NUNUKAN, infoSTI – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Nunukan, Kalimantan Utara, menginisiasi Rakor cegah dini, deteksi dini, potensi Ancaman Tantangan Hambatan dan Gangguan (ATHG), jelang Natal dan Tahun Baru 2026, Selasa (23/12/2025).
Bersama para pemuka agama, satuan inteligen berbagai matra dan Aparat Penegak Hukum (APH), mereka mendiskusikan tradisi, dan kebiasaan masyarakat Nunukan dalam menyambut momen Natal dan Tahun Baru.
Para Pendeta dan Pastor, meminta APH untuk melakukan pengawasa ketat terhadap tindak perjudian, khususnya sabung ayam, pesta Miras, juga pembatasan bagi petasan.
‘’Kita ingin mengembalikan Perayaan Natal pada hakikat awal, dimana ada sebuah pesta agung untuk merayakan kelahiran Yesus Kristus. Itu tidak bisa dinodai dengan mabuk, perjudian dan tindakan yang mengganggu lainnya,’’ ujar Pendeta Timothius.
Ia menuturkan, perayaan Natal di Nunukan kerap dicemari dengan pesta Miras, yang menurutnya awal dari semua kejahatan.
Dari mabuk, penikmat Miras bisa saling cekcok dan berujung pada keributan.
‘’Potensi yang harus diwaspadai, ketika keributan terjadi kepada suku atau agama yang berbeda dengannya. Ini menjadi sebuah ancaman serius bagi kedamaian di perbatasan negara ini,’’ kata dia.
Keluhan tersebut, diamini oleh perwakilan Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) Nunukan, Pendeta Srigel.
Ia mengakui, esensi perayaan Natal telah bergeser jauh dari aturan dan norma social.
Natal yang seharusnya menjadi momen untuk ibadah, menunjukkan pengabdian diri sebagai hamba yang mengagungkan Tuhannya, justru menjadi momen yang tak bisa dibenarkan.
‘’Terus terang kami terganggu ketika ada mereka yang mabuk di jalan dengan alasan menyambut Natal. Harap Polisi mengeluarkan edaran untuk larangan Miras. Natal adalah momen refleksi diri, bukan momen mabuk mabukan,’’ tegasnya.
Imbauan tersebut juga didukung Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Nunukan.
Tak hanya mabuk Miras, perjudian khususnya sabung ayam, konvoi di malam tahun baru, juga perlu menjadi perhatian serius.
Pendeta Mika, bahkan menegaskan bahwa Al Kitab, sama sekali tidak membenarkan perbuatan mabuk mabukan, dan isi dari kitab suci Ummat Nasrani tersebut, bisa menjadi rujukan APH untuk melakukan penindakan.
‘’Kita bisa baca larangan mabuk mabukan melalui Firman Tuhan di Surat Efesus. Jadi kalau masih ragu menindak mereka yang mabuk dengan alasan menyambut Natal dan Tahun Baru, bisa pakai dalil Efesus,’’ tegasnya.
Pendeta Mika juga menegaskan, deteksi dini yang dilakukan para inteligen, harus didukung dengan antisipasi di lapangan.
Bagaimanapun, Natal bukan sekadar perayaan materi atau pesta konsumtif, melainkan panggilan momen refleksi spiritual untuk memperbarui iman dan meneguhkan ajaran kasih serta pengampunan, meneladani kehidupan sederhana Yesus.
‘’Kita berharap ada penertiban untuk sabung ayam, Miras dan pesta petasan. Kita inginkan perayaan Natal menjadi berkat bagi sesame,’’ kata dia.
Pendeta Gereja Katolik, Sogen, mengusulkan agar Ketua Forum Komunikasi Kerukunan Ummat Beragama (FKUB) Nunukan, Ustad Herman, berkenan menyambut undangan ummat Kristen di momen Natal.
‘’Indahnya toleransi ketika jemaat gereja yang akan ibadah di dalam rumah peribadatan disambut yang berpeci putih. Jadi kita ingin toleransi bukan terbatas di ucapan, tapi ada tindakan juga,’’ kata Sogen.
Undangan tersebut, disambut baik oleh Ustad Herman. Namun ada rambu rambu dalam Islam yang membatasi tak boleh ikut masuk kedalam gereja.
‘’Saya Insyaalloh akan hadir di luar gereja. Kita juga tahu di agama kami ada rambu rambu yang melarang kami ikut perayaan di dalam gereja. Jadi saya siap menyambut jemaat dan mempersilahkan mereka masuk gereja untuk ibadah Natal,’’ jawab Herman.
Kepala Bakesbangpol Nunukan, Hasan Basri Mursali menegaskan, Pemda Nunukan bersama TNI- Polri, telah menyiapkan pola operasi pengamanan terpadu seperti tahun-tahun sebelumnya, mencakup rumah ibadah, pusat keramaian, hingga jalur transportasi utama.
kesiapan tersebut menjadi fondasi penting untuk menjaga stabilitas keamanan dalam momentum libur Nataru yang biasanya diwarnai lonjakan mobilitas masyarakat.
‘’Upaya deteksi dini, kewaspadaan masyarakat, serta kerja sama lintas sektor menjadi kunci agar perayaan Nataru bisa berlangsung tanpa kendala berarti,’’ kata Hasan.











