NUNUKAN, infoSTI – Sejumlah Anggota DPRD Nunukan, Kalimantan Utara, kompak mengunjungi dataran tinggi Krayan, yang selama ini menjadi persoalan tanpa solusi.
Krayan, merupakan wilayah terisolir dan hanya bisa dijangkau dengan pesawat terbang perintis dari Kabupaten Kota Nunukan.
Bisa dikatakan 90 persen kebutuhan masyarakat Krayan, bergantung dengan Malaysia.
Seluruh kendaraan di Krayan, adalah kendaraan dari Malaysia, dan sampai hari ini, mereka hidup terisolir tanpa akses jalan layak, dan ketergantungan dengan produk Malaysia tak bisa dipisahkan.
‘’Pemerintah RI harus mengeluarkan kebijakan khusus untuk mengatasi ketertinggalan Krayan,’’ ujar Ketua Komisi 1 DPRD Nunukan, Andi Muliyono, ditemui Selasa (17/2/2026).
Andi Muliyono bersama Ketua Komisi 2, Andi Fajrul Syam, Ketua Komisi 3, Rian Antoni, menguraikan betapa terkuncinya 5 Kecamatan di Krayan.
Krayan Indonesia merdeka, masih menjadi daerah yang seakan belum menjadi bagian Indonesia.
Sampai hari ini, masyarakat Krayan belum memiliki akses jalan layak. Satu satunya jalan darat yang ada dan menghubungkan Krayan dengan Kabupaten Malinau, kondisinya jauh dari kata layak.
Jika ditempuh jalan kaki, akan memakan waktu sepekan bahkan lebih. Sementara jika menggunakan kendaraan, roda kendaraan akan tertanam dalam lumpur dan harus menunggu kendaraan lain untuk mengeluarkannya dalam jebakan lumpur.
‘’Jembatan di Krayan, hanya jembatan sementara dari kayu yang mudah patah dilapis lapis. Ironis sekali di zaman ini, kita masih harus menyaksikan jembatan kayu yang menjadi trap atau jebakan dan pertaruhan nyawa masyarakat,’’ ujarnya lagi.
Dengan jalan yang demikian rusaknya, anak anak sekolah sering sampai ke sekolah dalam kondisi seragam berlumpur.
Orang sakit harus ditandu puluhan kilometer melintasi gunung dan bukit untuk sampai fasilitas kesehatan.
Jika butuh rujukan, masyarakat Krayan dihadapkan pada kendala biaya carter pesawat yang tak murah.
‘’Pesawat ke Krayan itu paling banyak kapasitasnya 12 orang saja. Itupun terkadang harus diundi siapa duluan yang naik. Betapa celakanya bagi mereka yang sakit. Hanya menunggu kejaiban kalau mau sembuh,’’ sesalnya.
Selain itu, semua kendaraan di Krayan, merupakan kendaraan Malaysia, BBM juga mayoritas dipasok dari Malaysia.
Masyarakat Krayan, dihadapkan pada dilema. Satu satunya wilayah yang mereka tuju untuk menjual hasil buminya, adalah wilayah Lawas, Malaysia.
Namun, nihilnya PLBN, membuat hal tersebut illegal. Sementara di perbatasan negara ini, sudah tak asing dengan istilah Garuda di dadaku, Malaysia di perutku.
‘’Narasi yang dibangun selama ini, PLBN seakan menanti persetujuan Malaysia saja. Faktanya di Krayan, hanya ada papan yang tulisannya telah terhapus, padang rumput yang luas tanpa ada fisik bangunan,’’ tuturnya.
‘’PLBN yang menjadi gerbang utama perlintasan negara, belum terlihat kasat mata dan masih sebatas dongen, sementara masyarakat kita terus dihadapkan pada ancaman pelanggaran hukum karena melintas illegal,’’ katanya lagi.
Sampai hari ini, hasil bumi masyarakat Krayan sulit keluar, lumbung padi mereka penuh, nanas khas pegunungan Krayan dengan cita rasa yang tak kalah dengan nanas madu, tak terjual.
Bahkan durian merah, khas Desa Binuang, hanya menjadi pakan babi karena nihilnya akses jalan yang bisa dilalui dengan layak.
‘’Siapa yang harus disalahkan atas kondisi ini. Selama ini masyarakat Krayan dalam kondisi sulit dan terkunci. Kita akan sampaikan resume, kita rangkum kondisi Krayan untuk kita sampaikan ke Kementrian, semoga Presiden Prabowo mendengar ini,’’ harap Andi Muliyono. (Dzulviqor).











