Menu

Mode Gelap
Gaduh Narasi Wakil Bupati Nunukan Pecah Kongsi dan Mengamuk di Kantor Pemda, Begini Penjelasan Bupati Nunukan Muhammad Khoiruddin Resmi Nakhodai PERPANI Nunukan Periode 2026 – 2030 Nyaris Kolap Karena BLUD Dikorupsi, RSUD Nunukan Masih Miliki Utang Rp 16 Miliar Anggota DPRD Kaltara Temui Pertamina Tarakan, Pastikan Suplay BBM Untuk Perbatasan RI – Malaysia Lancar Jelang Idul Fitri 1447 H Hendak Kirim Paket Hemat Narkoba ke Nunukan, Pria Ini Digerebek Polisi di Dermaga Speed Boat Sebatik Pengawasan Internal, Para Perwira Polres Nunukan Lakukan Tes Urine

Advertorial

Suara Masyarakat Perbatasan, Pemerataan Pembangunan Masih Sebatas Slogan Kosong

badge-check


					Anggota DPRD Nunukan, Gat Khaleb. Perbesar

Anggota DPRD Nunukan, Gat Khaleb.

NUNUKAN, infoSTI – Anggota DPRD Nunukan, Gat Khaleb, menyampaikan keluhan masyarakat perbatasan RI – Malaysia di dataran tinggi Krayan, yang masih berharap adanya pemerataan pembangunan dan menagih janji membangun dari pinggiran.

Gat menilai, sampai hari ini, pemerataan pembangunan masih sebatas slogan kosong karena kenyataannya pembangunan masih cenderung terpusat di perkotaan dan mengabaikan daerah terpencil yang terisolasi.

‘’Ini sangat terlihat jelas dari pembagian postur anggaran pembangunan. Kita di Krayan, hanya kebagian kecil saja dan tidak merata pastinya,’’ ujarnya, Senin (24/11/2025).

Gat menegaskan, kesenjangan terlihat jelas dalam akses infrastruktur seperti transportasi di Krayan.

Sampai hari ini, masyarakat masih harus menarik dan mendorong mobil mereka yang terjebak jalan berlumpur.

Mereka terpaksa menginap di hutan karena ban mobil tertanam dalam lubang di jalan utama, dan berimbas pada pasokan Sembako serta naiknya harga kebutuhan pokok.

‘’Sekali lagi, janji ‘pembangunan merata’ belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat di pelosok, sementara daerah lain terus berkembang,’’ tegasnya.

Fakta yang membuktikan pernyataan tersebut, bisa dilihat kasat mata.

Dari sisi pendidikan misalnya, meski ada Program Pemerintah Pendidikan Gratis, kualitas pendidikan di Krayan masih tertinggal.

Sekolah-sekolah di pedesaan kekurangan fasilitas, tenaga pengajar belum merata, dan kualitas pembelajaran belum meningkat signifikan.

‘’Pendidikan bermutu jauh lebih utama. Masyarakat kini bertanya tanya, apakah pendidikan gratis tanpa kualitas cukup untuk mencetak generasi unggul,’’ tutur Gat Khaleb.

Sementara dari sektor kesehatan, sampai hari ini masih sering masyarakat menandu orang sakit, mendaki gunung, melintasi lembah dengan berjalan kaki belasan kilometer.

‘’Fakta berbicara lebih keras, dimana janji layanan kesehatan universal tampak megah di atas kertas, tapi belum dirasakan masyarakat khususnya di pelosok perbatasan negara,’’ kata Gat.

Gat menegaskan, saatnya beralih dari kebijakan populis menuju program berkelanjutan yang menyentuh akar persoalan masyarakat.

Selain itu, janji politik seharusnya tidak berhenti di panggung kampanye.

Ia harus hidup dalam keseharian rakyat. Dalam sekolah yang bermutu, layanan kesehatan yang manusiawi, pekerjaan yang layak, harga pangan yang stabil, dan birokrasi yang benar-benar bersih.

‘’Di situlah ukuran sejati keberhasilan pemimpin. Bukan pada seberapa indah mereka berbicara, tetapi pada seberapa nyata mereka menepati kata,’’ kata Gat lagi.

Facebook Comments Box

Trending di Advertorial