorong Penguatan Karakter Pendidikan di Nunukan

Kaltara

Orang Kota Ribut Kenaikan Harga Barang, Kami di Perbatasan RI – Malaysia Memilih Diam Menelan Kekecewaan

badge-check


					Mobil gardan ganda pengangkut Sembako terjebak di jalan berlumpur di Krayan. Akses utama di wilayah tersebut selalu menjelma lumpur saat musim penghujan sehingga berakibat kenaikan biaya kirim dan harga kebutuhan pokok. Dok.Oktafianus Ramli. Perbesar

Mobil gardan ganda pengangkut Sembako terjebak di jalan berlumpur di Krayan. Akses utama di wilayah tersebut selalu menjelma lumpur saat musim penghujan sehingga berakibat kenaikan biaya kirim dan harga kebutuhan pokok. Dok.Oktafianus Ramli.

NUNUKAN, infoSTI – Musim penghujan di dataran tinggi Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara, menjadi ujian yang tak pernah berakhir.

Jalan di pelosok Indonesia yang berbatasan darat langsung dengan Malaysia ini, selalu menjelma lumpur yang menenggelamkan hampir seluruh ban mobil.

Pemandangan mobil terjebak lumpur, supir dan penumpang menginap di hutan. Hingga teriakan masyarakat yang memecah sunyi saat mencoba mengeluarkan mobil dari jebakan lumpur, menjadi pemandangan rutin yang belum berubah sampai hari ini.

‘’Ketika orang orang kota ribut karena naiknya harga BBM dan barang kebutuhan. Kami di pelosok ini sudah bosan berteriak,’’ ujar Camat Krayan Selatan, Oktafianus Ramli, dihubungi Selasa (21/4/2026).

Oktafianus, mengirimkan sebuah video sejumlah mobil gardan ganda yang mengangkut Sembako, terjebak di jalanan berlumpur yang selama ini menjadi akses satu satunya di wilayah pedalaman tersebut.

Terlihat orang orang bermandikan lumpur cipratan ban mobil. Meski sulit, mereka tak pernah mengeluh dan terus mencoba menarik mobil yang tak bisa jalan tersebut, satu persatu.

Bukan makian, umpatan maupun keluhan yang keluar dari mulut mereka, justru ayat ayat Al Kitab yang menjadi bahan obrolan meski kadang sesekali mereka tertawa.

‘’Kami capek teriak. Kita semua tahu, saat harga bahan pokok naik dan orang kota mengeluh, di Krayan, sejak dulu bahan pokok sudah mahal. Akses sulit menjadi faktor utama, dan kami merasa sudah sangat keras berteriak tapi kurang didengar,’’ kata Okta lagi.

Di Krayan, tutur Okta, BBM diangkut dengan kuota sekitar 1 ton melalui udara dalam sepekan.

Jumlah yang jauh dari kata cukup, sehingga masyarakat tetap mengandalkan pasokan barang kebutuhan dari Malaysia.

Jika dibandingkan dengan barang lokal, barang Malaysia memang jauh lebih murah, dan jaraknya juga lebih dekat.

Sementara barang Indonesia, harus didatangkan ke Krayan lewat udara, dan harganya tidak lebih murah dari barang barang Malaysia.

‘’Tapi sekarang kurs Ringgit naik. Kita warga Krayan makin tercekik. Barang Indonesia mahal, Malaysia juga mahal, akses jalan sulit dilewati. Meski capek teriak, harapan kami untuk didengar tak pernah hilang,’’ kata Oktafianus lagi.

Saat ini, harga bensin Malaysia dibeli dengan harga mulai Rp 30.000 hingga Rp 45.000, tergantung jarak.

Harga Sembako juga rata rata naik Rp 10.000 dari harga normal. Ia mencontohkan, harga gula pasir yang biasanya Rp 20.000/Kg, kini dijual Rp 30.000/Kg. Minyak goreng juga dijual Rp 30.000/liter.

Bahkan untuk LPG, masyarakat Krayan juga menggunakan LPG 14 Kg produk Petronas Malaysia.

Kalau dulu, harga LPG refill Malaysia bisa didapat dengan harga tak sampai Rp 300.000, saat ini LPG dibeli dengan harga paling murah Rp 700.000 hingga Rp 800.000.

‘’Semua barang masih berpotensi naik. Kita tahu gejolak global akibat perang, membuat itu terjadi. Apalagi, nilai kurs ringgit naik menjadi Rp 4300/RM 1,’’ kata Oktafianus.

Facebook Comments Box

Trending di Kaltara