Menu

Mode Gelap
Minta Diantar Pulang, Gadis 17 Tahun di Nunukan Jadi Korban Pemerkosaan Pemilik Bengkel Jualan Liquid Narkoba, Pengedar di Nunukan Pesan di Malaysia, Ambil Barang di Perbatasan Setelah Pemasok Kirim Foto Lokasi Apresiasi Perekrutan Pemuda Dayak Sebagai TNI, DPRD Nunukan Berharap Kodim 0911 Programkan TNI Mengajar Narasi Larangan Buka Lahan dengan Membakar, ‘Arogansi Intelektual’ yang Mendiskreditkan Masyarakat Adat Dayak HUT TNI AL 81, LANAL Nunukan Perkuat Sinergy Bersama Masyarakat Pesisir Kodim 0911 Nunukan Lakukan Perekrutan Khusus Suku Dayak Untuk Calon Anggota TNI

Advertorial

Lomba Bedug Sahur di Nunukan, Cara Pemda Nunukan Menghidupkan Memori Lama dan Pelestarian Tradisi Lokal

badge-check


					Salah satu peserta pawai Bedug Sahur Nunukan 2026, mengarak miniatur Al Qur'an. Dok.Prokopim Nunukan. Perbesar

Salah satu peserta pawai Bedug Sahur Nunukan 2026, mengarak miniatur Al Qur'an. Dok.Prokopim Nunukan.

NUNUKAN, infoSTI – Semarakkan Ramadhan 1447 H/2026, Pemerintah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, menggelar Lomba Bedug Sahur.

Pawai dimulai dari Tanah Merah, Liem Hie Djung, Jalan Jamaker, Jalan Makam Pahlawan, Jalan Bhayangkara, Jalan A. Yani dan finish di alun alun Kota.

Lomba ini diselenggarakan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) bekerjasama dengan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI)  Kabupaten Nunukan.

Lomba Bedug Sahur kali ini, diiikuti oleh 19 peserta yang terdiri dari kategori Umum, Sekolah, Organisasi, dan beberapa masjid yang sebagian juga dari Pulau Sebatik.

Para peserta, baik tua muda maupun anak-anak, yang tergabung dalam rombongan, mengarak gerobak berisi beduk yang ditarik beramai-ramai.

Rombongan ini bersama-sama memukul beduk dan membunyikan genta, rebana dan genjring, sambil menyanyikan lagu daerah, pujian dan Solawat untuk membangunkan orang sahur.

Bupati Nunukan, Irwan Sabri mengatakan, Lomba Bedug Sahur merupakan tradisi tahunan yang bertujuan untuk melestarikan budaya lokal, mempererat silaturahmi, dan menjadi wadah kreativitas bagi generasi muda dalam membangunkan warga untuk sahur.

‘’Lomba Bedug Sahur ini menjadi salah satu cara untuk memeriahkan Ramadhan sekaligus melestarikan tradisi budaya yang telah lama hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan, tradisi yang diadaptasi dari kegiatan membangunkan sahur ini menjadi semacam gerakan kolektif untuk saling mengingatkan karena memang tradisi puasa ini, erat kaitannya dengan semangat sosial.

Dengan tradisi tahunan ini, budaya tidak akan pernah luntur, melainkan terus diadaptasi.

Kendati demikian, kita tidak boleh menafikan keberadaan saudara saudara non Muslim yang bisa saja terganggu dengan tradisi Ramadhan ini.

‘’Makanya butuh nada dan irama yang enak sebagai implementasi adab dan etika membangunkan orang sahur. Tujuan itu yang ingin kita capai dalam lomba Bedug Sahur,’’ kata Irwan Sabri.

Facebook Comments Box

Trending di Advertorial