NUNUKAN, infoSTI – Harga LPG melon atau LPG subsidi di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, melambung tinggi hingga menyentuh Rp 70.000/tabung.
Kondisi ini mengakibatkan keluhan masyarakat dan menimbulkan kecaman dan pertanyaan terkait peran Pemda Nunukan merespon kondisi ini.
Harga LPG melon yang tidak wajar inipun sudah berkali kali menjadi pembahasan netizen di media social.
Masyarakat perbatasan RI – Malaysia ini, menuntut adanya penindakan yang menimbulkan efek jera karena penjualan sudah sangat jauh diatas HET/Harga Eceran Tertinggi.
‘’Baru baru ada yang tawarkan saya Rp 70.000. Tapi saya baru beli tabung ungu Pertamina jadi gak saya beli. Gila gilaan harga LPG melon sekarang,’’ ujar salah satu penjual kuliner di Jalan Lingkar Nunukan, Syarif, Kamis (5/3/2026).
‘’Sekarang mahal LPG, mereka tahu gas Malaysia sekarang sampai Rp 350.000 karena ringgit naik. Momennya mungkin, makanya gas melon dijual sampai Rp 70.000, malah ada yang Rp 80.000,’’ tutur Jack, seorang penjual di Pasar Jamaker.
Untuk diketahui, HET LPG melon (3 kg) di Nunukan, Kalimantan Utara, ditetapkan sebesar Rp 30.000 per tabung di tingkat pangkalan, naik dari harga sebelumnya Rp 20.000 sejak awal 2025.
Kenaikan ini dipicu pencabutan subsidi ongkos angkut kapal. Di tingkat pengecer, harga dilaporkan melambung tinggi mencapai Rp 70.000 per tabung.
Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian Setda Kabupaten Nunukan, Rohadiansyah, mengatakan, kondisi sekarang, banyak yang manfaatkan kesempatan.
‘’Terkait harga diatas ketentuan, dipastikan dari pengecer,’’ ujarnya.
Rohadiansyah mengeklaim sudah melakukan pengecekan agen dan pangkalan sejak tiga hari terakhir.
Ia juga memastikan ada penempatan petugas di setiap pangkalan, untuk mengantisipasi penjualan diatas HET.
‘’Kalau pangkalan yang menjual harga tinggi, pasti ada laporan untuk dasar penindakan,’’ tegasnya.
Rohadiansyah tidak membantah, fenomena penjualan LPG melon diatas HET, kerap terjadi, khususnya di momen momen tertentu.
Banyak pihak mencoba meraup keuntungan, terlebih saat ini, terjadi kenaikan Ringgit yang juga berimbas pada naiknya harga barang barang Malaysia di Nunukan.
Di Kabupaten Nunukan, kata Rohadiansyah, produk Malaysia masih menguasai pasar, tak terkecuali LPG Malaysia.
Selain itu, pengiriman LPG ke Nunukan yang hanya bisa melalui jalur laut, berpotensi keterlambatan ketika cuaca tidak mendukung.
Alhasil, keterlambatan distrisbusi LPG melon, membuat banyak masyarakat miskin menjual tabung gas kosong mereka, dan tetap mengandalkan LPG Malaysia ukuran 14 Kg, meskipun saat ini harganya sekitar Rp 350.000/tabung dari harga normal Rp 250.000 hingga Rp 300.000 per tabung, imbas kenaikan Ringgit.
Dengan banyaknya tabung LPG kosong yang dijual sebelumnya, banyak warga memiliki tabung LPG lebih dari satu, dan membuka usaha jual beli gas. Arah kebijakan subsidi akhirnya menjadi semrawut.
Pada akhirnya, tabung LPG melon tersebar tanpa kontrol, dan menjadikan harganya bervariasi, bahkan jauh di atas HET.
Untuk penindakan, kata Rohadiansyah, pihaknya menunggu dulu laporan hasil pengawasan di lapangan.
‘’Untuk Sidak, kami juga harus lapor pimpinan dulu karena harus melibatkan beberapa dinas terkait. Sekalian dalam waktu dekat ada kegiatan pemantauan harga dan stok barang menjelang hari raya,’’ kata dia.
Ia juga meminta masyarakat Nunukan melaporkan langsung jika ada penjualan diatas HET, karena penjualan dilakukan di tingkat pengecer yang jumlahnya sangat banyak.
‘’Mohon masyarakat lapor ke kami, kalau bisa tunjukkan lokasinya supaya kami bisa datang bersama APH untuk melakukan penindakan,’’ katanya.











