NUNUKAN, infoSTI – Rusaknya akses jalan di dataran tinggi Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara, mulai berpengaruh pada suplay listrik.
Sulitnya menembus jalanan berlumpur di wilayah Krayan Selatan, mengakibatkan mobil pengangkut BBM untuk PLTD Long Layu dan Pa’ Upan tertanam di jalan berlumpur, kebutuhan BBM otomatis terhambat.
Alhasil, mulai hari ini, Senin (27/7/2026), suplay listrik tak lagi dinikmati masyarakat di wilayah perbatasan RI – Malaysia ini.
‘’Masyarakat mulai ngamuk ngamuk karena tidak ada pasokan listrik. Kondisi Krayan kembali ke jaman sebelum listrik masuk,’’ ujar Camat Krayan Selatan, Oktafianus Ramli, saat dihubungi.
Setiap musim penghujan, jalanan Krayan memang selalu menjadi masalah menahun yang tak kunjung ada solusi.
Lumpur tebal di hampir semua jalan utama yang menghubungkan semua wilayah di Krayan, menenggelamkan separuh badan mobil gardan ganda.
Para supir, kenek hingga masyarakat sekitar selalu berupaya membersihkan lumpur secara manual, dengan cangkul.
Di sejumlah titik, masyarakat menyusun papan kayu, dibuat seolah jalur kereta demi memudahkan mobil melewati lumpur.
Namun semua usaha tersebut sia sia ketika huja terus menerus mengguyur. Lumpur semakin tebal dan semakin sulit dilalui.
‘’Sekarang akses jalan terputus total, sama sekali tak bisa dilalui. Bahkan rute Long Bawan ke PLTD yang dalam waktu normal ditempuh dua jam, harus ditempuh enam hari,’’ kata Oktafianus.
Lamanya jarak tempuh tersebut karena jalanan yang dilewati harus dicangkul dan mobil harus ditarik dengan kendaraan lain. Dalam kondisi letih, mereka terpaksa tidur di hutan. Hal ini, terjadi berhari hari.
Kondisi ini sangat menguras tenaga dan menghabiskan waktu di jalan.
‘’Kondisi Krayan selalu seperti itu setiap musim hujan. Ini listrik mulai terputus, supir mobil yang biasa angkut BBM untuk PLTD juga nyerah. Bingung juga kami harus bagaimana,’’ imbuhnya.
Selain itu, bahan kebutuhan khususnya pangan juga mulai diperoleh dengan harga mahal. Minyak goreng contohnya, kalau dalam waktu normal bisa dibel dengan harga Rp 20.000/liter, saat ini dihargai Rp 40.000/liter dan bisa naik lebih mahal lagi.
Begitu juga dengan bensin, yang biasa dibanderol dengan harga Rp 18.000/liter, kini diperoleh dengan harga mencapai Rp 50.000/liter.
‘’Masyarakar perbatasan butuh solusi atas persoalan menahun ini. Tapi kami hanya bisa berharap dan bersabar. Semoga pemerintah melihat persoalan Krayan sebagai prioritas,’’ harap Oktafianus.
Sejauh ini, Pemkab Nunukan sudah mengeluarkan status tanggap darurat pasca longsor 7 Juli 2026 yang disinyalir menjadi penyebab utama terputusnya akses jalan di wilayah Krayan Selatan.
Bahkan BNPB sudah mengalokasikan bantuan Sembako sebanyak 4 ton dengan nilai sekitar Rp 200 juta yang diterbangkan dari Bandara Nunukan ke Long Layu, Krayan Selatan.
Alokasi bantuan, dilakukan dengan beberapa kali penerbangan, dimana satu kali penerbangan, biayanya mencapai Rp 90 juta.
Sulitnya mendapatkan ekstra flight pesawat perintis yang melayani penerbangan ke Krayan, juga menjadi kendala dalam pengiriman bantuan Pemkab Nunukan ke Krayan.
Wakil Bupati Nunukan, Hermanus menegaskan, kendala penyelesaian masalah jalan di Krayan, tak bisa hanya dilakukan Pemkab Nunukan.
Apalagi, jalanan Krayan tak hanya menjadi domain Kabupaten, ada sejumlah jalan yang merupakan link Pemerintah Provinsi, bahkan link nasional.
‘’Jadi untuk penanganan Krayan, itu bukan hanya Pemkab Nunukan. Disana ada domain Provinsi bahkan nasional. Untuk itu, kita lakukan harmonisasi dan sinkronisasi. Kita usahakan selesaikan masalah Krayan bersama sama,’’ kata Hermanus.











