NUNUKAN, infoSTI – Banjir rutin tahunan di Pedalaman Sembakung, Nunukan, Kalimantan Utara, tak kunjung surut sejak Senin (23/2/2026).
Data BPBD Nunukan mencatat, dari pantauan tiang ukur kedalaman sungai terakhir, air Sungai Sembakung berada pada ketinggian 4,35 meter dari kondisi normal 3 meter.
‘’Ada kenaikan debit air sebanyak 11 cm dari pantauan sebelumnya 4,24 meter,’’ ujar Camat Sembakung, Agus Arif Darmawan, melalui pesan tertulis, Sabtu (28/2/2026).
Terdapat 5 desa di Kecamatan Sembakung yang terdampak banjir paling parah, masing masing,
- Desa Atap
- Desa Tagul
- Desa Manuk Bungkul
- Desa Lubakan
- Desa Tujung (sebagian wilayah/relokasi mandiri)
Ada sekitar 1.523 KK dan 4.823 jiwa pada 5 desa tersebut.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.025 rumah yang dihuni 1.434 KK dengan 4.447 jiwa terdampak banjir.
‘’Dan sebanyak 149 rumah terendam,’’ urai Agus.
Sejumlah fasilitas umum juga terendam, antara lain,
- Pos Damkar Sembakung
- BPU Sembakung
- Gor Sembakung
- SDN 1 Sembakung
- SDN 2 Sembakung
- SDN 4 Tembelunu
- SMAN 1 Sembakung (2 Lokal kelas)
- Kantor PLN ULD Atap.
- UPT DISDIK Sembakung
- KUA Sembakung
- Koramil Sembakung
- SMPN 1 Sembakung (2 Ruang Kelas)
- Kantor Pertanian sembakung
- Pustu Tembelunu
- Posyandu Belibis Atap
- Posyandu Garuda Atap
- Masjid Jami alhidayah Atap
- SDN 006 sembakung
- Pos Dishub Sembakung
- Rumah warga
Kendati demikian, ada 5 Desa yang tak terdampak banjir, masing masing,
- Desa Tepian
- Desa Plaju
- Desa Pagar
- Desa Butas Bagu
- Desa Labuk
Pemerintah Kecamatan Sembakug, bersama Tim Gabungan dari Polsek sembakung, Koramil Sembakung ,BPBD Pos Sembakung serta unsur lainnya, intens melakukan pemantauan yang difokuskan pada Desa Atap dan sekitarnya yang merupakan wilayah terdampak paling parah.
‘’Hasil pemantauan di lapangan menunjukkan banjir masih berlangsung dan berdampak pada terganggunya sebagian aktivitas masyarakat. Warga diminta tetap siaga terhadap potensi kenaikan air,’’ kata Agus.
Untuk diketahui, banjir di wilayah perbatasan Malaysia ini berasal dari aliran Sungai Talangkai (Sepulut, Sabah) yang mengalir ke Sungai Pampangon, kemudian berlanjut ke Sungai Lagongon dan Sungai Pagalungan.
Aliran tersebut masuk ke wilayah Indonesia melalui Sungai Labang, Sungai Pensiangan, dan Sungai Sembakung di perbatasan RI–Malaysia, Kabupaten Nunukan. Banjir kiriman ini menjadi kejadian rutin tahunan.











