NUNUKAN, infoSTI – Sebuah rekaman suara yang diduga suara salah satu supir mobil asal Malaysia, mengejek buruknya kondisi jalan perbatasan RI – Malaysia, sedang menjadi sorotan di Medsos.
Narasi sindiran yang dilontarkan cukup tajam dan mengena, terlebih, suara yang sangat kental dengan logat Melayu tersebut kini dijadikan back sound bagi sejumlah video yang menggambarkan kerusakan parah jalanan di dataran tinggi Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara.
Bahkan Camat Krayan Selatan, Oktafianus Ramli, turut menjadikan audio tersebut sebagai status whatsaap miliknya.
‘’Kita merasa dihina dan terhina sebenarnya. Tapi yang disampaikan dalam rekaman suara itu fakta. Kita sudah bosan bersuara, berapa kali ketua adat kami teriak masalah jalan, tidak ada tanggapan pemerintah,’’ ujarnya, dihubungi Kamis (25/6/2026).
Oktafianus menuturkan, rekaman suara tersebut, ia dapat dari status Medsos salah satu supir Malaysia.
Demikian bunyi dari rekaman suara yang sedang viral tersebut,
‘Hei tengok, anak anak ini lapar sudah disini ini. Hei kasihan kasihan, semua anak anak menangis sudah lapar. Ini perusahaan Indon ini bikin tipu tipu saja masyarakat ini. Tengok mobil disini, semua parkir, sangkut di jembatan tiga lima. Hei Indon ini bikin jalan tidak pandai ya, semua kontingen tujuan Mahak nyangkut semua,’
Oktafianus mengatakan, keluhan tersebut, berasal dari supir Malaysia yang kesulitan menembus jalan rusak. Ia yang berangkat dari Malaysia membawa anak anaknya tak membawa bekal makanan karena tak menyangka akan menempuh jalan yang sangat rusak.
Akibatnya, anak anaknya menangis karena mengeluh lapar, sehingga mendorong si supir berkeluh kesah sambil merekam kondisi jalan yang rusak parah.
Oktafianus melanjutkan, seharusnya pemerintah Indonesia merasa malu karena suara protes sudah bukan berasal dari dalam negeri.
Hal tersebut seharusnya menjadi cambukan dan tolok ukur untuk menjadikan beranda negeri menjadi lebih baik, agar Indonesia tidak menjadi bahan olokan dan candaan bagi warga negara lain.
‘’Banyak warga kami yang menjadikan suara itu status whatsaap. Mereka upload kondisi buruknya jalanan Krayan dengan memasang audio itu. Selain sebagai sindiran, kita masyarakat perbatasan berharap Pemerintah sadar dan segera menjadikan pembangunan jalan Krayan sebagai prioritas,’’ tegasnya.
Adapun status medsos yang banyak diupload warga Krayan, memperlihatkan masyarakat sedang bergotong royong mengangkut balok kayu untuk diletakkan di lubang yang terbuat dari jejak ban mobil di jalan Lembudud menuju Long Layu.
Lubang tersebut cukup dalam, sehingga mobil gardan ganda sekalipun akan tersangkut dan tak bisa jalan karena terjebak lumpur.
‘’Kalau lubang bekas ban mobil tidak diletak balok kayu, mobil tak bisa jalan. Kondisi ini terjadi sejak dulu, entah dengan cara apa lagi kami bersuara,’’ kata dia.
Kondisi jalanan Krayan, berimbas pada sulitnya pasokan pangan dan bahan kebutuhan bagi masyarakat.
Untuk diketahui, dataran tinggi Krayan, hanya bisa ditempuh menggunakan lajur udara dari Ibu Kota Kabupaten Nunukan, dan dengan menggunakan pesawat perintis yang berpenumpang 8 sampai 12 orang saja.
Barang kebutuhan yang diangkut juga sangat terbatas, ditambah akses yang sulit, kian menjadikan harga bahan pokok melonjak naik dan semakin mencekik kondisi warga pelosok.
Saat ini harga BBM dijual dengan harga Rp 25.000 – Rp 30.000/liter. Bahkan untuk mengangkut BBM dari Long Bawan, Ibu Kota Kecamatan Krayan menuju Long Layu, Krayan Selatan, harus ditempuh selama 6 hari.
Padahal, jika dalam kondisi normal, jarak tempuh hanya memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan.
‘’Mereka mendorong, menarik mobil, itu memakan banyak waktu. Mereka tidur di hutan, memasak di jalan. Itu bukan sekedar cerita, tapi fakta menahun yang terjadi di Krayan,’’ tegasnya.
‘’Dan listrik PLN sekarang hanya menyala empat jam, mulai pukul 18.00 wita sampai pukul 21.00 wita. Selebihnya kita gunakan lilin dan lampu teplok,’’ kata Oktafianus.











