NUNUKAN, infoSTI – Bocah laki laki berusia 7 tahun, Argha Fahrezi, warga pesisir Jalan Tanjung, RT 21, Nunukan Barat, Nunukan, Kalimantan Utara, ditemukan tewas mengambang di bawah penjemuran rumput laut warga, Sabtu (14/2/2026) malam.
Bocah tersebut, sebelumnya bersama teman temannya memasang ambau (sejenis perangkap untuk kepiting) di beberapa titik penjemuran rumput laut masyarakat sekitar.
Kasi Humas Polres Nunukan, Ipda Sunarwan, menuturkan, Argha diduga kuat terpeleset dari jembatan/jalan pemukiman pesisir tempat ia tinggal.
‘’Diduga terpeleset di gelagar rumput laut. Akhirnya ditemukan warga dalam keadaan sudah tidak bernyawa di bawah jemuran rumput laut,’’ jawab Sunarwan melalui pesan tertulis, Minggu (15/2/2026).
Peristiwa tersebut, berawal saat kedua orang tua korban kebingungan mencari cari korban yang tak kunjung pulang meski waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 wita.
Tetangga korban pemilik kios yang peduli, Andi Yunus, menanyakan kepada keduanya apa gerangan yang mereka cari.
Setelah mendapat jawaban bahwa mereka mencari anaknya yang belum pulang, Andi Yunus ikut membantu melakukan pencarian.
‘’Akhirnya korban ditemukan di bawah kolong jemuran rumput laut warga dalam keadaan sudah meninggal dunia dengan posisi mengapung telungkup,’’ tutur Sunarwan.
Kedua orang tua korban langsung histeris dan berupaya melakukan berbagai upaya layaknya pertolongan darurat bagi korban tenggelam.
Namun, semua usaha tersebut sia sia, karena si bocah sudah tidak ada tanda kehidupan.
‘’Korban dilarikan ke Puskesmas dan keluarga korban mengabarkan kejadian tersebut ke Polsek Nunukan,’’ kata Sunarwan.

Sejumlah petugas polisi melakukan olah TKP di gelagar rumput laut di Jalan Tanjung, Nunukan Barat. Disinilah Argha terakhir kali dilihat oleh teman temannya. Dok.Polres Nunukan.
Kapolsek Nunukan, Iptu Barasa, memimpin anggotanya ke TKP untuk melakukan penyelidikan.
Dari sejumlah keterangan warga, sekitar pukul 17.00 wita, korban bersama empat temannya sedang memasang ambau di jemuran rumput laut warga.
Ambau tersebut, dirakit di depan rumah nenek korban, sebelum dipasang di sejumlah titik penjemuran rumput laut.
‘’Tapi menurut keterangan salah satu teman korban, saat teman temannya pergi memasang ambau, korban tidak ikut turun. Korban hanya melihat dari pinggir jemuran rumput laut,’’ lanjut Sunarwan.
‘’Kemudian pada saat menjelang magrib, teman – teman korban pulang ke rumahnya masing – masing tanpa memperhatikan posisi korban sedang duduk di jemuran rumput laut warga, karna mengira korban sudah pulang ke rumah nya,’’ imbuhnya.
Hasil penyelidikan polisi, kondisi atau struktur pinggiran jemuran rumput laut tempat korban duduk, sudah sangat rapuh.
Namun memang lokasi tersebut menjadi tempat bermain anak anak sekitar.
Selain itu, kondisi air laut pada sekitar pukul 17.00 wita, juga sedang pasang. Air mulai surut sekitar pukul 18.00 wita.
‘’Hasil olah TKP, korban diduga terpeleset jatuh saat kondisi air laut pasang. Keluarga korban menganggap kejadian ini musibah, dan tidak membuat laporan polisi,’’ kata Sunarwan lagi.











