NUNUKAN, infoSTI – Media Sosial di Nunukan, Kalimantan Utara sedang meributkan Dullah, sosok Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang dianggap meresahkan dan menjadi gangguan keamanan warga sekitar.
Dullah, tercatat pernah membakar mobil warga pada akhir 2023. Ia kemudian dibawa ke RSJ Kota Tarakan untuk perawatan.
Meski sempat membaik, kondisi Dullah kembali memburuk dan lagi lagi dikeluhkan masyarakat.
Akhir akhir ini, tingkah Dullah membuat warga mempertanyakan penanganan Pemkab terhadap ODGJ. Dullah dengan bebasnya mengambil buah buahan yang dijual dalam jumlah tak sedikit.
Ia sering buang air kecil sembarangan di sekolah dasar, saat anak anak sedang ramai.
Tak jarang Dullah mengencingi dirinya sendiri, yang membuat aroma tubuhnya sangat tak sedap. Dalam kondisi tersebut, ia sering masuk warung kuliner dan meminta minta uang, yang membuat selera makan pengunjung langsung lenyap akibat aroma menyengat tubuhnya.
Kini, dimanapun Dullah berada, masyarakat mengunggahnya di Medsos, dan meminta Satpol PP maupun Dinas Sosial, mengamankan Dullah.
Viralnya aksi Dullah yang membakar mobil, menjadi kekhawatiran terbesar warga. Saat ia membawa korek api, selalu ada warga yang melaporkan masalah tersebut ke Anggota DPRD, Satpol PP dan Dinas Sosial.
‘’Memang sudah berkali kali Dullah diamankan Satpol PP lalu diserahkan ke Dinsos. Kita ambil langkah pengamanan sementara di Rumah Aman atau RPTC. Tapi ya begitu, Dullah tak mau diam, maunya pergi lagi berkeliaran di jalan,’’ ujar Kabid Rehsos Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSP3A) Nunukan, Yarius, Jumat (30/7/2026).
Yarius menegaskan, DSP3A Nunukan sudah melakukan upaya penanganan ODGJ, bahkan membawa Dullah ke RSJ.
Saat peristiwa pembakaran mobil yang dilakukan Dullah, pihak keluarga bahkan telah berjanji mengurus Dullah karena apa yang dilakukan Dullah, pihak keluarga bisa dituntut dan menanggung kerugian atas akibat yang ditimbulkan.
‘’Dullah bukan ODGJ terlantar, ada keluarganya di Nunukan. Jadi penanganan komprehensifnya bukan di kami, tapi kembali ke keluarganya,’’ kata dia.
Menurut Yarius, pihak keluarga harus intens memperhatikan pengobatan Dullah.
Keluarga harus memastikan apakah obat yang diharuskan dikonsumsi Dullah secara rutin masih dilakukan, atau sudah terhenti melihat ulah Dullah yang selalu dikeluhkan masyarakat.
Dalam hal ini, DSP3A Nunukan sudah mengkoneksikan Dullah dengan Dinas Kesehatan dan mendapat layanan kesehatan di Puskesmas Nunukan untuk pemberian pengobatan bagi penderita gangguan kejiwaan.
Dalam kasus Dullah, gangguan kejiwaan yang ia derita bukan gangguan murni karena ada alat yang terpasang di bagian kepalanya, akibat tabrakan yang ia alami di peristiwa lampau.
‘’Treatmen bagi Dullah juga butuh kehati hatian. Ada riwayat medis yang kami tak begitu faham yang menjadi penyebab kerusakan saraf atau gangguan di kepala. Tapi sekali lagi, kami sudah lakukan semua fungsi kami, dan semua kembali pada kepedulian keluarganya,’’ kata Yarius.











