TANJUNG SELOR, infoSTI – Musibah banjir dan tanah longsor yang terjadi di Pulau Sumatera, menjadi duka bersama seluruh masyarakat, tidak hanya korban tapi juga seluruh masyarakat Indonesia.
Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kaltara Ir. Yosua Batara Payangan menyampaikan belasungkawa dan duka mendalam terhadap musibah yang terjadi di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
‘’Apa yang terjadi di Pulau Sumatera tentunya kita berbelasungkawa, berdukacita terhadap kejadian yang menimpa saudara-saudara kita di sana. Dimana kejadian itu banyak menyebabkan korban,” ujarnya, Senin (8/12/2025).
‘’Atas nama pribadi dan seluruh jajaran, Dinas ESDM Kaltara berharap seluruh korban yang terdampak bencana banjir dan longsor dapat diberi ketabahan, kekuatan, dan perlindungan Tuhan Yang Maha Esa,’’ imbuhnya.
Yosua mengajak seluruh masyarakat Kaltara juga mendoakan saudara – saudara kita di Sumatera Utara dan Sumatera Barat serta daerah lain yang terdampak musibah.
Selain itu, Dinas ESDM Kaltara juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama – sama menjaga lingkungan sekitar dalam rangka upaya pencegahan dini musibah seperti banjir dan tanah longsor.
Bencana banjir dan tanah longsor besar melanda wilayah Sumatera, khususnya Aceh, Sumut, dan Sumbar, sejak akhir November hingga Desember 2025.
Berikut adalah kronologi umum bencana tersebut:
- Minggu Ke-3 November 2025: Curah hujan dengan intensitas ekstrem mulai mengguyur sebagian wilayah Sumatera. Di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dampak mulai dirasakan sejak 19 November 2025.
- 24 – 29 November 2025: Banjir dan longsor meluas di Sumatera Utara. Pada 25 November, banjir besar melanda Kabupaten Tapanuli Tengah yang digambarkan warga menyerupai tsunami.
- 26 – 28 November 2025: Intensitas hujan di Sumatera Barat mencapai puncaknya pada Rabu malam (26/11), memicu banjir bandang dan galodo (banjir lahar dingin/lumpur) di titik-titik krusial seperti Agam dan Limapuluh Kota pada Jumat, 28 November 2025.
- Awal Desember 2025: Masa tanggap darurat diberlakukan seiring dengan terus bertambahnya jumlah korban. Akses jalan nasional di beberapa wilayah dilaporkan lumpuh total.
Penyebab bencana ini dikaitkan dengan kombinasi curah hujan ekstrem, kondisi geomorfologi perbukitan yang curam, serta kerusakan ekosistem hutan di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS).








