Menu

Mode Gelap
Jembatan Sei Batang Rusak, Aktifitas Anak Sekolah Terhambat, TBS Petani Sawit Terancam Membusuk Tak Terangkut Belum Setahun Jembatan Beton di Pulau Sebatik Rusak, DPRD : Ada yang Salah Pada Perencanaannya SLB Nunukan Masih Kekurangan Guru, Fasilitas Gedung Masih Butuh Banyak Perbaikan DPRD Nunukan Minta Penanganan Banjir Pulau Sebatik Jadi Prioritas Perjuangan Petugas PLN Mengirim BBM ke PLTD Krayan, Berkubang Lumpur Dalam, Tidur di Hutan Berhari Hari Pemkab Nunukan Alokasikan Rp 3 Miliar Untuk Kredit UMKM Tanpa Bunga Dengan Target Pengembalian Maksimal 2 Tahun

Advertorial

Belum Setahun Jembatan Beton di Pulau Sebatik Rusak, DPRD : Ada yang Salah Pada Perencanaannya

badge-check


					Jembatan Sei Batang di Desa Tanjung Karang, Sebatik Induk, rusak dihantam banjir. Akses satu satunya yang menghubungkan Tanjung Karang dengan Pusat Kota Sebatik ini berimbas pada sulitnya pengangkutan hasil panen kelapa sawit, juga menjadi kendala anak anak sekolah. Dok.Hamsing. Perbesar

Jembatan Sei Batang di Desa Tanjung Karang, Sebatik Induk, rusak dihantam banjir. Akses satu satunya yang menghubungkan Tanjung Karang dengan Pusat Kota Sebatik ini berimbas pada sulitnya pengangkutan hasil panen kelapa sawit, juga menjadi kendala anak anak sekolah. Dok.Hamsing.

NUNUKAN, infoSTI – Jembatan Sungai Batang di Desa Tanjung Karang, Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, mengalami kerusakan akibat terjangan banjir.

Jembatan yang menghubungkan warga Desa Tanjung Karang dengan akses utama menuju pusat Kota Sebatik ini, tak lagi bisa dilalui kendaraan.

Bagian sayap jembatan patah, jalan menuju kota juga amblas sekitar 2 meter.

Mobil sama sekali tak bisa melewati jembatan yang dibangun pada tahun anggaran 2025 dengan APBD sekitar Rp 600 juta ini.

‘’Saat kami melihat langsung ke lapangan, motor dari arah kota harus diangkat tinggi tinggi dengan beramai ramai keatas jembatan. Jalan amblas, menjadikan jembatan beton berada di posisi lebih tinggi, sehingga orang dan barang harus dilansir,’’ ujar Anggota DPRD Nunukan Hamsing, melalui sambungan telfon, Rabu (29/7/2026).

Menurut politisi Hanura ini, ada kesalahan dalam perencanaan pembangunan jembatan beton Sungai Batang yang baru seumur hagung ini.

Terbukti sayap jembatan yang patah akibat tak mampu menahan derasnya arus sungai, belum lagi kolong jembatan yang sempit, menambah kuat tekanan arus air yang kemudian memiliki daya rusak jembatan lebih dahsyat.

‘’Seharusnya sebelum jembatan dibangun survey lokasi dulu. Tanya masyarakat bagaimana saat banjir dan lainnya. Ini belum setahun, sudah rusak begini. Mubazir APBD kita,’’ sesalnya.

Hamsing kembali menyesalkan lambatnya respon Pemerintah Daerah, khususnya Dinas Pekerjaan Umum (PU) atas kondisi dimaksud.

‘’Kadis PU-nya sulit sekali dihubungi. Kita komunikasi dengan Kabid Bina Marga, jawabannya tetap menunggu perintah Kadis. Ibarat orang sekarat, mati duluan kalau modelnya begitu,’’ sesalnya.

Sementara itu, Kades Tanjung Tanjung Karang, Faisal, juga mengakui, saat ini masyarakat sudah mulai kasak kusuk dan mempertanyakan lambannya respon Pemkab Nunukan menyikapi rusaknya jembatan.

‘’Saya dan Pak Camat sudah mencoba menenangkan masyarakat. Kita minta tunggu dulu dua sampai tiga hari lagi. Jawaban Dinas PU juga sudah kami dapat, mereka akan segera meninjau lokasi,’’ kata Faisal.

Ia juga tak membantah, waktu keberangkatan anak anak sekolah menjadi pemandangan yang menyedihkan, karena orang tua mereka harus menurunkan motor dari lantai jembatan ke jalan agar bisa melanjutkan pengantaran anaknya ke sekolah.

Begitu juga saat pulang sekolah, motor yang mereka kemudikan harus diangkat beramai ramai ke atas jembatan.

‘’Kita berharap ada tindakan cepat karena ada yang urgen, termasuk hasil panen kelapa sawit masyarakat yang terancam membusuk akibat jembatan rusak,’’ kata Faisal. (Dzulviqor).

Facebook Comments Box

Trending di Advertorial