Menu

Mode Gelap
PMI Nunukan Alokasikan Bantuan Senilai Rp 115 Juta Untuk Korban Gempa NTT Carut Marut Pendataan Desil di Perbatasan RI – Malaysia, Dinas Sosial Nunukan Segera Lakukan Pendataan Ulang Carut Marut Penentuan Desil, DPRD Nunukan Segera Agendakan Hering BBM Sulit Diperoleh di Sebatik, Ekonomi Masyarakat Terdampak, Banyak Rumah Dijual Untuk Menutup Utang Bank Rapat Paripurna Raperda APBD Perubahan 2026, Pendapatan Daerah Berkurang Rp 61 Miliar Silaturahmi Bersama Insan Pers Nunukan, DKISP Kaltara Perkenalkan Aplikasi ‘Viralkah’

Ekonomi

Sempat Dijual Rp 120.000/Kg, Harga Cabai di Nunukan Mulai Turun Perlahan

badge-check


					Kabid Perdagangan DKUKMPP Nunukan, Dior Frames saat melakukan cek harga pasar. Perbesar

Kabid Perdagangan DKUKMPP Nunukan, Dior Frames saat melakukan cek harga pasar.

NUNUKAN, infoSTI – Harga cabai rawit maupun cabai merah di Nunukan, Kalimantan Utara, perlahan mulai turun setelah sekitar dua minggu dibanderol Rp 120.000/Kg.

Saat ini, di sejumlah pasar tradisional, harga cabai dijual dengan harga Rp 100.000/kg, bahkan ada juga sejumlah kios yang menjualnya dengan harga Rp 90.000/kg.

‘’Kenaikan harga cabai di harga Rp 120.000 yang terjadi dua minggu terakhir mulai turun pelan pelan. Hasil pengawasan pasar kami hari ini, harga per kilogramnya masih fluktuatif. Ada yang Rp 100.000/kg dan beberapa pedagang menjual dengan harga Rp 90.000/kg,’’ ujar Kabid Perdagangan, Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Nunukan, Dior Frames, ditemui Rabu (16/9/2026).

Dior menjelaskan, cabai yang mayoritas dipasok dari wilayah Sulawesi Selatan, dalam waktu normal dijual dengan harga Rp 80.000/Kg.

Seiring terjadinya fenomena el Nino yang mengakibatkan kekeringan di wilayah penghasil, hasil panen yang dikirim ke Kabupaten Nunukan mengalami penurunan signifikan.

‘’Imbasnya pasokan kurang sementara permintaan tetap. Terjadilah hukum pasar yang berefek pada kenaikan harga cabai,’’ kata Dior.

Sampai hari ini, Kabupaten Nunukan masih bergantung dengan pasokan pangan dari luar daerah yang masuk menggunakan kapal laut.

Secara otomatis, harga kebutuhan pokok apapun, termasuk sayur mayur, akan mengacu pada dinamika pasar yang mempertimbangkan cuaca di laut, harga BBM, serta musim yang terjadi di daerah penghasil.

‘’Untuk alasan penurunan harga, saat ini hujan mulai turun. Kemungkinan tanaman cabai di Sulawesi sana juga mulai subur, sehingga produksi kembali melimpah,’’ jelasnya.

Dior selalu mengimbau pedagang pasar agar tak memanfaatkan kesempatan untuk menekan harga. Ia juga melakukan pengawasan dan sidak rutin untuk mengantisipasi permainan harga di pasar.

‘’Kita di wilayah perbatasan dan memiliki dampak signifikan ketika harga barang kebutuhan melonjak. Kami harap hal ini difahami dan mari sama sama kita mudahkan kebutuhan masyarakat,’’ kata dia.

Facebook Comments Box

Trending di Ekonomi