NUNUKAN, infoSTI – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana. mengunjungi perbatasan RI – Malaysia di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, Kamis (22/1/2026).
Dadan juga meresmikan berdirinya SPPG Tanjung Karang, sekaligus melihat langsung program MBG yang telah menjangkau pelosok negeri.
Dadan mengatakan, geografis wilayah perbatasan negara, masih memiliki permasalahan klasik menyangkut kebutuhan dan suplay bahan pangan.
Di Pulau Sebatik contohnya, hampir 90 persen Sembako, berasal dari Malaysia.
Kondisi ini, memungkinkan terjadinya fluktuasi harga Sembako ketika nilai mata uang Ringgit naik, seperti saat ini, dengan nilai tukaran Rp 4.200/RM 1 dari nominal biasa Rp 3.500/RM 1.
Lalu apakah standar harga per menu di wilayah ini tetap disamakan dengan daerah lain?
‘’Standar harga itu basisya ada. Tetapi bahan baku dan operasionalnya sepaket. Berapapun harga yang ada disini, akan diakomodir BGN sesuai tingkat kemahalan daerah,’’ ujar Dadan saat diwawancarai.
Lalu bagaimana dengan ketergantungan Pulau Sebatik dengan Sembako Malaysia?
Dadan kembali memberikan penjelasan, bahwa SPPG akan menjadi sebuah gerbang menuju kemandirian pangan.
Sejak ia menginjakkan kaki di Pulau Sebatik, ia melihat banyaknya pohon pisang dan tumbuhan kelor, yang berpotensi menjadi salah satu komponen sayur dan buah bagi menu MBG.
Ia menguraikan, standar kebutuhan pisang dalam satu SPPG, adalah 3000 pisang yang tersusun dalam sisir. Kalau masing-masing sisirnya 20, berarti 150 sisir.
Dari 150 sisir itu tersusun dalam tandan. Kalau masing-masing tandan ada 10 sisir, artinya perlu 15 tandan. Satu pohon satu tandan.
Jadi, perlu 15 pohon untuk sekali memberi makan pisang kepada penerima manfaat MBG.
Kalau dua kali, pemberian pisang, maka butuh 30 pohon pisang. Sebulan 120 pohon pisang dan setahun 1.440 pohon pisang.
‘’Jadi, satu SPPG idealnya punya 1,5 ha luas kebun pisang. Ini peluang bagi para petani untuk punya kebun pisang, karena pasti akan dibeli oleh SPPG,’’ kata dia.
Demikian juga untuk kebutuhan lauk, seperti telur, ayam, lele, hingga daun kelor yang ada di hampir semua rumah masyarakat Pulau Sebatik.
‘’Tinggal dikalikan saja. Kalau satu SPPG butuh 3000 telur, misalnya, maka dibutuhkan 3000 ayam petelur juga untuk memastikan kesediaan. Ayam butuh pakan, seperti jagung. Masyarakat bisa menanam jagung, jadi ini rangkaian yang menumbuhkan pasar baru,’’ kata Dadan.
Adapun kebutuhan pokok, seperti beras, masyarakat Pulau Sebatik, memiliki lahan pertanian luas, dan tentunya mereka tak perlu pusing menjual kemana.
‘’Saya juga sudah sampaikan kepada para naga naga di Sebatik, para orang orang yang punya modal, supaya impor sapi, memproduksi susu sendiri,’’ lanjutnya.
Rangkaian yang saling berkaitan tersebut, mewujudkan kemandirian pangan dan memperluas potensi usaha masyarakat.
Entah itu pertanian, perkebunan, peternakan, sampai perikanan.
‘’Dengan SPPG, optekernya sudah jelas bahwa BGN akan membeli seluruh produk tersebut,’’ tegasnya.
‘’(Masalah ketergantungan bahan pangan dari Malaysia), saya berharap tokoh tokoh masyarakat disini (Sebatik), terinspirasi membangun rantai pasok sendiri dan diproduksi lokal,’’ kata Dadan.











