Menu

Mode Gelap
Bupati Nunukan Keluarkan Surat Edaran Siaga Bencana Untuk Periode Mudik Lebaran Diminta Jualkan Motor, Seorang Residivis di Nunukan Malah Tilep Uang Nenek 61 Tahun Gaduh Narasi Wakil Bupati Nunukan Pecah Kongsi dan Mengamuk di Kantor Pemda, Begini Penjelasan Bupati Nunukan Muhammad Khoiruddin Resmi Nakhodai PERPANI Nunukan Periode 2026 – 2030 Nyaris Kolap Karena BLUD Dikorupsi, RSUD Nunukan Masih Miliki Utang Rp 16 Miliar Anggota DPRD Kaltara Temui Pertamina Tarakan, Pastikan Suplay BBM Untuk Perbatasan RI – Malaysia Lancar Jelang Idul Fitri 1447 H

Kaltara

Aksi Polisi Meredam Potensi SARA Akibat Komen Emak Emak di Medsos, Berujung Damai dan Permintaan Maaf Terbuka

badge-check


					Sejumlah massa yang mendatangi Polsek Nunukan, menuntut penjelasan dan permintaan maaf terbuka kepada emak emak yang berkomentar SARA saat pawai budaya di HUT 26 Nunukan. Dok.Polsek Nunukan. Perbesar

Sejumlah massa yang mendatangi Polsek Nunukan, menuntut penjelasan dan permintaan maaf terbuka kepada emak emak yang berkomentar SARA saat pawai budaya di HUT 26 Nunukan. Dok.Polsek Nunukan.

NUNUKAN, infoSTI – Perayaan HUT 26 Nunukan, Kalimantan Utara, nyaris ternoda dengan aksi emak emak yang menuliskan komentar berbau SARA (Suku Ras Agama dan Antar Golongan), saat pawai budaya berlangsung, Sabtu (11/10/2025).

Sebuah ketikan di kolom komentar, tiba tiba membuat masyarakat terhenyak dan terkejut, karena pemilik akun bernama HFZ, menghina salah satu agama dan mengaitkannya dengan aroma ketiak.

Tak ayal, komentar tersebut kemudian di screen shoot banyak netizen dan langsung menjadi pembahasan serius.

Masyarakat yang tersulut emosi segera memenuhi kolom komentar, secara tiba tiba, pemilik akun HFZ itupun diberi gelar duta wangi sebagai sindiran dan diminta untuk mengklarifikasi maksud komentarnya tersebut.

“Kita segera jemput pemilik akun di rumahnya, kita bawa ke Polsek untuk diamankan, karena potensi ricuh cukup tinggi,” ujar Kapolsek Nunukan, Iptu Disko Barasa, dihubungi, Minggu (12/10/2025).

Ibu ibu sekitar 30an tahun tersebut, didudukkan bersama para tokoh agama, dan menyatakan penyesalan mendalam.
Ia mengaku tak bijak bermedsos dan khilaf, sehingga menyulut amarah massa.

Saat mediasi berlangsung, massa terus berdatangan memenuhi Polsek Nunukan.

“Kita semua yang dag dig dug karena komen ibu itu. Bagaimana tidak, Nunukan yang selama ini tenang, semua suku, agama dan etnies yang hidup rukun berdampingan, tiba tiba dikacaukan oleh sebuah komentar medsos,” kata Barasa.

Pertemuan yang dilakukan siang hari kemarin, berjalan alot. Namun dengan kebijaksanaan para pemuka agama, tokoh adat dan tokoh pemuda, pemilik akun diminta menyataan permintaan maaf secara terbuka dan tidak mengulangi perbuatannya.

“Jadi si Ibu hamil tua, tinggal menunggu hari. Dia menangis, menyesali perbuatannya. Dia juga melakukan permintaan maaf terbuka,” kata Barasa lagi.

Barasa mengingatkan masyarakat untuk bijak bermedsos. Tak perlu menuliskan status atau komentar yang memicu kebencian, provokasi, SARA, pornografi, dan hoaks.

“Ada konsekuensi pidana ITE untuk kalimat di Medsos.Hormati kepercayaan orang lain, dan kalau suka membagikan postingan, verifikasi kebenaran berita sebelum membagikannya,” pesan Barasa.

Facebook Comments Box

Trending di Kaltara