NUNUKAN, infoSTI – Masyarakat perbatasan RI – Malaysia di dataran tinggi Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara, masih bermimpi memiliki jalan layak.
Jelang perayaan HUT RI 81 tahun di 17 Agustus 2026 nanti, akses utama di Krayan masih sulit dilewati. Jalanan menjelma lumpur dalam tiap musim penghujan datang.
Jalanan bahkan menenggelamkan separuh body mobil, yang berimbas luas pada kenaikan biaya transportasi orang dan barang, naiknya BBM dan kebutuhan pokok.
Jarak yang biasanya bisa ditempuh dua hingga tiga jam, ketika musim hujan harus ditempuh sehari semalam. Supir dan kernet harus bermalam di hutan sembari terus berusaha agar ban mobil mampu berputar dan kendaraan bisa sampai tujuan meski bermandi lumpur.
‘’Tidak ada keinginan kami yang lain. Yang paling utama dan sejak dahulu diharapkan masyarakat hanya ingin Krayan punya jalan yang layak. Tidak ada yang lain,’’ ujar Camat Krayan Tengah, Josly, saat dihubungi Selasa (11/8/2026).
Sudah memasuki usia 81 tahun kemerdekaan RI, Krayan hanya bisa ditempuh menggunakan pesawat dari Kabupaten Kota Nunukan.
Jalanan Krayan yang sangat buruk, mengakibatkan sulitnya membawa hasil panen keluar kebun. Akibatnya, buah buahan banyak yang membusuk karena terbiar, bahkan hasil panen padi, hanya memenuhi lumbung sebagai cadangan pangan pribadi.
Padahal, padi organic khas Krayan, Padi Adan, merupakan varietas unggulan yang sangat digemari Sultan Brunei. Warga Malaysia sering menunggu masa panen petani Krayan demi cita rasa beras Krayan.
‘’Sekali lagi, akses buruk jalanan Krayan, membuat komodity yang seharusnya bernilai ekonomi tinggi justru seakan barang tak berharga. Paling mentok jadi konsumsi pribadi meski sebenarnya punya nilai ekonomi cukup lumayan,’’ tutur Josly.
Hari ini, Sembako diperoleh dengan harga tak wajar, akibat jalanan buruk yang menghambat suplay Sembako dan kebutuhan pokok lainnya.
Bensin jenis Pertalyte yang biasanya diperoleh dengan harga Rp 20.000 perliter, kini dibeli dengan banderol Rp 25.000 perliter.
Semen yang tadinya dibeli dengan harga Rp 350.000/zak, kini diperoleh dengan harga Rp 600.000/zak. Sementara tong gas LPG, masyarakat Krayan banyak menggunakan LPG Malaysia yang dibanderol Rp 950.000. Padahal dalam cuaca normal, harga LPG 14 Kg tersebut bisa dibeli dengan Rp 575.000/tabung.
‘’Kenaikan harga terjadi mulai 125 persen sampai 70 persen. Semakin jauh lokasi tempuh, semakin mahal harganya. Itu berlaku untuk semua barang,’’ jelasnya.
Keadaan tersebut, mulai terjadi di musim penghujan Bulan Maret 2026. Harga terus merangkak naik seiring sulitnya mobil gardan ganda menembus jalanan Krayan yang rusak.
Josly menegaskan, keadaan yang ia jabarkan merupakan fenomena tahunan yang tak pernah ada solusi.
‘’Akhirnya kami selalu swadaya memperbaiki jembatan yang rusak. Swadaya mengusahakan jalan bisa dilalui meski besoknya sudah rusak lagi,’’ imbuhnya.
Masyarakat Krayan sudah sering berteriak dan menempuh berbagai cara agar kondisi Krayan menjadi prioritas pembangunan. Mulai aksi demo di jalan berlumpur, menitip pesan ke para legislator yang melaporkan kondisi Krayan ke Jakarta.
Namun semua seakan kandas. Hanya ramai sebentar di media, selebihnya tak ada tindakan yang bisa dilihat masyarakat.
Kemuakan ini akhirnya memicu kekecewaan. Warga di perbatasan RI – Malaysia ini tak mau ikut merayakan HUT RI 81. Padahal, perayaan HUT RI di Krayan paling lama dibanding daerah lain.
Mereka mengadakan lomba olahraga, permainan tradisional dengan mengundang negara tetangga. Saling urunan untuk membeli kerbau sebagai hadiah untuk juara lomba.
Namun karena akses jalan mereka tak kunjung diperhatikan, semarak perayaan HUT RI nanti, hanya sebatas upacara bendera.
‘’Terus terang masyarakat sudah sangat lama muak dan kecewa karena jalan mereka yang sulit dilalui. Mereka capek bersuara. Tapi bagaimanapun untuk HUT RI, kita tetap kibarkan merah putih,’’ kata Josly.
‘’Jadi kalau ditanya di usia RI yang ke 81 tahun, apa yang dimau warga Krayan, satu aja yang kami minta, jalan mohon diperbaiki. Kalau jalan baik, ekonomi masyarakat juga akan membaik,’’ tegasnya.











