Menu

Mode Gelap
Saat Pekik Merdeka Diteriakkan Warga Perbatasan RI – Malaysia Sambil Menanam Padi di Tengah Jalan Berlumpur Tiga Unit Rumah Guru SD di Pedalaman Sembakung Terbakar, Damkar Minta Maaf Karena Lokasi Tak Terjangkau Saat MBG Dinikmati Sejumlah Siswa Siswi Anak TKI Malaysia di Pulau Sebatik Malaysia Naikkan Harga Tiket Kapal Imbas Kenaikan Harga Minyak Dunia, Kapal Nunukan – Tawau Segera Menyusul Naikkan Tarif DPRD Kaltara Usulkan Pembentukan Tim Penyelesaian Konflik Perkebunan Tingkat Provinsi Bahas Raperda Pengelolaan Sumber Daya Air di Sungai Kayan, Arming : Harus Mensejahterakan Masyarakat di Kawasan Sungai

Kaltara

Saat Pekik Merdeka Diteriakkan Warga Perbatasan RI – Malaysia Sambil Menanam Padi di Tengah Jalan Berlumpur

badge-check


					Masyarakat Krayan menanam padi dan pohon pisang di jalan utama Krayan sebagai bentuk protes atas kondisi jalanan mereka yang tak kunjung membaik. Dok.Gat Khaleb. Perbesar

Masyarakat Krayan menanam padi dan pohon pisang di jalan utama Krayan sebagai bentuk protes atas kondisi jalanan mereka yang tak kunjung membaik. Dok.Gat Khaleb.

NUNUKAN, infoSTI – Sebuah video unggahan warga perbatasan RI – Malaysia di dataran tinggi Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara, sedang ramai disorot warga Kaltara.

Dalam video, terlihat sejumlah mobil gardan ganda yang melintasi jalanan utama dengan lumpur yang sangat tebal, kesulitan melaju.

Saking tebalnya, lumpur seakan hampir menenggelamkan badan mobil secara utuh.

Para supir kemudian mengambil cangkul, sekop dan alat alat lain demi menyingkirkan lumpur sedikit demi sedikit.

Para supir juga harus rela tidur di tengah hutan, sembari mencari solusi agar mobil mereka bisa melaju.

Di tengah usaha mereka menyingkirkan lumpur tebal, sebagian supir berinisiatif menanam padi dan pohon pisang, sembari meneriakkan kata Merdeka dengan lantang dan bersahutan.

Video tersebut, diunggah Gat Khaleb, salah satu tokoh masyarakat Krayan, dengan lokasi di jalan utama yang menghubungkan tiga kecamatan di Krayan.

‘’Itu di ruas jalan yang menjadi link atau domain provinsi. Jalan itu menghubungkan tiga kecamatan, Krayan Induk, Krayan Barat dan Krayan Selatan. Setiap musim hujan, memang selalu seperti itu kondisinya, ujar Gat Khaleb, dihubungi Jumat (13/3/2026).

Gat yang juga seorang Anggota DPRD Nunukan ini menyesalkan kinerja pejabat Kaltara, yang terkesan seenaknya sendiri tanpa memperdulikan masukan dan saran masyarakat Krayan.

Saban tahun, kata dia, anggaran pemeliharaan jalan dialokasikan untuk proyek jalan dimaksud.

Terakhir kali, anggaran pemeliharaan jalan yang kini menjadi sorotan, dialokasikan sebesar Rp 8 miliar.

‘’Tahun lalu ada anggaran Rp 8 miliar untuk pemeliharaan. Kontraktor hanya sekedar menimbun dengan tanah kering. Ini kan proyek cari uang saja namanya,’’ protesnya.

Kondisi aksen jalan di Krayan, kata Gat Khaleb, sudah sedemikian parahnya.

Ia juga mengakui, merawat Krayan, tidaklah murah dan butuh banyak anggaran.

Masyarakat perbatasan RI – Malaysia ini juga masih memelihara mimpi memiliki jalan yang mudah dilewati agar distribusi BBM, Sembako dan bahan pokok penting lain, mudah sampai ke masyarakat.

‘’Kami di Krayan tidak minta jalanan harus aspal hitam, cukup ditimbun batu, mobil bisa lewat saja. Ini juga yang disarankan masyarakat, jalanan agar diuruk pecahan pecahan batu, sehingga kendaraan tidak butuh berhari hari sampai pemukiman penduduk,’’ kata Gat.

Sayangnya, permintaan sederhana masyarakat agar alokasi anggaran pemeliharaan digunakan untuk menimbun jalanan dengan batu, tidak digubris.

Padahal, sudah ada contoh nyata, dimana timbunan batu saat proyek pemeliharaan jalan dialokasikan Pemprov Kaltara di beberapa tahun lalu, menjadikan jalanan awet hingga bertahun tahun.

‘’Maka wajar saja ada aksi tanam padi dengan teriakan kata Merdeka. Itu ekspresi kekecewaan dan protes mereka. Masyarakat Krayan berhak marah, mereka berhak kecewa dan berhak protes, kondisi mereka masih sengsara sejak Indonesia merdeka,’’ tegasnya.

Kondisi akses jalan dengan lumpur tebal, tentu menimbulkan efek domino yang juga terus menerus tak ada solusi.

Kenaikan harga Sembako dan kelangkaan, tinggal menunggu waktu. Kenaikan harga BBM yang diikuti tarif transportasi, juga dipastikan terjadi sehingga menambah derita warga Krayan.

Gat menegaskan, sebenarnya tidak butuh pejabat pintar dan hebat untuk mengatasi persoalan di Krayan.

Hanya dibutuhkan pejabat yang punya hati, dan tahu mana skala pembangunan prioritas.

‘’Selama ini masyarakat dibodohi dengan kalimat defisit anggaran. Di sisi lain ada proyek bernilai ratusan miliar mulus dikerjakan. Di perkotaan sana, masyarakat hanya butuh penambalan aspal berlubang, sementara masyarakat Krayan masih harus menggali dan menguras lumpur terus menerus. Dimana hati mereka, apa ini adil,’’ sesal Gat.

Facebook Comments Box

Trending di Kaltara