NUNUKAN, infoSTI – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes_ Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Miskia, mengeluhkan sulitnya mendapatkan tenaga dokter, khususnya untuk wilayah pelosok pedalaman di perbatasan RI – Malaysia ini.
‘’Sudah berkali kali kita buka pengumuman perekrutan tenaga dokter kontrak. Tapi mungkin melihat geografis Nunukan, wilayah kita kurang diminati,’’ ujar Miskia, Selasa (27/1/2026).
Miskia mengatakan, wilayah pelosok Nunukan memang menjadi kendala yang butuh perhatian serius.
Kabupaten Nunukan dengan 21 Kecamatan, 232 Desa dan 8 Kelurahan, memiliki kondisi istimewa dibanding wilayah lain.
Selain Nunukan Kota dan Pulau Sebatik, wilayah lain, memiliki tantangan tersendiri untuk dijangkau, khususnya daerah yang disebut sebagai Dapil 4.
Sebagian wilayah tersebut, hanya bisa dijangkau dengan perahu kayu karena hanya memiliki akses sungai.
Masyarakat setempat harus bertaruh nyawa untuk melintasi sungai dengan tantangan arus deras dan banyaknya jiram dan batu batu besar sepanjang lajur sungai.,
Sebagian lain, hanya bisa dijangkau melalui jalur udara, dengan pesawat perintis, dan kondisi jalanan utama yang sangat buruk.
‘’Saat ini, Pemkab Nunukan berupaya benar benar menjaga keberadaan sejumlah dokter di beberapa Puskesmas yang ada,’’ kata Miskia.
Keberadaan para dokter kontrak di wilayah pedalaman, menjadi berkah tersendiri, sehingga Miskia meminta masyarakat memaklumi ketika para dokter tersebut sering terlambat datang ke Puskesmas.
Alasannya, satu Puskesmas di pedalaman, biasanya hanya ada satu dokter yang bertugas.
Mereka melayani selama 24 jam, dan tentunya tak bisa dipaksakan untuk memenuhi target waktu tersebut setiap harinya.
Penjelasan ini, sekaligus menjadi jawaban bagi aduan masyarakat Krayan, yang mengeluhkan seringnya dokter Puskesmas Long Layu, telat datang dan kurang maksimal dalam pelayanan.
‘’Selain tenaga yang kurang, akses menuju Puskesmas juga tak mudah. Dokter di Long Layu bahkan sering menginap di Puskesmas,’’ tuturnya.
”Kita beruntung ada dokter kontrak yang mau ditempatkan di pedalaman,” imbuhnya.
Miskia meminta maaf atas kondisi saat ini. Dinkes Nunukan terus berusaha untuk mencari tenaga dokter, demi memastikan pelayanan kesehatan masyarakat tetap terpenuhi.
Salah satu usaha yang dilakukan, adalah memohon para dokter kontrak yang telah habis masa kontraknya di akhir 2025, supaya mau memperpanjang kontraknya di 2026, demi masyarakat perbatasan RI – Malaysia.
‘’Mohon bersabar. Saat ini kita memang sangat kekurangan dokter. Kita juga tak berhenti berusaha mengisi kekurangan tersebut. Semoga ini juga menjadi perhatian Kemenkes RI,’’ kata Miskia.











