Menu

Mode Gelap
Bupati Nunukan Keluarkan Surat Edaran Siaga Bencana Untuk Periode Mudik Lebaran Diminta Jualkan Motor, Seorang Residivis di Nunukan Malah Tilep Uang Nenek 61 Tahun Gaduh Narasi Wakil Bupati Nunukan Pecah Kongsi dan Mengamuk di Kantor Pemda, Begini Penjelasan Bupati Nunukan Muhammad Khoiruddin Resmi Nakhodai PERPANI Nunukan Periode 2026 – 2030 Nyaris Kolap Karena BLUD Dikorupsi, RSUD Nunukan Masih Miliki Utang Rp 16 Miliar Anggota DPRD Kaltara Temui Pertamina Tarakan, Pastikan Suplay BBM Untuk Perbatasan RI – Malaysia Lancar Jelang Idul Fitri 1447 H

Kaltara

Nestapa Sulis Eks TKI Malaysia, Harta di Kampung Dijual Saudara, Ditolak Saat Ingin Tinggal Dengan Putri Satu Satunya

badge-check


					Kondisi Sulis, eks TKI Malaysia asal Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Terlantar di Nunukan, dan diurus Dinas Sosial. Sulis diantar pulang kampung, setelah sempat dirawat dan tinggal di shelter DSP3A Nunukan. Perbesar

Kondisi Sulis, eks TKI Malaysia asal Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Terlantar di Nunukan, dan diurus Dinas Sosial. Sulis diantar pulang kampung, setelah sempat dirawat dan tinggal di shelter DSP3A Nunukan.

NUNUKAN, infoSTI – Tubuh Sulis (54), wanita asal Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Malang, Jawa Timur, terlihat lemah, saat petugas Dinas Sosial Perlindungan Perempuan dan Anak (DSP3A) Nunukan, Kalimantan Utara, membawanya ke shelter/rumah perlindungan sosial.

Sulis, merupakan eks TKI yang terlantar di Nunukan, dan sempat terkena stroke.

Dari hasil wawancara petugas Dinsos, Sulis merupakan anak ke 3 dari 8 bersaudara.

‘’Tahun 1984, Ibu Sulis menikah dengan Bapak Ngaribon, dan memiliki satu anak perempuan. Tapi saat putrinya berusia 17 bulan, suaminya memilih perempuan lain, sehingga keduanya bercerai,’’ tutur Kabid Rehabilitasi Sosial, DSP3A Nunukan, Parmedy, ditemui Rabu (7/5/2025).

Demi melupakan masa lalunya, Sulis memutuskan merantau ke Malaysia, meninggalkan putrinya yang masih bayi bersama kakek neneknya.

Di Malaysia, Sulis bekerja sebagai tukang bersih bersih kebun dengan upah RM 30 per hari.

Setiap bulan, Sulis mengirimi uang untuk anaknya, sampai kemudian ia bertemu dengan pria 78 tahun, berkebangsaan Brunei Darussalam, bernama Haji Ali.

‘’Keduanya menjalin hubungan dan menikah siri. Suami Ibu Sulis memiliki kebun sawit cukup luas. Namun pernikahannya hanya bertahan lima tahun, karena suaminya meninggal dunia. Dan semua harta suaminya dibagikan ke 6 anaknya dari istri terdahulu,’’ tutur Pamedy.

Sulis diberi uang Rp 150 juta. Ia gunakan untuk pulang kampung dan membangun rumah.

Iapun kembali ke Malaysia, bekerja sebagai penjual sarung dan rokok.

Kabar duka menghampiri Sulis pada Tahun 2018, ayahnya dikabarkan meninggal dunia. Berselang dua tahun, pada 2020, ibu Sulis menyusul meninggal dunia.

‘’Putrinya menikah dan pindah ke Kota Balikpapan, ikut suami,’’ kata Parmedy.

Karena lama tak pulang kampung, aset Sulis dijual oleh saudaranya, sehingga kini Sulis tidak memiliki rumah di kampung.

Saat pulang kampung, Sulis hanya menumpang di rumah adik perempuannya.

Namun setelah 2 tahun tinggal di Malang, Sulis berkeinginan tinggal bersama putrinya di Balikpapan dan melepas rindu.

‘’Dengan uang hasil pantungan dari saudaranya, Sulis berangkat ke Balikpapan. Namun, Sulis ditolak anaknya, dan menyarankan kembali ke Malaysia saja berjualan sarung. Anaknya berjanji akan mengirimi modal usaha,’’ tutur Parmedy.

Singkat cerita, Sulis akhirnya terlunta lunta di Nunukan. Dan ditangani DSP3A.

Dua minggu ada di Nunukan, Sulis terkena serangan stroke. Badan bagian kiri sulit digerakkan, dan sempat dikirim ke RSUD Nunukan.

‘’Kita berusaha berunding dengan keluarga Ibu Sulis di Malang. Keluarga di kampung juga bersedia menerima beliau, sehingga kemarin, Selasa 6 Mei 2025, kita pulangkan ke kampung halamannya. Ibu Sulis yang masih kecewa dengan sikap putrinya, akhirnya mau dipulangkan,’’ kata Parmedy.

Facebook Comments Box

Trending di Kaltara