Menu

Mode Gelap
Jembatan Sei Batang Rusak, Aktifitas Anak Sekolah Terhambat, TBS Petani Sawit Terancam Membusuk Tak Terangkut Belum Setahun Jembatan Beton di Pulau Sebatik Rusak, DPRD : Ada yang Salah Pada Perencanaannya SLB Nunukan Masih Kekurangan Guru, Fasilitas Gedung Masih Butuh Banyak Perbaikan DPRD Nunukan Minta Penanganan Banjir Pulau Sebatik Jadi Prioritas Perjuangan Petugas PLN Mengirim BBM ke PLTD Krayan, Berkubang Lumpur Dalam, Tidur di Hutan Berhari Hari Pemkab Nunukan Alokasikan Rp 3 Miliar Untuk Kredit UMKM Tanpa Bunga Dengan Target Pengembalian Maksimal 2 Tahun

Advertorial

Jembatan Sei Batang Rusak, Aktifitas Anak Sekolah Terhambat, TBS Petani Sawit Terancam Membusuk Tak Terangkut

badge-check


					Kerusakan Jembatan Sei Batang di Desa Tanjung Karang, Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, yang terjadi sejak Minggu (26/7/2026) lalu, berimbas pada hasil Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit dan akses anak anak sekolah di perbatasan RI – Malaysia. Dok.Hamsing. Perbesar

Kerusakan Jembatan Sei Batang di Desa Tanjung Karang, Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, yang terjadi sejak Minggu (26/7/2026) lalu, berimbas pada hasil Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit dan akses anak anak sekolah di perbatasan RI – Malaysia. Dok.Hamsing.

NUNUKAN, infoSTI – Kerusakan Jembatan Sei Batang di Desa Tanjung Karang, Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, yang terjadi sejak Minggu (26/7/2026) lalu, berimbas pada hasil Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit dan akses anak anak sekolah di perbatasan RI – Malaysia.

Hal ini dijelaskan Anggota DPRD Nunukan, Hamsing, pasca melakukan peninjauan langsung ke lapangan.

‘’Dari hasil tinjauan lapangan, kerusakan jembatan mulai berimbas luas pada membusuknya hasil panen Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit, bahkan mengancam keberlangsungan belajar anak anak sekolah yang harus berangkat melalui jalur Sungai Batang,’’ ujarnya, dihubungi Rabu (29/7/2026).

Hamsing menuturkan, anak anak sekolah yang diantar orang tuanya, harus berhenti di bibir jembatan, sementara motornya diturunkan beramai ramai oleh masyarakat ke bawah jembatan agar bisa melanjutkan perjalanan menuju sekolah.

Begitu pula sebaliknya, ketika anak anak sekolah pulang dijemput orang tuanya, motor akan diangkat tinggi tinggi, dinaikkan ke jembatan, baru bisa melanjutkan perjalanan ke rumah.

Ia melanjutkan, sebelum keberadaan jembatan beton, dulunya di Sungai Batang memang hanya ada jembatan kayu. Kendati demikian, masyarakat tak pernah kesulitan melewati daerah tersebut.

Meski banjir melanda, dan air sampai melewati atas jembatan, masyarakat tinggal menunggu surut sebentar dan bisa melintas seperti biasa.

‘’Lah ini dibangun permanen, jembatan beton, tapi malah cepat rusak dan masyarakat rugi. Buah sawitnya bakal busuk kalau jembatan tak bisa segera dilewati. Anak sekolah juga terkendala akses jalan,’’ bebernya.

‘’Saya rasa ini urgen dan tentunya ada anggaran darurat Pemda yang bisa segera digunakan. Masyarakat juga sudah mulai resah, mereka ancang ancang urunan untuk buat jembatan darurat. Ini harus difikirkan, malu kita,’’ kata Hamsing.

Kondisi ini juga yang dipaparkan Kades Tanjung Tanjung Karang, Faisal. Saat ini masyarakat sudah mulai kasak kusuk dan mempertanyakan lambannya respon Pemkab Nunukan menyikapi rusaknya jembatan.

‘’Saya dan Pak Camat sudah mencoba menenangkan masyarakat. Kita minta tunggu dulu dua sampai tiga hari lagi. Jawaban Dinas PU juga sudah kami dapat, mereka akan segera meninjau lokasi,’’ kata Faisal.

Faisal berharap, Dinas PU segera melakukan langkah cepat untuk mengantisipasi adanya kerugian para petani yang sulit mengeluarkan TBS mereka, atau potensi anak anak sekolah yang bolos dengan alasan sulitnya menempuh akses menuju sekolah.

‘’Semoga ada tindakan cepat karena ada dampak yang urgen,’’ kata Faisal.

Facebook Comments Box

Trending di Advertorial