NUNUKAN, infoSTI – Satuan Brimob Kompi 2 Batalyon B Pelopor, Polda Kaltara, membangun kembali jembatan Kampung Loudres , Desa Sungai Limau RT. 14 Kecamatan Sebatik Tengah, Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara.
Akses satu satunya yang menghubungkan jalan utama menuju Madrasah Ibtidaiyah (MI) Tapal Batas Darul Furqon ini, ambruk akibat hujan lebat yang terjadi Rabu (5/11/2025) malam lalu.
Komandan Satuan Brimob Polda Kaltara, Kombes Pol Sarly Sollu, mengatakan, pembangunan kembali jembatan, sudah mulai dilakukan sejak Selasa (2/12/2025).
Pasukan Brimob, mengawali pembangunan dengan pembuatan jembatan darurat, pembersihan puing puing jembatan dan pemancangan tiang.
‘’Pembangunan jembatan ini merupakan wujud nyata pengabdian Brimob dalam mendukung kemajuan anak anak sekolah dan masyarakat, serta menjamin keselamatan akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah perbatasan,’’ ujarnya, melalui pesan tertulis, Minggu (7/12/2025).
Dengan semangat gotong royong, masyarakat sekitar ikut bergabung dalam aksi Tim Perbaikan Jembatan Kompi 2 Batalyon B Pelopor.
Untuk diketahui, Selain menjadi akses ke MI Darul Furqon, jembatan tersebut juga digunakan para petani kelapa sawit.
“Kami berharap pembangunan ini dapat segera rampung sehingga aktivitas belajar mengajar kembali berjalan lancar,” harapnya.
Ditinjau Kapolda Kaltara
Mengingat urgensi jembatan bagi anak anak sekolah tapal batas, pembangunan jembatan tersebut, bahkan ditinjau langsung Kapolda Kaltara, Irjen Pol. Djati Wiyoto Abadhy.
Djati, memberikan apresiasi atas dedikasi dan kepedulian Satuan Brimob yang telah menunjukkan pengabdian nyata kepada masyarakat.
‘’Kehadiran Polri, khususnya Satuan Brimob, harus selalu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terlebih di wilayah perbatasan seperti Pulau Sebatik,’’ ujarnya saat melakukan kunjungan kerja ke perbatasan.
Kondisi MI Darul Furqon
Sebelumnya diberitakan, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Furqon di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, menghadapi kondisi yang semakin memprihatinkan setelah jembatan satu-satunya yang menghubungkan sekolah tersebut ambruk akibat banjir pada Rabu (5/11/2025) malam.
Sebagai solusi sementara, aparat keamanan di Pulau Sebatik bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat setempat, membangun jembatan darurat untuk mengalihkan akses menuju sekolah.
Jembatan darurat ini menembus area perkebunan, namun tetap menghadapi tantangan besar akibat kontur tanah yang berlumpur, terutama di musim penghujan saat ini.
“Kami harus menggulung celana demi melewati jalanan becek berlumpur menuju sekolah. Tapi inilah sebuah perjuangan dan pengabdian seorang guru di perbatasan,” ungkap Kepala MI Darul Furqon, Adnan Lolo, saat dihubungi.
Para siswa biasa berangkat ke sekolah di pagi buta, namun dengan kondisi jalan yang sulit dilalui, banyak dari mereka yang memilih absen dan membantu orang tua mereka bekerja di kebun kelapa sawit.
“Jalannya memang licin dan banyak anak-anak jatuh. Banyak orangtua murid mengeluh dan bertanya sampai kapan jalanan itu dilewati. Apakah jembatan tidak akan dibangun sehingga selamanya lewat jalanan jelek,” keluh Adnan.
Saat ini, MI Darul Furqon hanya memiliki 48 murid, di mana 90 persen dari mereka adalah anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia.
Mendapatkan murid untuk MI Darul Furqon bukanlah perkara mudah bagi Adnan.
Setiap tahun ajaran baru, ia harus masuk ke kamp-kamp kelapa sawit di Malaysia untuk merayu orang tua agar menyekolahkan anak mereka di MI yang dipimpinnya, meskipun dengan segala kekurangan yang ada.
“Sejak jembatan ambruk, setiap hari saya mendapat pesan dari orang tua murid yang mengeluh dan berniat memindahkan anaknya ke sekolah lain,” tambahnya.







