Menu

Mode Gelap
Monitoring LKPJ 2025, DPRD Nunukan Temukan Bangunan Mushola Dibangun Asal Jadi Ganti Rugi Embung Lapri Tak Kunjung Terbayar, 40 KK Minta SK Penetapan Lahan Dicabut, Bakal Tuntut Pemda Rp 271 Miliar Rencana Pemindahan PKL di Alun Alun Nunukan Ricuh, Para Pedagang Minta Diselesaikan di DPRD Mutasi Berujung Gugatan PTUN, Pemkab Nunukan Bantah Lakukan Demosi Ketimpangan Pembangunan Infrastruktur Sebatik Disorot, Ramsah Desak Jalan Poros Tengah Masuk Prioritas Anggaran Tahun 2026 Apel gelar Pasukan Operasi Pemberantasan Penyelundupan, KPPBC Nunukan Perkuat Sinergytas Bersama APH Perbatasan RI – Malaysia

Advertorial

Monitoring LKPJ 2025, DPRD Nunukan Temukan Bangunan Mushola Dibangun Asal Jadi

badge-check


					Sebuah Mushola yang dinilai dibangun asal asalan, dijumpai dalam monitoring LKPJ 2025, yang dilakukan Ketua DPRD Nunukan, Hj Rachma Leppa Hafid. Dok.DPRD Nunukan. Perbesar

Sebuah Mushola yang dinilai dibangun asal asalan, dijumpai dalam monitoring LKPJ 2025, yang dilakukan Ketua DPRD Nunukan, Hj Rachma Leppa Hafid. Dok.DPRD Nunukan.

NUNUKAN, infoSTI – Sebuah Mushola yang dinilai dibangun asal asalan, dijumpai dalam monitoring LKPJ 2025, yang dilakukan Ketua DPRD Nunukan, Hj Rachma Leppa Hafid.

Bangunan Mushola di SDN 03, Nunukan Selatan tersebut, telah dibayar 100 persen, padahal banyak bagian yang belum layak dan butuh perbaikan lebih lanjut.

‘’Temboknya digaruk saja rontok, entah berapa campuran semennya karena warna dindingnya masih kuning. Kalau campuran semennya bagus warnanya gelap dan tak mungkin rontok kalau digaruk,’’ ujarnya, saat menuturkan salah satu hasil monitoringnya, Rabu (29/4/2026).

Selain itu, bagian plafon banyak yang rembes bahkan bocor, dan sama sekali tak mencerminkan pekerjaan yang sesuai standar maupun layak pakai.

Hal tersebut, membuat sejumlah anggota DPRD dari Komisi II yang ikut monitoring terheran heran dan tak habis fikir.

Sungguh tak etis sebuah bangunan yang digunakan untuk beribadah, dikerjakan dalam kondisi tak layak. Campuran semen yang minim, hingga atap yang bocor.

‘’Berapa nilainya dan kontraktornya siapa, saya juga tidak tahu. Tidak ada plang proyek terpasang, dan dikerjakan oleh orang yang tidak tahu konstruksi bangunan karena hasilnya buat kecewa berat,’’ imbuh Hj.Leppa.

Yang tak kalah mengherankan, imbuhnya, Dinas Pendidikan Nunukan sudah membayar proyek ini 100 persen.

‘’Dengan kualitas buruk dan menurut saya belum rampung, seharusnya jangan dulu dibayar. Ini kok sudah 100 persen dibayar oleh Disdik,’’ katanya heran.

Leppa menegaskan, hasil temuan ini tentu akan dibahas lebih lanjut pada rapat bersama instansi yang bertanggung jawab.

Ia juga memberikan peringatan kepada OPD Pemkab Nunukan, untuk lebih selektif dan memastikan hasil pekerjaan telah memenuhi standar kelayakan sebelum dilakukan pembayaran.

Meski kesal dan merasa heran, Leppa tetap menyarankan perbaikan lanjutan, mengingat bangunan tersebut adalah tempat ibadah.

‘’Kalau Mushola saya minta diperbaiki lagi. Kalau bangunan lain tidak perlu, mau sampai diproses hukum juga silahkan,’’ kata dia.

Facebook Comments Box

Trending di Advertorial