NUNUKAN, infoSTI – Keberadaan 15 murid SDN 06 Krayan Barat, Nunukan, Kalimantan Utara di ruang kelas, sudah menjadi sebuah kebanggaan dan simbol bahwa ilmu pengetahuan masih demikian berharga.
Mencapai gedung sekolah di pelosok terluar perbatasan RI – Malaysia ini, bukan perkara mudah.
Saat musim penghujan, jalanan di dataran tinggi Krayan, menjelma lumpur tanpa bisa dilalui kendaraan, anak anak sekolah terpaksa bertelanjang kaki dan berbalut lumpur demi pendidikan.
Namun apa jadinya ketika sekolah yang mereka tuju, merupakan sebuah bangunan lapuk yang berpotensi membahayakan keselamatan mereka.
‘’Bahkan setiap mengajar, kami tak tenang karena harus mengawasi plafon papan yang kapan saja bisa runtuh, tutur Plt Kepala Sekolah SDN 06 Krayan Barat, Juen Ferson, dihubungi Senin (4/5/2026).
Semangat anak anak tersebut, kata Juen, tak boleh padam.
Anak anak murid yang sudah bersusah payah menembus jalanan berlumpur dan tetap rela bersekolah meski bangunan sekolahnya tak layak disebut sekolah, menjadi harapan bagi dunia pendidikan.
Juen menegaskan ia dan 10 guru di SDN 06 Krayan Barat, tak tega menghapus senyum ceria di bibir mereka.
Meski hanya 15 murid, mereka tetap sebuah harapan dan impian bagi berkembangnya ilmu pengetahuan di ujung negeri yang minim pembangunan.
‘Kita tetap berkewajiban mengajar mereka, jujur kami sedih melihat murid murid kami. Jadi ketika mereka mengeluh tentang kondisi sekolah, kita terus berusaha bagaimana caranya menjaga semangat mereka agar tak berhenti sekolah,’’ imbuhnya.
Tidak ada anak anak sekolah yang tak mau gedung sekolahnya megah, belajar nyaman dan mendapat fasilitas pendidikan memadai serta perhatian pemerintah untuk menunjang pembelajaran tersebut.
Sayangnya, jumlah murid yang sedikit, menjadi alasan minimnya perhatian, sehingga kondisi sekolah yang sudah sangat tak wajar, belum menjadi perhatian khusus pemerintah.
Dengan jumlah 4 murid di kelas 1, 4 murid di kelas 2, sebanyak 2 murid kelas 3, dan masing masing 1 murid untuk kelas 4 dan 6, Dana BOS yang digelontorkan pusat hanya sekitar Rp 7 juta, dan BOSDA sekitar Rp 1 juta.
Jumlah yang minim dan habis untuk pembayaran gaji serta sedikit biaya operasional.
‘’Guru guru disini kalau memang ada bagian papan yang sudah tak kuat diinjak membawa papan untuk menambal lantainya. Plafon banyak yang bocor air merembes ke dinding kayu, dan itu membuat papan lapuk dan rentan ambruk,’’ tutur Juen.

Murid SDN 06 Krayan Barat sedang serius mengikuti pelajaran. Dok.Juen Ferson.
SDN 06 Krayan Barat, dibangun sejak 1984, dan baru diperbaiki sebagian bangunannya pada 2024 melalui anggaran DAK.
Dari 6 kelas yang ada, pembangunan hanya menyasar 1 unit dengan 3 rombel, sementara ada 1 unit bangunan inpres yang sudah rusak parah, sama sekali tak tersentuh.
‘’Tapi kita tak punya tempat lain, kita ini di wilayah pelosok, jauh dari mana mana, ada sekolahan saja sudah beruntung,’’ lanjut Juen.
Juen menegaskan, apa yang ia suarakan, hanya bertujuan agar 15 murid SDN 06 Krayan Barat yang menjadi tumpuan dan harapan bagi pendidikan anak anak perbatasan negara, mendapat fasilitas layak.
Pendidikan, menjadi hak setiap warga negara, sehingga kata Juen, jika pemerintah menerapkan kebijakan jumlah murid untuk urusan operasional dan pembangunan wilayah perbatasan negara, maka daerah terpencil di ujung negeri tak akan pernah mendapat kesempatan tersebut.
Ia kembali menegaskan, dinding papan yang jebol, lantai kayu sekolah yang bergelombang dan penuh tambalan, hingga plafon yang nyaris runtuh, menjadi saksi perjuangan anak anak di Desa Long Puak, Krayan Barat yang terus berjuang demi masa depan.
Jalanan berkubang lumpur cukup dalam layaknya jalanan kerbau, tak menjadi halangan, gedung sekolah yang kapan saja bisa ambruk juga tak menyurutkan semangat mereka.
‘’Tugas kita menjaga semangat mereka. Jangan karena murid kami hanya 15 anak, hak belajar nyaman tak bisa kita dapat. Semoga kondisi ini menjadi perhatian semua pihak,’’ harapnya.











