Menu

Mode Gelap
Gaduh Narasi Wakil Bupati Nunukan Pecah Kongsi dan Mengamuk di Kantor Pemda, Begini Penjelasan Bupati Nunukan Muhammad Khoiruddin Resmi Nakhodai PERPANI Nunukan Periode 2026 – 2030 Nyaris Kolap Karena BLUD Dikorupsi, RSUD Nunukan Masih Miliki Utang Rp 16 Miliar Anggota DPRD Kaltara Temui Pertamina Tarakan, Pastikan Suplay BBM Untuk Perbatasan RI – Malaysia Lancar Jelang Idul Fitri 1447 H Hendak Kirim Paket Hemat Narkoba ke Nunukan, Pria Ini Digerebek Polisi di Dermaga Speed Boat Sebatik Pengawasan Internal, Para Perwira Polres Nunukan Lakukan Tes Urine

Ekonomi

Dorong Revitalisasi UMKM Perbatasan RI – Malaysia, Tim Pengabdian ITB kenalkan Tepung Mocaf

badge-check


					Kades Srinanti, Seimanggaris, Nunukan, Rusmini Hakim menyambut kedatangan Tim Pengabdian ITB, Dok.ITB. Perbesar

Kades Srinanti, Seimanggaris, Nunukan, Rusmini Hakim menyambut kedatangan Tim Pengabdian ITB, Dok.ITB.

NUNUKAN, infoSTI – Tim Pengabdian Masyarakat dari Institut Teknologi Bandung (ITB), berkunjung ke Desa Srinanti, Kecamatan Sei Menggaris, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, 8 – 14 Juli 2025.

Tim pengabdian ITB, diketuai oleh Dr. Tien Lastini, S. Hut., M.Si dan beranggotakan Dr. Ir. Mia Rosmiati, M.P, keduanya berasal dari Manajemen Sumber Daya Hayati (MSDH) yang merupakan bagian dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung (SITH-ITB).

Dr. Ir. Rika Alfianny, M.P dari Agroteknologi dan Bioproduk – SITH. Dr. Sri Hartati, M.Si dari Kewirausahaan dan Manajemen Teknologi – SBM.

Serta apt. Fitriani Jati Rahmania, S.Farm., Ph.D yang merupakan Farmasetika.

Tim juga didampingi oleh dua mahasiswa, Muhammad Fathih Rizieq dan Amanda, yang terlibat aktif dalam sesi pelatihan, dokumentasi, serta pendampingan UMKM di lapangan.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong penguatan ekonomi masyarakat desa melalui revitalisasi UMKM berbasis potensi lokal dan penerapan teknologi tepat guna, khususnya di wilayah perbatasan yang selama ini masih menghadapi kendala dalam pengembangan usaha,” ujar Dr.Tien Lastini.

Lastini mengatakan, Desa Srinanti, memiliki potensi besar dalam sektor pertanian, salah satunya adalah singkong sebagai bahan baku produk unggulan.

Untuk itu, tim ITB menghadirkan inovasi pengolahan singkong menjadi Tepung Mocaf (Modified Cassava Flour) sebagai alternatif pengganti tepung terigu.

Tidak berhenti pada produk mentah, pelatihan ini juga mencakup pengembangan produk turunan mocaf, seperti kue dan jajanan olahan, yang memiliki nilai jual lebih tinggi dan memperluas pasar UMKM setempat.

Tien menegaskan, melalui program ini, ITB ingin memastikan bahwa pelaku UMKM di Desa Srinanti tidak hanya mampu bertahan di tengah persaingan, tetapi juga tumbuh dan berkembang melalui peningkatan kapasitas usaha, efisiensi produksi, perluasan akses pasar, serta penguasaan strategi digital marketing.

“Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya fokus pada pelatihan teknis, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk membangun kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal,” imbuhnya.

Rangkaian kegiatan disusun secara sistematis dan mengarah langsung kebutuhan pelaku usaha.

Mulai dari pengenalan kewirausahaan, pelatihan proses pembuatan tepung mocaf, pengemasan produk, hingga sosialisasi manajemen bisnis dan strategi pemasaran digital.

Tim juga mengadakan pemotretan produk untuk branding visual serta demonstrasi pembuatan olahan mocaf, yang bertujuan agar produk bisa dipasarkan dalam bentuk yang lebih menarik dan kompetitif.

Pendekatan yang digunakan, bersifat partisipatif dan berorientasi pada keberlanjutan, dengan pelatihan dan pendampingan yang disesuaikan langsung dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakat.

Lebih dari 25 warga setempat ikut serta dalam kegiatan ini.

Melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah desa, dan masyarakat, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan UMKM yang dapat direplikasi di wilayah lain dengan potensi serupa.

Program inipun mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Desa Srinanti, yang berharap agar program sejenis dapat dilanjutkan secara berkelanjutan dan dikembangkan ke desa-desa lain.

“Harapan kami programnya tidak berhenti sampai di sini, karena desa kami masih perlu bimbingan dan pendampingan untuk perkembangan dan kemajuan desa kami,” ujar Ibu Endang, Sekretaris Desa Srinanti.

Untuk diketahui, Tepung Mocaf adalah tepung yang terbuat dari singkong yang telah dimodifikasi melalui proses fermentasi.

Tepung Mocaf, memiliki beberapa keunggulan dibandingkan tepung singkong biasa, termasuk tekstur yang lebih halus, aroma singkong yang hilang, dan warna yang lebih putih.

Mocaf juga dikenal karena kandungan seratnya yang lebih tinggi dan kemampuannya untuk menggantikan tepung terigu dalam berbagai produk makanan.

Facebook Comments Box

Trending di Ekonomi