Menu

Mode Gelap
Candu Narkoba, Dua Warga Pulau Sebatik Nekat Menjadi Ninja Sawit Gereja Katolik Santo Yosep di Pedalaman Nunukan Habis Terbakar Pengiriman MBG Sering Terlambat Saat Musim Hujan, Guru di Pulau Sebatik Minta SPPG Perbaiki Jalan   Persiapkan Petugas Sensus, BPS Nunukan Gelar Pelatihan Sensus Ekonomi 2026 Enam Unit SPPG Selesai Dibangun Namun Belum Dibayar, Investor SPPG 3T di Perbatasan RI Tagih Janji Pembayaran BGN Sebuah Kios Pulsa di Nunukan Ludes Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik

Kaltara

Mirisnya Kondisi MI Darul Furqon di Tapal Batas RI – Malaysia, Jembatan Ambruk, Murid Murid Terancam Pindah Sekolah

badge-check


					Sejumlah murid madrasah terduduk dan melamun melihat puing jembatan menuju sekolahnya ambruk akibat banjir, Rabu (5/11/2025) malam. Dok.Andre Pratama. Perbesar

Sejumlah murid madrasah terduduk dan melamun melihat puing jembatan menuju sekolahnya ambruk akibat banjir, Rabu (5/11/2025) malam. Dok.Andre Pratama.

NUNUKAN, infoSTI – Kondisi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Furqon, di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, kian memprihatinkan pasca jembatan satu satunya menuju sekolah, ambruk akibat banjir, pada Rabu (5/11/2025) malam.

Aparat keamanan bekerjasama dengan pemerintah dan masyarakat, telah membuatkan jembatan darurat untuk mengalihkan jalan menuju sekolah. Jalan alternatif tersebut, menembus perkebunan.

Kendati demikian, kontur tanah berlumpur, tetap menjadi masalah pelik bagi guru dan anak sekolah, apalagi di musim penghujan saat ini.

“Kami harus menggulung celana demi melewati jalanan becek berlumpur menuju sekolah. Tapi inilah sebuah perjuangan dan pengabdian seorang guru di perbatasan,” ujar Kepala MI Darul Furqon, Adnan Lolo, dihubungi Rabu (19/11/2025).

MI Darul Furqon, hanya memiliki 48 murid dan 90 persen dari mereka, adalah anak anak TKI Malaysia.

Anak anak tersebut, biasa berangkat di pagi buta untuk belajar.

Namun dengan kondisi jalanan yang sulit dilalui, banyak dari mereka absen, dan memilih membantu pekerjaan orang tuanya di kebun kelapa sawit.

“Jalannya memang licin dan banyak anak anak jatuh. Banyak orang tua murid mengeluh dan bertanya sampai kapan jalanan itu dilewati. Apakah jembatan tidak akan dibangun sehingga selamanya lewat jalanan jelek,” kata Adnan.

Bagi Adnan, mendapatkan murid untuk MI Darul Furqon, bukanlah perkara mudah.

Setiap masuk tahun ajaran baru, ia harus masuk ke kamp kamp kelapa sawit di Malaysia, merayu orang tua untuk menyekolahkan anaknya di MI yang dipimpinnya, dengan segala kekurangan yang ada.

“Sejak jembatan ambruk, setiap hari saya mendapat pesan dari orang tua murid yang mengeluh dan berniat memindahkan anaknya ke sekolah lain,” keluh Adnan.

Adnan meminta Pemerintah Daerah bisa segera membangunkan jembatan di jalan utama menuju sekolah.

“MI Darul Furqan, selalu mendapat kunjungan tamu dari luar Nunukan. Baik dari provinsi bahkan pusat, karena sekolah ini dianggap salah satu ikon Sebatik karena berada di posisi tapal batas dua negara. Jadi sayang kalo tamunya tidak sampai ke sekolah,” kata Adnan.

Facebook Comments Box

Trending di Kaltara