Menu

Mode Gelap
Biaya Kirim Jauh Lebih Mahal Ketimbang Nilai Bantuan Logistik, BNPB Ditawari Pergeseran Barang Dengan Kerbau   Jerit Tangis Ibu Atlet Panjat Tebing Nunukan Mendengar Vonis Ringan Terhadap Supir Pikap yang Menewaskan Anaknya Seorang IRT di Nunukan Ditangkap Polisi Karena Berusaha Membakar Tetangga, Pelaku Ternyata ODGJ Cerita Perjalanan Warga Krayan, Dua Hari Berkendara Menembus Jalanan Lumpur Menuntut Akses Layak ke DPRD Kaltara 40 Jamaah Umroh Nunukan Menginap di Kawasan Markaziyah, An Nur Jamin Kenyamanan dan Kemudahan Ibadah Perkuat Semangat Bela Negara, 80 Kader PKS Nunukan Ikuti KEMBARA di Perbatasan RI – Malaysia

Kaltara

Komunitas LSL Mendominasi Kasus Aids di Perbatasan RI – Malaysia, Dinkes Keluarkan Warning

badge-check


					Kepala Dinas Kesehatan Nunukan, Kaltara, Hj.Miskia. Perbesar

Kepala Dinas Kesehatan Nunukan, Kaltara, Hj.Miskia.

NUNUKAN, infoSTI – Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, mengeluarkan peringatan/warning bagi orang tua yang memiliki anak laki laki agar tak terjerumus dalam pergaulan Lelaki Suka Lelaki (LSL).

Warning tersebut, berkaitan dengan sebaran kasus aids di perbatasan RI – Malaysia ini, yang mayoritas didominasi kaum LSL.

‘’Lebih 50 persen kasus aids di Nunukan berasal dari komunitas LSL. Ini yang harus kita waspadai. Orang tua, mohon lebih ketat dalam menjaga pergaulan anaknya,’’ ujar Kepala Dinas Kesehatan Nunukan, Miskia, ditemui Rabu (14/1/2026).

Dinkes Nunukan mencatat, ada penurunan kasus Aids dibanding sebelumnya. Tahun 2024, Dinkes mencatat ada 36 kasus, sementara tahun 2025, menjadi 34 kasus.

Kendati demikian, kasus yang tidak tercatat, masih sangat dimungkinkan terjadi. Apalagi, kata Miskia, banyak penderita aids yang berobat keluar Nunukan.

‘’Dan terdapat satu kasus kematian akibat aids di Tahun 2025. Itu juga laki laki dan masih usia muda,’’ imbuhnya.

Melihat dominasi LSL yang menyumbang jumlah kasus aids terbanyak, Miskia berharap peran semua pihak untuk mengantisipasi pergaulan menyimpang tersebut.

Meski komunitas LSL banyak diisi orang dewasa, namun tidak sedikit anak remaja yang mulai terbawa arus dan menjadi sasaran empuk, karena mereka termasuk kaum rentan di kalangan LSL.

Biasanya, tutur Miskia, kaum LSL mengincar pemuda belia dengan iming iming barang yang dia mau.

‘’Dengan pergaulan anak sekarang yang butuh barang branded, itu menjadi rayuan ampuh untuk menjaring anak anak remaja kita,’’ kata Miskia.

Komunitas LSL, memiliki grup khusus dengan jaringan luas, bahkan hingga luar negeri.

Layaknya merayu gadis remaja, calon korban kaum homo seksual juga dirayu dengan memberikan barang impiannya, termasuk jalan jalan dan aktifitas lain yang membuatnya senang.

‘’Setelah terjerat dengan banyaknya pemberian, biasanya sasaran akan pasrah dan menuruti kemauan orang yang selama ini menjamin dan membuatnya nyaman,’’ jelasnya.

Maka tak heran, LSL kini merambah usia pelajar, sehingga kembali pada peran orang tua dalam hal mendidik dan mengawasi pergaulan di anak.

‘’Mari kita jaga perilaku anak anak kita. Jangan sampai dengan alasan kesibukan, anak anak kita lepas dari perhatian, dan menjadi mangsa para predator seksual, hingga berakhir sebagai penderita aids,’’ imbaunya.

Warning ini, lanjutnya, menjadi sangat penting karena korban kaum homo seksual, cenderung mencari korban lainnya.

Perlakuan yang ia alami, kerap menjadi trauma psikologis yang mendorongnya untuk menjadi pelaku pelecehan seksual, jika trauma psikologis tersebut, tidak ditangani.

‘’Biasanya, korban akan mencari mangsa lain untuk pelampiasan emosinya, sehingga tidak menutup kemungkinan menjadi jalan penyebaran penyakit aids. Mari kita jaga anak anak kita,’’ kata Miskia.

Facebook Comments Box

Trending di Kaltara