NUNUKAN, infoSTI – Serangan Amerika dan Israel ke Iran, berimbas luas.
Perang ini bukan hanya sebatas isu diplomatik dua negara, tapi berpengaruh pada stabilitas Timur Tengah yang menjadi jantung mobilitas energy dan penerbangan global.
Diluar masalah geopolitik, soal ibadah juga ikut terdampak. Lalu bagaimana dampaknya terhadap penyelenggaraan Haji 2026 di Arab Saudi?
Plt Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umroh Kemenhaj Nunukan, H.Asdar mengatakan, Kemenhaj Nunukan masih melakukan rangkaian proses menuju pemberangkatan Calon Jamaah Haji (Calhaj) sebagaimana biasanya.
‘’Proses untuk keberangkatan masih berjalan normal. Untuk Kemenhaj Nunukan sudah sampai pada proses pembuatan visa,’’ ujarnya dikonfirmasi Senin (2/3/2026).
Asdar mengatakan, ada sekitar 223 Calhaj dari Kabupaten Nunukan yang akan diberangkatkan melalui kloter 7 dan kloter 8, dan diagendakan berangkat pada 4 dan 5 Mei 2026 mendatang.
Sejauh ini, proses keberangkatan Calhaj masih berlangsung normal.
‘’Kemenhaj Nunukan menunggu instruksi Kanwil saja. Sejauh ini, belum ada arahan apapun terkait eskalasi perang yang terjadi,’’ jelasnya.
Asdar mengakui, ketegangan di area teluk, menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan para Calhaj.
Banyak Calhaj yang menghubunginya, menanyakan berbagai hal tentang rencana keberangkatan dan potensi perubahan jadwal haji 2026.
Terlebih, Arab Saudi menjadi salah satu negara yang masuk dalam peta konflik yang terjadi.
‘’Kita harap semua bisa tenang. Kemenhaj Nunukan juga belum berani berbicara lebih jauh, karena masih menunggu arahan Kanwil juga,’’ kata dia.
Asdar meminta semua Calhaj tetap tenang dan tidak panik serta terus memantau perkembangan situasi melalui saluran berita resmi yang terpercaya.
Saling terhubung dengan whatsapp dan medsos lain, khususnya grup Medsos Kemenhaj, guna memudahkan koordinasi dan penyampaian informasi penting dari Kemenhaj.
‘’Kita semua berharap ibadah haji bisa tetap jalan. Tapi sekali lagi, kami Kemenhaj Nunukan masih menunggu arahan Kanwil,’’ tegasnya.
Perang antara Iran dan Amerika Serikat bersama Israel kembali pecah.
Dikutip dari Kompas.com, sebelumnya, perang 12 hari antara Israel dan Iran berlangsung pada 13–24 Juni 2025 dan diawali oleh serangan udara Israel pada 13 Juni 2025.
Serangan tersebut menargetkan berbagai fasilitas militer dan infrastruktur strategis Iran, termasuk instalasi nuklir.
Israel menyatakan langkah itu sebagai tindakan pencegahan terhadap program nuklir Iran.
Sebagai respons, Iran meluncurkan rentetan rudal balistik dan drone ke wilayah Israel. Serangan balasan ini memperluas skala konflik secara signifikan.
Ketegangan terus meningkat hingga pada 22 Juni 2025, Amerika Serikat turut terlibat dengan menyerang tiga situs nuklir Iran untuk mendukung Israel, sehingga konflik berubah menjadi krisis internasional.
Namun, ketegangan tidak benar-benar mereda. Negosiasi Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir tidak menemui kesepakatan.
Pada Sabtu, 28 Februari 2026, Israel bersama Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara besar ke sejumlah kota utama Iran, seperti Teheran, Isfahan, dan Tabriz.
Sasaran serangan meliputi instalasi militer, fasilitas nuklir, dan gedung pemerintah.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah meninggal dunia pada Minggu, 1 Maret 2026.
Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke sejumlah lokasi yang terkait dengan operasi militer AS di kawasan, termasuk : pangkalan Al Udeid di Qatar, pangkalan Al-Salem di Kuwait, pangkalan Al-Dhafra di Uni Emirat Arab, dan markas armada kelima AS di Bahrain.
Ledakan juga terdengar di Riyadh, Arab Saudi, dan pangkalan AS di Yordania dilaporkan menjadi sasaran.











