NUNUKAN, infoSTI – Sebuah video yang merekam ambruknya plafon SDN 004 Sebatik Tengah, Nunukan, Kalimantan Utara, menjadi perhatian masyarakat.
Peristiwa plafon ambruk, bukan kali pertama terjadi. Hampir seluruh kejadian plafon ambruk, merupakan hasil dari proyek pembangunan sekolah perbatasan Tahun 2023.
Sebuah implementasi dari agenda strategis nasional pemerintah untuk memperkuat infrastruktur pendidikan di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), dengan fokus utamanya merenovasi total atau membangun kembali sekolah-sekolah yang bangunannya sudah usang dan tidak layak di garis perbatasan negara.
‘’Plafon kelas 3 yang ambruk. Itu kemarin waktu anak anak libur sekolah karena BDR imbas kabut asap. Alhamdulillah kejadiannya waktu libur, tak terbayang kalau pas anak anak belajar,’’ ujar Kepala Sekolah SDN 004 Seo Limau, Sebatik Tengah, Sittiara Razak, dihubungi Senin (7/9/2026).
Ambruknya plafon, disebabkan oleh tetesan air hujan dari atap seng yang bocor. Rembesan air, tertampung di asbes dan menambah berat material, yang akhirnya mengendurkan baut pada rangka baja.
Ia menambahkan, rembesan air hujan juga terjadi pada plafon kelas 6, sehingga guru guru harus mengajar dalam kondisi was was dan kurang konsentrasi.
‘’Bagian yang basah di bagian kiri kelas 6. Kita geser bangku bangku murid ke kanan. Tapi tetap saja, kami tak tenang, karena kita tidak tahu kapan asbes ambruk,’’ tutur Sittiara.
Dengan kondisi tersebut, setiap guru diminta lebih awas dan waspada. Pandangan mereka lebih banyak ke bagian atap, bukan menatap muka murid muridnya untuk memastikan mereka menyerap penjelasan mata pelajaran.
‘’Tentu saja tidak tenang. Intinya kita berusaha dan waspada. Jangan sampai ada kejadian tak diinginkan kepada para murid,’’ kata Tiara.
Anggota DPRD Nunukan, Dapil Sebatik, Andre Pratama, menyayangkan kejadian tersebut. Terlebih, mayoritas kasus yang sama terjadi pada sekolah dengan penganggaran APBN.
Ia menilai, revitalisasi yang dikerjakan Kementerian PUPR terkesan asal asalan dengan material reng baja ringan ukuran kecil.
‘’Gymsum menyerap air, sehingga ketika musim hujan dan terjadi kebocoran, bisa dipastikan asbes yang menempel di rangka baja akan ambruk,’’ kata dia.
Andre mengatakan, kejadian plafon sekolah ambruk tak hanya terjadi di SDN 004 Sei Limau Sebatik, ada juga kasus serupa di SDN 004 Desa Binalasan Sebatik Barat, SDN 002 Liang Bunyu dan lainnya.
DPRD Nunukan juga sudah melakukan pemetaan sekolah dengan kondisi tersebut, dan menargetkan perbaikan pada 2027.
‘’Ada dua opsi untuk perbaikan plafon sekolah. Antara PVC atau kembali ke model lama dengan kayu dan plywood. Kalau rangka baja, kita tahu itu rentan dan tak tahan lama,’’ kata dia.











