Menu

Mode Gelap
Bupati Nunukan Keluarkan Surat Edaran Siaga Bencana Untuk Periode Mudik Lebaran Diminta Jualkan Motor, Seorang Residivis di Nunukan Malah Tilep Uang Nenek 61 Tahun Gaduh Narasi Wakil Bupati Nunukan Pecah Kongsi dan Mengamuk di Kantor Pemda, Begini Penjelasan Bupati Nunukan Muhammad Khoiruddin Resmi Nakhodai PERPANI Nunukan Periode 2026 – 2030 Nyaris Kolap Karena BLUD Dikorupsi, RSUD Nunukan Masih Miliki Utang Rp 16 Miliar Pansus DPRD Kaltara Meminta Perda PMD Harus Spesifik dan Menjawab Dinamika Sosial di Masyarakat

Kaltara

Plafon Ruang Kelas SMPN I Lumbis di Pedalaman Nunukan Ambruk, Para Pelajar Histeris Mengira Guncangan Gempa

badge-check


					Plafon ruang kelas IX di SMPN 1 Lumbis, Nunukan, Kalimantan Utara, ambruk saat belajar mengajar, Sabtu (8/11/2025) pagi. Dok.Idrus. Perbesar

Plafon ruang kelas IX di SMPN 1 Lumbis, Nunukan, Kalimantan Utara, ambruk saat belajar mengajar, Sabtu (8/11/2025) pagi. Dok.Idrus.

NUNUKAN, infoSTI – Plafon ruang kelas IX di SMPN 1 Lumbis, Nunukan, Kalimantan Utara, ambruk saat belajar mengajar, Sabtu (8/11/2025) pagi.

Para pelajar di wilayah pedalaman Nunukan ini langsung histeris dan berhamburan keluar kelas.

Beberapa dari mereka, terkena puing asbes, dan mengalami luka ringan di kepala.

Sejumlah pelajar juga terluka akibat terbentur kaki meja saat berusaha lari keluar kelas.

‘’Plafon kelas IX C tiba tiba saja runtuh, dan terjadi saat kelas sedang berlangsung sekitar pukul 08.00 wita, tak lama setelah kami melakukan apel pagi,’’ ujar Kepala SMPN I Lumbis, Idrus, dihubungi Senin (10/11/2025).

Kepanikan dipicu karena para pelajar SMP tersebut, sempat menyangka terjadi gempa bumi.

Dalam beberapa hari belakangan, kata Idrus, pemberitaan gempa bumi tektonik dengan magnitudo 4,8 dan 4,4 yang terjadi di Kota Tarakan, memang menjadi pemberitaan media, dan perbincangan masyarakat Kaltara.

‘’Suasana cukup heboh memang. Yang pertama anak anak terkejut dan syock. Kedua, mereka mengira ada gempa bumi karena suara gemuruhnya lumayan kencang,’’ kata Idrus lagi.

Beberapa pelajar, bahkan dilarikan ke Puskesmas untuk memastikan kondisi mereka.

‘’Kalau masalah luka, memang tidak ada yang serius. Tapi mereka shock dan kaget, jadi kita perlu memperhatikan juga kondisi psikologis anak anak kami,’’ imbuhnya.

Idrus menuturkan, kondisi plafon sekolah yang ambruk, sebenarnya sudah beberapa kali terjadi.

Pihak sekolah juga sudah berkali kali melaporkan kondisi tersebut ke Kepala Dinas Pendidikan, melalui lisan, maupun tertulis.

Hanya saja, model konstruksi dan peristiwa yang sama, hampir terjadi di semua sekolah yang merupakan proyek bangunan Kemendikbud pada 2022 lalu.

‘’Jadi memang konstruksi plafon itu dari gypsum, dan dibaut di baja ringan. Saat musim hujan, asbes menyusut dan lembab, akibatnya asbes jatuh,’’ tutur Idrus.

Sekolah kemudian berinisiatif gotong royong membersihkan reruntuhan asbes, dan mengantisipasi kejadian serupa dengan memeriksa kondisi plafon di semua bagian sekolah.

‘’Kita berharap ini menjadi perhatian, dan kami juga berusaha mengantisipasi agar tidak terjadi masalah yang sama di kemudian hari,’’ kata Idrus lagi.

Terpisah, Sekretaris Dinas Pendidikan Nunukan, Ambo Tuo mengakui, kondisi plafon sejumlah sekolah di Kabupaten Nunukan, memiliki keluhan yang sama.

Kejadian plafon sekolah yang ambruk, juga terjadi di sejumlah sekolah, tak hanya di pedalaman Nunukan, bahkan yang ada di daerah kota.

‘’Dinas Pendidikan sudah menugaskan pegawai untuk melihat langsung di lapangan,’’ jawab Ambo.

Ambo juga mengamini banyak sekolah mengalami keluhan yang sama, yaitu plafon ambruk.

‘’Memang kondisi plafon dengan rangka baja dan asbes tebal rentan ambruk. Apalagi kalau hujan. Untuk selanjutnya kita usulkan pembuatan plafon dengan rangka kayu saja, jauh lebih aman dan lebih efisien juga,’’ kata Ambo.

Facebook Comments Box

Trending di Kaltara