Menu

Mode Gelap
PMI Nunukan Alokasikan Bantuan Senilai Rp 115 Juta Untuk Korban Gempa NTT Carut Marut Pendataan Desil di Perbatasan RI – Malaysia, Dinas Sosial Nunukan Segera Lakukan Pendataan Ulang Carut Marut Penentuan Desil, DPRD Nunukan Segera Agendakan Hering BBM Sulit Diperoleh di Sebatik, Ekonomi Masyarakat Terdampak, Banyak Rumah Dijual Untuk Menutup Utang Bank Rapat Paripurna Raperda APBD Perubahan 2026, Pendapatan Daerah Berkurang Rp 61 Miliar Silaturahmi Bersama Insan Pers Nunukan, DKISP Kaltara Perkenalkan Aplikasi ‘Viralkah’

Advertorial

BBM Sulit Diperoleh di Sebatik, Ekonomi Masyarakat Terdampak, Banyak Rumah Dijual Untuk Menutup Utang Bank

badge-check


					Anggota DPRD Nunukan Dapil Sebatik, Andi Yaqub. Perbesar

Anggota DPRD Nunukan Dapil Sebatik, Andi Yaqub.

NUNUKAN, infoSTI – Sulitnya mendapatkan BBM di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, memiliki dampak signifikan yang sangat dirasakan masyarakat pesisir.

Langkanya BBM Pertamina, mengakibatkan petani kelapa sawit sering kehabisan solar untuk mengangkut hasil panen, nelayan terpaksa membeli bensin eceran yang jauh lebih mahal.

Bahkan mereka terpaksa membeli bensin Malaysia yang juga dibanderol dengan harga tak murah.

‘’Antrean selalu terjadi. Masyarakat selalu berebut. Akhirnya meski di eceran dijual Rp 18.000 sampai Rp 20.000 per botol, mereka tetap beli,’’ ujar Anggota DPRD Nunukan, Andi Yaqub, Rabu (16/9/2026).

Persoalan keterlambatan distribusi, menjadi rutinitas yang menjadikan antrean semakin panjang dan lama. Tak jarang pihak APMS (Agen Penyalur Minyak dan Solar) di Sebatik, menjual BBM di malam hari, dan tak butuh waktu lama untuk menghabiskan stok mereka.

Banyak para pembeli menyodorkan secarik kertas rekomendasi dari Dinas Perikanan untuk para nelayan dan Dinas Pertanian untuk kebutuhan petani.

‘’Tapi melihat cepatnya BBM habis saat APMS baru buka, perlu di cek ulang apakah rekomendasi yang mereka punya betul kuotanya sedemikian atau tidak,’’ kata Yaqub.

Banyak ASN maupun masyarakat sipil yang mengeluhkan kondisi yang saat ini terjadi di Pulau Sebatik. Mereka mau tak mau harus membeli BBM Malaysia yang harga ecerannya sekitar Rp 25.000/botol.

Sementara jika harga BBM Malaysia digunakan petani, mereka tak meraup untung. Demikian juga jika digunakan untuk mesin kapal nelayan.

Para nelayan hanya akan berlayar semampunya, dengan waktu terbatas dan daya jelajah lebih dekat, akibat keterbatasan stok BBM.

‘’Kalau nelayan macam jalan jalan di laut karena mereka tidak untung jika menggunakan BBM Malaysia yang mahal. Banyak yang merugi akibat sulitnya mendapat BBM,’’ tuturnya lagi.

Dengan gambaran tersebut, masyarakat Pulau Sebatik, sangat bergantung dengan ketersediaan BBM Pertamina.

Yang lebih miris, imbuhnya, saat ini banyak masyarakat Sebatik yang tadinya sukses di usaha rumput laut, sukses di bidang perkebunan maupun pertanian, justru banyak menjual rumah mereka untuk membayar utang di Bank.

‘’Dampaknya sampai segitu parahnya. Mereka yang dulunya punya rumah bagus saat mulai menikmati hasil usahanya, sekarang banyak yang jual rumahnya di medsos,’’ sesal Yaqub.

Facebook Comments Box

Trending di Advertorial