oleh

Jalan Hancur, Anak Anak Sekolah di Krayan Membawa Nasi Timbel Untuk Bekal Kerja Bakti Perbaiki Jalan

NUNUKAN, infoSTI –  Akses jalan utama di perbatasan RI – Malaysia, di dataran tinggi Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara, menjelma lumpur yang sulit dilalui masyarakat.

Kondisi yang selalu terjadi di musim penghujan tersebut, berimbas pada aktifitas warga, macetnya pasokan bahan pangan dan BBM,  dan berdampak luas pada pembangunan di wilayah ini.

‘’Anak anak sekolah di Krayan, diminta membawa nasi timbel dan air minum, untuk bekal bergotong royong memperbaiki jalan agar bisa dilewati kendaraan,’’ ujar tokoh masyarakat Krayan, Rian Antoni, ditemui Jumat (9/1/2026).

Keterlibatan anak anak sekolah dalam kerja bhakti tersebut, berawal dari keprihatinan guru yang mengaku banyak muridnya tak bisa sekolah karena rusaknya jalanan di Krayan.

Mereka melakukan rapat, dan memutuskan untuk menyebar undangan kerja bhakti melalui whatshaap.

‘’Masyarakat menyebarkan video kondisi jalanan Krayan pada dasarnya bukan ingin ini viral. Tapi lebih pada penegasan seperti inilah adanya Krayan. Betapa masyarakat tetap merah putih di tengah keterbatasan dan kondisi yang ada,’’ kata Rian.

Dalam salah satu video yang dikirimkan ke Rian, ada salah satu pelajar SMP Krayan, bernama Gilbert mengaku merasa terpanggil ketika teman temannya dari pedesaan yang jauh dari sekolah, sering terlambat, bahkan absen.

‘’Kami kasihan kalau mereka sampai sekolah lambat dan pakaiannya kotor penuh lumpur,’’ tuturnya.

Gilbert bersama para pelajar di Krayan, berharap kondisi jalan menjadi perhatian Presiden RI, Prabowo Subianto.

‘’Pak Presiden, tolong jalanan kami diaspal,’’ imbuhnya sembari meneriakkan kata merdeka.

‘’Merdeka!!!,’’ pekiknya.

Rian mengatakan, selama ini, seluruh elemen masyarakat di Krayan, selalu bekerja bakti untuk memastikan kendaraan bisa lewat.

Mereka menyusun papan dan potongan kayu yang dibuat semacam rel kereta api, agar motor atau mobil tak terbenam lumpur.

Namun kontur tanah lempung, membuat usaha tersebut tak membantu banyak.

Kendaraan yang dalam waktu normal bisa lewat dalam waktu satu sampai dua jam, harus rela menginap di hutan karena ban kendaraan yang terjebak lumpur.

Untuk mengeluarkan ban kendaraan dari jebakan lumpur, dibutuhkan mobil lain untuk menariknya keluar.

‘’Namanya lumpur, meski kita susun papan macam rel kereta api, tetap jadi licin. Banyak juga motor yang jatuh terpeleset, tapi hanya itu cara yang bisa dilakukan,’’ tutur Rian.

Rian menegaskan, jalanan yang saat ini sedang menjadi sorotan masyarakat dan banyak tersebar di media social, merupakan jalan yang menjadi domain pemerintah pusat.

Jalan di wilayah Kecamatan Krayan Timur tersebut, berada setelah bangunan jembatan yang menghubungkan Kabupaten Malinau – Krayan, yang merupakan proyek strategis nasional.

Pada 2025 lalu, Kementrian Keuangan, telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 150 miliar untuk pembangunan jembatan yang menghubungkan Malinau – Krayan, yang sekaligus bertujuan membuka keterisoliran Krayan.

Sebagaimana diketahui, wilayah Krayan selama ini hanya bisa dijangkau dengan pesawat terbang perintis, dan mayoritas kebutuhan pangan dan bahan pokok didatangkan dari Malaysia.

‘’Jadi masyarakat berharap ada keberlanjutan pembangunan di Krayan. Jangan berhenti di pembangunan jembatan. Jalan yang selama ini menjadi tanggung jawab pusat harus berlanjut dan benar benar mengentaskan kondisi masyarakat dari akses yang sulit,’’ imbuhnya.

Rian melanjutkan, kerusakan jalan Krayan tak hanya berdampak pada kelangkaan Sembako.

Sulitnya BBM masuk, mengakibatkan pembangunan infrastruktur pemerintah terdampak.

Proyek proyek yang seharusnya sudah rampung dikerjakan, harus molor dan dilakukan addendum.

‘’Mohon dengan sangat, seluruh stake holder melihat kondisi Krayan sebagai prioritas. Masyarakat di beranda negeri selama ini menjadi benteng penjaga perbatasan negara. Saya menilai peran kami sangat layak untuk diperhatikan oleh negara kita,’’ tegasnya.