Menu

Mode Gelap
Gadis 11 Tahun di Nunukan Disetubuhi Ayah Tiri, Alami Pendarahan di Sekolah, Ibu Kandung Tak Perduli Tak Diberi Uang, Seorang Laki Laki di Nunukan Mengamuk dan Berupaya Menikam Istrinya dengan Badik Kuota BBM Untuk Petani dan Nelayan Disoal, DPRD Nunukan Minta Validasi Data Untuk Dibawa ke BPH Migas Bensin Malaysia Dianggap Sebagai Salah Satu Faktor Penghambat Penambahan Kuota BBM, Anggota DPRD Angkat Bicara Dipercaya Untuk Jualkan 62 Karung Rumput Laut, Laki Laki di Nunukan Tilap Uang Hasil Penjualan Untuk Foya Foya Krisis BBM Untuk Petani dan Nelayan Nunukan, DPRD Minta Pemda Perkuat Data dan Turun Lapangan

Kaltara

Jelang Nataru, Harga Cabai Rawit di Nunukan Mulai Melonjak Naik

badge-check


					Ilustrasi : Bupati Nunukan, Irwan Sabri saat memantau stok dan harga komoditi pasar jelang Nataru. Dok.Prokopim Nunukan. Perbesar

Ilustrasi : Bupati Nunukan, Irwan Sabri saat memantau stok dan harga komoditi pasar jelang Nataru. Dok.Prokopim Nunukan.

NUNUKAN, infoSTI – Jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026, harga cabai mulai melonjak naik.

‘’Dari pantauan di pasar pasar tradisional Nunukan, komoditi pasar yang naik baru cabai rawit. Dari yang tadinya Rp 60.000 sekarang menjadi Rp 80.000 per kilogramnya,’’ ujar Kabid Perdagangan pada Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Kabupaten Nunukan, Dior Frames, ditemui Selasa (16/12/2025).

Kenaikan cabai, disebabkan stok yang mulai menipis, karena selama ini, mayoritas sayur mayur dan Sembako untuk Kabupaten Nunukan, didatangkan dari Sulawesi Selatan dan sejumlah daerah lain, bahkan dari Malaysia.

Pengiriman, menggunakan kapal laut, sehingga ketika ada kapal doking atau cuaca di laut tidak bagus, keterlambatan pengiriman barang menjadi alasan harga naik di pasaran.

‘’Sementara stok masih aman saja dan mencukupi. Kecuali kalau tiba tiba ada lonjakan pembelian, penimbunan atau panic buying. Untuk sekarang, stok aman, kapal datang sesuai jadwal,’’ jelas Dior.

Dior menambahkan, kenaikan harga cabai, sebenarnya menjadi keuntungan bagi petani cabai lokal di Nunukan.

Kondisi cabai yang masih fresh, membuat harga cabai lokal lebih mahal ketimbang cabai Sulawesi.

‘’Kalau cabai lokal lebih mahal karena lebih fresh. Harganya Rp 100.000 per kilogramnya. Tapi masalahnya, ketersediaan cabai lokal Nunukan itu sifatnya insidentil. Jadi hanya ada ketika musim panen,’’ imbuhnya.

Meski sudah mengalami kenaikan sekitar Rp 20.000 dibanding harga awal, potensi kenaikan harga cabai rawit masih akan terjadi.

Sebagaimana dikatakan Dior, momen Nataru menjadi alasan atas kondisi tersebut.

‘’Potensi kenaikan harga cabai rawit masih ada. Kapal dari Sulawesi itu berhenti berlayar di 29 Desember 2025 dan kembali berlayar tanggal 1 Januari 2026. Artinya ada rens (celah) sekitar 4 hari. Dan saat itulah potensi kenaikan harga biasanya terjadi,’’ lanjutnya.

Sedangkan untuk harga komoditi Sembako, Dior mengatakan, penjualan di pasar dan agen, masih di batas harga normal dan standar.

Hasil pantauan petugas di pasar pasar tradisional, beras medium dibanderol Rp 14.000 – Rp 14.500/kg, sementara yang premium di kisaran Rp 16.000 – Rp 16.200/kg.

Tepung, dibanderol Rp 10.000 – Rp 11.000. dan untuk tepung merk Segitiga Biru, harganya Rp 13.000/kg.

‘’Yang stoknya berkurang mungkin minyak goreng ya. Pemkab Nunukan sedang menyalurkan Bansos untuk warga miskin. Dan stok minyak goreng di agen jauh berkurang. Tapi secara umum, ketersediaan Sembako masih aman,’’ kata Dior.

Facebook Comments Box

Trending di Kaltara