Menu

Mode Gelap
Gaduh Narasi Wakil Bupati Nunukan Pecah Kongsi dan Mengamuk di Kantor Pemda, Begini Penjelasan Bupati Nunukan Muhammad Khoiruddin Resmi Nakhodai PERPANI Nunukan Periode 2026 – 2030 Nyaris Kolap Karena BLUD Dikorupsi, RSUD Nunukan Masih Miliki Utang Rp 16 Miliar Anggota DPRD Kaltara Temui Pertamina Tarakan, Pastikan Suplay BBM Untuk Perbatasan RI – Malaysia Lancar Jelang Idul Fitri 1447 H Hendak Kirim Paket Hemat Narkoba ke Nunukan, Pria Ini Digerebek Polisi di Dermaga Speed Boat Sebatik Pengawasan Internal, Para Perwira Polres Nunukan Lakukan Tes Urine

Advertorial

Program PLTS Dikebut, Puluhan Desa di Kaltara Ajukan Permohonan Listrik ke ESDM

badge-check


					Kepala Bidang (Kabid) Energi Baru Terbarukan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltara, Azis.Dok. ESDM. Perbesar

Kepala Bidang (Kabid) Energi Baru Terbarukan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltara, Azis.Dok. ESDM.

TANJUNG SELOR, infoSTI — Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) terus memacu peningkatan rasio elektrifikasi. salah satunya melalui percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dinilai paling ideal untuk kondisi geografis wilayah tersebut.

Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan Dinas ESDM Kaltara, Azis, mengatakan, posisi Kaltara yang berada dekat garis khatulistiwa, membuat paparan sinar matahari stabil sepanjang tahun, sehingga teknologi energi surya menjadi pilihan paling efektif.

Hingga kini, Pemprov Kaltara telah menerima lebih dari lima proposal dari berbagai desa, di antaranya:

  1. Desa Tagul.
  2. Desa Linsayung.
  3. Desa Buong Baru (KTT).
  4. Desa Tanjung Buka (SP 6)

“Kami menerima sejumlah proposal dari desa yang mengajukan permohonan listrik atau penerangan. Ini menunjukkan kebutuhan masyarakat sangat mendesak,” ujar Azis, Selasa (9/12/2025).

Meski berasal dari lokasi berbeda, seluruh usulan memiliki tujuan serupa: menghadirkan listrik bagi masyarakat yang belum terjangkau jaringan PLN.

“Intinya, semua proposal ini meminta pengadaan listrik. Namun belum ada detail desain atau konsep teknis yang diajukan desa,” jelas Azis.

Setelah menerima proposal dari desa-desa, tahapan selanjutnya adalah melakukan survei lokasi untuk mengetahui kondisi wilayah, akses medan, ketersediaan lahan, serta potensi energi lainnya sebelum menentukan kelayakan pembangunan PLTS.

“Survei penting agar desain sistem dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan,” tegas Azis.

PLTS Jadi Prioritas, Mikrohidro Masih Terbatas

Selain PLTS, wilayah seperti Kabupaten Malinau, sebenarnya memiliki potensi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mikro karena banyaknya aliran sungai.

Namun, menurut Azis, pembangunan mikro hidro memiliki tantangan lebih besar. Karena PLTA mikro, titik potensi air harus dekat dengan permukiman yang membutuhkan listrik.

‘’Ini sering jadi kendala. Berbeda dengan PLTS yang perangkatnya bisa ditempatkan di mana saja,” terangnya.

Azis juga mengakui, hingga kini sekitar 105 desa di Kaltara masih belum teraliri listrik.

Sementara itu, pembangunan infrastruktur elektrifikasi membutuhkan biaya yang besar, sehingga dukungan anggaran pemerintah pusat sangat diperlukan.

“Pemprov akan terus mengajukan permohonan bantuan ke pusat, baik melalui APBN maupun DAK, agar pembangunan listrik di desa-desa ini bisa dipercepat,” kata Azis.

Facebook Comments Box

Trending di Advertorial