NUNUKAN, infoSTI – Masyarakat perbatasan RI – Malaysia di dataran tinggi Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara, mengalami paceklik ekonomi.
Akses jalan utama yang rusak dan tak berbeda dengan jalur off road, menjadi faktor mahalnya harga kebutuhan pokok di wilayah terisolir tersebut.
Gejolak timur tengah yang berimbas pada kenaikan hampir semua kebutuhan pokok dan penting, kian membuat masyarakat di pelosok RI semakin sulit.
Barang barang dalam negeri sulit diperoleh karena harus diangkut dengan pesawat, sedangkan barang barang Malaysia yang selama ini sangat membantu pemenuhan kebutuhan warga perbatasan, ikut melonjak seiring naiknya nilai kurs Ringgit.
‘’ Dengan jalan macam jalur off road di Krayan, imbasnya tentu sangat besar. Semua kebutuhan yang sudah mahal, semakin tak terjangkau,’’ ujar tokoh warga Krayan, Gat Khaleb, ditemui Senin (27/4/2026).
Gat yang juga merupakan Anggota DRPD Nunukan ini, baru kembali dari daerah konstituennya di Krayan. Ia menunjukkan sejumlah video tentang sulitnya menembus jalan utama Krayan.
Tidak ada mobil gardan ganda yang bisa sendirian melintasi jalan Lingkar yang menghubungkan 5 Kecamatan di Krayan.
Mobil mobil mencoba melaju dengan bantuan tapi seling yang ditarik mobil di depannya, atau memanfaatkan tali winch yang diikat ke pohon agar mentas dari jebakan lumpur.
Tak ada supir atau mobil dalam kondisi bersih di wilayah Krayan, semua berlumur lumpur.
Jalanan yang seharusnya bisa ditempuh tiga jam, menjadi rute berat dengan waktu tempuh dua hari. Para supir terpaksa tidur di tengah hutan.
‘’Kondisi ini sudah terjadi sejak lama sekali. Kita sudah teriak kemana mana, sampai hal yang paling ekstreme sudah kami lakukan. Wacana pindah ke Malaysia. Sampai tahap itupun belum ada respon dari pusat,’’ kata Gat lagi.
Saat ini, harga kebutuhan juga melejit dan membuat masyarakat kian menjerit. Semen yang semula bisa diperoleh dengan harga Rp 250.000/zak, kini dibanderol sekitar Rp 400.000/zak.
Tabung LPG refil Petronas Malaysia 14 Kg yang tadinya bisa didapat dengan harga Rp 350.000, melonjak di harga Rp 800.000.
‘’Jadi kalau bicara masalah jalan, aspal di Krayan itu hanya sekitar 17 Km. Itu terbagi lagi, sepanjang 14 Km di Krayan Induk, dan 3 Km di wilayah Krayan Barat. Selain itu, semua jalan di Krayan, hanya kubangan lumpur,’’ tegas Gat.
Masyarakat Krayan terus berharap kondisi tersebut berubah. Dalam kondisi yang mencekik sekalipun, warga Krayan masih tetap memiliki jiwa patriot.
Warga perbatasan RI – Malaysia yang selama ini perutnya terisi produk Malaysia karena keadaan, tak pernah berniat benar benar bergabung dengan Malaysia.
‘’Berubahnya Krayan, masalah mau atau tidak saja. Bicara prioritas pembangunan, kurang prioritas apa Krayan. Yang terjadi, arah pembangunan ini selalu menimbang arah politik. Dimana maunya kontraktor, dampak politiknya seperti apa, dan feddbacknya seperti apa,’’ sesalnya.
Padahal, membangun jalanan Krayan, tak butuh banyak anggaran. Gat memberikan contoh sebuah tahi batu yang menjadi tanah uruk di jalan Long Layu yang menghubungkan dengan wilayah Pa’Upan.
Proyek timbunan jalan dengan panjang sekitar 6 Km tersebut, sudah berusia lebih 10 tahun.
‘’Sekali lagi, membangun jalan Krayan tak perlu buang buang anggaran miliaran. Sudah ada contoh jalan yang bertahan lebih 10 tahun hanya dengan tahi batu. Jadi ini soal kemauan pemerintah, bukan masalah anggaran atau skala prioritas yang selalu menjadi alasan pembenaran,’’ tegas Gat Khaleb.











