NUNUKAN, infoSTI – Potret pendidikan di wilayah 3T (Tertinggal Terdepan, Terluar), kembali menyajikan cerita miris dari anak anak pedalaman yang ingin menimba ilmu.
Salah satunya di Desa Pembeliangan Kecamatan Sebuku. Masih ada anak anak kecil yang berangkat sekolah dengan mendayung sampan, melewati sungai dengan banyak buaya.
‘’Kalau difikir ini sudah tahun berapa ini, masih ada anak anak sekolah yang mendayung perahu pergi ke sekolah. Tapi itu terjadi di Dapil saya di Sebuku,’’ tutur Anggota DPRD Nunukan, Tri Wahyuni, Kamis (20/11/2025).
Anak anak SD Filial di Sebuku tersebut, biasa berangkat berkelompok dengan mendayung sampan bergantian, sebagian diantar oleh orang tuanya dengan perahu ketinting.
Sungai yang mereka lewati, dikenal rawan, karena dihuni oleh kawanan buaya buas.
‘’Kita tidak bisa banyak berbuat kalau itu. Yang mereka ingin, bisa belajar nyaman, dengan bangunan yang layak. Itulah saya pernah berikan anggaran renovasi pada 2023, dan sekolah tersebut masih butuh banyak perbaikan,’’ kata Tri Wahyuni lagi.
Jarak SD Filial Sebuku ke sekolah induk SDN 001 Sebuku, lanjut Yuyun, cukup jauh dan harus memutari perkebunan kelapa sawit.
Jalan alternative yang mudah dan cepat, memang hanya melalui sungai, dengan tantangan banyak buaya.
‘’Banyak orang tua murid juga yang memilih menyekolahkan anaknya di Satuan Pemukiman (SP) 2 Tulin Onsoi, di kecamatan lain karena pertimbangan keselamatan,’’ imbuhnya.
SD Filial Sebuku memiliki hampir 100 murid, dan hanya terdiri dari 4 kelas.
Untuk kelas 5 dan 6, anak anak tetap harus melanjutkan di SDN 001 Sebuku sebagai sekolah induk.
‘’Kita mau membuat mereka belajar nyaman dengan memastikan sarana prasarana belajarnya memadai dan layak. Kasihan mereka berangkat taruhan nyawa, tapi sampai sekolah, belajarnya tidak nyaman,’’ kata Yuyun lagi.







