NUNUKAN, infoSTI – Peristiwa kebakaran hebat melanda sebuah pondok produksi gula tebu, milik Kelompok Pekebun Tebu Laban Sakai, di Desa Pa Raye, di dataran tinggi Krayan, perbatasan RI – Malaysia, akhir November 2026 lalu.
Insiden yang terjadi sekitar pukul 02.00 Wita ini, melahap habis bangunan beserta seluruh peralatan produksi penting di dalamnya, serta berimbas pada penghasilan ekonomi masyarakat di Krayan Timur.
Untuk diketahui, Kecamatan Krayan Timur, merupakan salah satu wilayah perbatasan RI–Malaysia yang menghadapi kondisi terisolasi.
Pembangunan jalur darat seperti ruas Malinau–Krayan dan pembukaan jalan menuju desa-desa seperti Desa Wa’Yagung, belum sepenuhnya rampung, sehingga wilayah ini sering lumpuh saat musim hujan akibat jalan berlumpur dan longsor.
Minimnya konektivitas darat membuat warga sangat bergantung pada moda pesawat perintis untuk mobilitas harian dan pasokan logistik.
Keterisolasian ini berdampak langsung pada tingginya harga bahan pokok (sembako) serta kelangkaan BBM di wilayah perbatasan.
Berdasarkan laporan Pemerintah Kecamatan Krayan Timur, tertanggal 3 November 2026 yang ditandatangani oleh Camat Krayan Timur, Marjuni, total kerugian materil akibat kebakaran ini ditaksir sebesar Rp.66.490.000.
Adapun rincian kerugian yang dialami, mencakup satu unit bangunan pondok beserta material papan, balok, atap seng, dan paku senilai Rp.10,69 juta.
Selain itu, kelompok pekebun juga kehilangan aset produksi vital berupa 1 unit mesin peras tebu senilai Rp. 35 juta, 1 unit mesin rumput, 2 unit mesin chainsow, 3 buah kuali masak besar, serta 60 keping atap seng cadangan.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nunukan, Asmar, menuturkan, penyebab kebakaran, diduga kuat berasal dari api tungku memasak gula tebu.
‘’Sisa arang di tungku masak yang ditinggalkan dalam kondisi belum mati sepenuhnya, merembet, dan dengan cepat membakar bangunan pondok produksi,’’ ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (7/11/2026).
Asmar menyampaikan rasa prihatin mendalam atas musibah yang menimpa kelompok pekebun di wilayah perbatasan Krayan Timur.
“Kami telah menerima laporan musibah kebakaran pondok produksi gula tebu di Desa Pa Raye ini. Kami sangat prihatin karena kejadian ini berdampak langsung pada mata pencaharian dan sektor ekonomi produktif masyarakat lokal di sana,” kata Asmar.
Sejauh ini, BPBD Kabupaten Nunukan mulai melakukan koordinasi internal dan asesmen lebih lanjut mengenai langkah penanganan bantuan logistik atau stimulan, guna meringankan beban kerugian para korban.
Asmar juga memberikan imbauan kepada seluruh pelaku usaha perkebunan maupun masyarakat luas, agar lebih waspada terhadap potensi kelalaian yang memicu kebakaran.
Terutama bagi para pengusaha komoditas lokal yang masih menggunakan metode pembakaran tradisional atau tungku masak, agar selalu memastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan tempat produksi.
‘’Pengawasan ekstra sangat diperlukan demi mencegah kejadian serupa terulang kembali,” kata Asmar.











